
Community Rating






Cross the Line
Sinopsis Panjang Film “Cross The Line” (2022) – Produksi Indonesia
Film Cross The Line (2022) adalah drama romantis sekaligus isu sosial yang disutradarai oleh Razka Robby Ertanto, diproduksi oleh KlikFilm Productions bersama Canary Studio dan Summerland. Film ini dibintangi oleh Shenina Cinnamon sebagai Maya dan Chicco Kurniawan sebagai Haris, dua aktor muda yang menampilkan chemistry sangat kuat dan totalitas akting tinggi.Cerita berpusat pada Maya dan Haris, sepasang kekasih muda dari keluarga sederhana yang hidup dalam keterbatasan ekonomi di Indonesia. Mereka bermimpi untuk mengubah nasib dan membangun kehidupan yang lebih baik. Dengan harapan besar, keduanya memutuskan untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Singapura. Mereka mendaftar melalui jalur yang seharusnya resmi, tapi akhirnya terdampar dan bekerja di sebuah kapal kargo sebagai pekerja migran.Awalnya, mereka berdua optimis. Kapal menjadi “rumah” baru mereka, tempat mereka berusaha menabung demi masa depan bersama. Namun, realita kehidupan di kapal jauh dari bayangan. Mereka menghadapi kondisi kerja yang sangat berat, jam kerja panjang tanpa istirahat memadai, tekanan dari atasan yang kasar, serta berbagai bentuk eksploitasi yang kerap dialami pekerja migran di kapal.Lambat laun, tekanan ini mulai menggerogoti hubungan mereka. Haris, yang ingin membuktikan diri sebagai tulang punggung, semakin terjebak dalam lingkungan kerja yang keras dan mulai menunjukkan sisi gelapnya. Maya, di sisi lain, merasa semakin terisolasi, kesepian, dan kehilangan harapan. Masalah-masalah kecil berubah menjadi konflik besar: kecemburuan, salah paham, komunikasi yang buruk, hingga pertengkaran hebat yang membuat hubungan mereka retak.Film ini tidak hanya menceritakan kisah cinta yang teruji, tapi juga secara gamblang mengungkap realita kelam kehidupan pekerja migran di kapal: perdagangan manusia terselubung, penahanan paspor, upah yang tertahan, kekerasan verbal/fisik, hingga hilangnya hak asasi dasar. Semua digambarkan dengan sangat realistis, tanpa banyak efek dramatis berlebihan, sehingga terasa menyayat hati dan membuat penonton ikut merasakan keputusasaan para karakternya.Di akhir cerita, Maya dan Haris harus menghadapi pilihan sulit: apakah mereka masih bisa mempertahankan cinta di tengah badai kehidupan yang begitu kejam, atau justru harus “cross the line” (melewati batas) demi bertahan hidup, meski itu berarti mengorbankan satu sama lain. Endingnya bittersweet, meninggalkan kesan mendalam tentang betapa beratnya perjuangan orang biasa untuk sekadar hidup layak.Kecocokan sebagai Tontonan Anak?Sangat tidak cocok untuk anak-anak atau remaja di bawah umur 17 tahun.Alasan utama:
- Tema berat: eksploitasi pekerja migran, perdagangan manusia terselubung, kekerasan verbal/fisik di tempat kerja, tekanan psikologis ekstrem.
- Adegan emosional yang intens: pertengkaran hebat antar pasangan, kesedihan mendalam, keputusasaan, dan konflik yang bisa memicu rasa tidak nyaman.
- Ada unsur dewasa seperti implikasi hubungan intim pasangan (meski tidak eksplisit), serta nuansa gelap tentang realita sosial yang keras.
- Tidak ada elemen ringan, humor, atau fantasi yang biasanya disukai anak.
Film ini lebih tepat untuk dewasa muda (18+) atau orang dewasa yang ingin memahami isu sosial seperti nasib TKI, khususnya pekerja kapal. Ratingnya secara umum berada di level dewasa (mirip 17+ atau 18+), karena mengandung konten emosional yang berat dan tidak cocok untuk anak di bawah umur.Jika kamu mencari tontonan bersama keluarga termasuk anak kecil, sebaiknya pilih film lain yang lebih ringan dan positif. Namun kalau untuk diskusi orang dewasa tentang isu sosial, Cross The Line sangat powerful dan layak ditonton!
This content is restricted!
Bantu kami mengulas konten yang pernah Mama tonton. Login di sini.
Lihat Film Lain
Produk Terkait
Community Rating




