
Community Rating






Tale of The Land
Tale of the Land adalah film drama-thriller Indonesia (co-production dengan Filipina, Qatar, dan Taiwan) yang disutradarai oleh Loeloe Hendra dalam debut panjangnya. Berlatar di wilayah Kalimantan (Borneo), film ini mengisahkan perjuangan seorang gadis muda suku Dayak bernama May (diperankan oleh Shenina Cinnamon), yang telah lebih dari satu dekade tidak bisa menginjakkan kaki di daratan.
Sepuluh tahun lalu, May menyaksikan secara langsung kekerasan tragis yang menewaskan orang tuanya akibat konflik perebutan tanah adat antara masyarakat adat Dayak dengan ekspansi tambang besar-besaran yang merusak alam dan mengusir penduduk asli. May adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian tersebut. Seorang pria tua bernama Tuha (Arswendy Bening Swara), yang kemudian menjadi kakek angkatnya, menyelamatkannya dan membawanya hidup di rumah terapung sederhana di atas perairan (danau/delta sungai). Sejak saat itu, May mengalami kondisi misterius: setiap kali mencoba menginjak tanah daratan, tubuhnya langsung mengalami kejang atau pingsan. Warga desa menyebutnya sebagai kutukan atau “cursed”.
Tuha dan May menjalani kehidupan yang terisolasi di atas air. Mereka bertahan hidup dengan memelihara ayam, menangkap ikan, dan menjual kerajinan anyaman serta topi rotan di pasar terapung. Tuha sendiri memilih hidup mengasingkan diri di air karena kecewa dan trauma terhadap kerusakan besar yang dilakukan oleh proyek tambang di daratan — ia bahkan menolak segala usul May untuk pindah ke tempat lain atau kembali ke darat.
Kehidupan mereka yang tenang mulai berubah ketika May melihat seekor kerbau air yang terluka. Rasa iba yang mendalam membuatnya ingin menolong hewan itu, meskipun itu berarti harus mendekati daratan. Peristiwa ini membawanya bertemu dengan beberapa orang baru: Lawa (Angga Yunanda), pemilik kerbau tersebut, serta Yus (Yusuf Mahardika) dan Kai, para penggembala kerbau. Pertemuan ini perlahan membuka dunia luar bagi May, sekaligus membangkitkan keinginannya untuk menyembuhkan “kutukan” dan kembali ke tanah leluhur.
Sepanjang cerita, film mengungkap secara perlahan (dengan tempo lambat dan penuh simbolisme visual) akar trauma May, hubungannya dengan Tuha, serta konflik batin antara rasa takut, kerinduan akan tanah air, dan harapan untuk menyembuhkan luka masa lalu. Ada elemen fantasi ringan yang terinspirasi dari kepercayaan dan budaya Dayak, serta kritik sosial terhadap perusakan lingkungan, ekspansi tambang, dan hilangnya hak masyarakat adat. Visualnya sangat kuat dengan palet warna abu-abu yang suram, pemandangan air yang luas, serta kontras antara kehidupan tenang di air dengan ancaman destruktif di daratan (termasuk adegan dramatis kapal tambang besar yang melintas).
Film ini tayang perdana di Busan International Film Festival 2024 (New Currents) dan memenangkan FIPRESCI Award (penghargaan dari federasi kritikus film internasional) karena keberhasilannya menggabungkan visual memukau dengan isu sosial yang relevan.
Kecocokan untuk Tontonan Anak?
Tidak cocok untuk anak-anak kecil (di bawah 13 tahun) dan lebih tepat untuk remaja 15 tahun ke atas atau dewasa.
Alasan utama:
- Tema berat: kekerasan terhadap masyarakat adat (termasuk pembantaian/orang tua tewas di depan anak), trauma berat, PTSD psikologis, kehilangan keluarga, dan kritik sosial terhadap kerusakan lingkungan serta kapitalisme tambang.
- Ada adegan kekerasan (meski tidak terlalu grafis, tapi tetap mengganggu secara emosional).
- Suasana film sangat melankolis, lambat, dan penuh simbolisme — kurang engaging untuk anak yang biasanya menyukai cerita cepat, ringan, atau penuh warna.
- Rating di beberapa festival/film event: 13+ atau R-13 (remaja 13 tahun ke atas).
Film ini lebih cocok sebagai tontonan remaja dewasa atau orang dewasa yang tertarik dengan sinema arthouse Asia, isu lingkungan, budaya Dayak, dan cerita coming-of-age yang dalam. Bagi anak kecil, ceritanya terlalu berat dan bisa membingungkan atau bahkan menakutkan karena elemen trauma serta “kutukan” misteriusnya.
Jika ingin nonton bareng keluarga, sebaiknya untuk anak remaja yang sudah bisa memahami isu sosial dan siap dengan tempo film yang lambat serta emosi yang dalam.
This content is restricted!
Bantu kami mengulas konten yang pernah Mama tonton. Login di sini.
Lihat Film Lain
Produk Terkait
- Film
Moana
- Film
The Incredibles
- Film
Big Hero 6
- Film
Zootopia
Community Rating




