Photocopier (judul asli: Penyalin Cahaya) adalah film drama misteri kriminal Indonesia yang disutradarai oleh Wregas Bhanuteja dalam debut panjangnya. Film ini tayang perdana di Busan International Film Festival 2021 dan memenangkan banyak piala Citra (termasuk Film Terbaik).Cerita berpusat pada Suryani (biasa dipanggil Sur), diperankan oleh Shenina Cinnamon, seorang mahasiswi baru di sebuah universitas bergengsi yang hanya bisa kuliah berkat beasiswa karena latar belakang keluarganya sederhana dari kalangan bawah. Sur adalah gadis pendiam, rajin, dan patuh pada orang tua. Ia bergabung dengan kelompok teater kampus bernama Mata Hari yang dipimpin oleh Rama, anak orang kaya yang arogan dan punya pengaruh besar.Setelah kelompok teater memenangkan kompetisi nasional, mereka mengadakan pesta besar-besaran di rumah mewah Rama untuk merayakan kemenangan. Sur, yang awalnya berjanji pada ayahnya untuk tidak minum-minuman keras (karena latar belakang keluarga yang sangat menjaga norma agama dan moral), akhirnya menyerah pada tekanan teman sebaya dan ikut minum. Malam itu berakhir dengan Sur pingsan dan tidak ingat apa-apa yang terjadi setelahnya.Keesokan harinya, foto-foto Sur dalam keadaan mabuk dan tidak sadar beredar di media sosial kampus. Foto-foto itu dianggap memalukan dan melanggar norma moral yang ketat di lingkungan kampus serta masyarakat Indonesia yang konservatif. Akibatnya, beasiswa Sur dicabut oleh pihak fakultas, ia dikucilkan, dianggap membawa nama buruk, bahkan diusir dari rumah oleh orang tuanya sendiri yang merasa malu.Sur sangat yakin dirinya tidak sekadar mabuk biasa karena ia benar-benar tidak ingat apa pun dan merasa ada yang salah. Dengan bantuan sahabat masa kecilnya, Amin (Chicco Kurniawan), seorang pemuda miskin yang bekerja sebagai tukang fotokopi di kampus sekaligus menjalankan bisnis “sampingan” jualan skripsi ilegal, Sur mulai menyelidiki sendiri apa yang sebenarnya terjadi malam itu.Penelusuran mereka mengungkap lapisan-lapisan gelap: mulai dari dugaan pemerkosaan atau pelecehan seksual ketika Sur dalam keadaan tidak sadar, penyalahgunaan narkoba/date rape drug, manipulasi foto, penutupan kasus oleh pihak berkuasa kampus, hingga jaringan kekuasaan dan privilege anak-anak orang kaya yang selama ini dilindungi sistem. Semakin dalam mereka menggali, semakin banyak korban lain (terutama perempuan) yang muncul dengan cerita serupa, menunjukkan pola pelecehan sistematis yang ditutupi oleh kekuasaan ekonomi dan sosial.Film ini mencapai klimaks yang sangat emosional ketika Sur dan para korban lain menggunakan mesin fotokopi Amin sebagai simbol perlawanan — mereka mencetak dan menyebarkan bukti-bukti secara terbuka kepada publik kampus, memaksa kebenaran terungkap meskipun tanpa bantuan aparat hukum formal.Photocopier bukan hanya thriller misteri, tapi juga kritik tajam terhadap: - Ketimpangan kelas sosial
- Patriarki dan standar moral ganda (perempuan dihakimi keras, laki-laki berkuasa sering lolos)
- Korupsi institusi pendidikan
- Budaya victim blaming
- Kekuatan media sosial dalam mempermalukan korban
Kecocokan sebagai tontonan anak?Sangat tidak cocok untuk anak-anak dan bahkan remaja di bawah 17 tahun.Alasan utama:
- Tema utama film adalah pelecehan seksual, pemerkosaan (meski tidak ditampilkan eksplisit secara visual, tapi sangat jelas tersirat dan dibahas mendalam)
- Ada adegan minum-minuman keras, dugaan pemberian obat bius/perkosaan melalui narkoba
- Bahas kekerasan psikologis, victim blaming, dan trauma berat
- Mengandung bahasa kasar, situasi yang sangat disturbing secara emosional
- Di Indonesia diberi rating D17+ (Dewasa 17+), di Amerika TV-MA (tidak cocok untuk di bawah 17 tahun), dan di Singapura M18
Film ini lebih ditujukan untuk penonton dewasa yang siap menghadapi isu-isu berat seputar kekerasan seksual, ketidakadilan sosial, dan trauma. Bahkan untuk remaja sekalipun, sebaiknya ditonton bersama pendampingan orang tua/orang dewasa plus diskusi setelahnya, karena materinya bisa sangat triggering terutama bagi korban atau mereka yang sensitif dengan topik pelecehan.Kesimpulan: Karya yang sangat kuat, mendalam, dan berani — tapi jelas bukan tontonan untuk anak atau keluarga bersama anak kecil. Cocok untuk penonton 18+ yang ingin menonton film Indonesia berkualitas dengan pesan sosial yang penting.