Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank
blank

Pemandi Jenazah

“Pemandi Jenazah” adalah film horor Indonesia terbaru yang disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu. Film ini mengisahkan seorang perempuan pemandi jenazah yang mengalami berbagai keanehan dan menjadi saksi rentetan kematian misterius di sekitarnya. Ia kemudian berusaha memecahkan misteri yang berkaitan dengan kejadian-kejadian tersebut. Berdasarkan sentimen yang ada, film ini digambarkan cukup menyeramkan dengan atmosfer mencekam yang mampu membuat penonton merinding, bahkan hingga merasa pengap atau ingin keluar dari bioskop.
Mengenai kecocokan dengan anak, film ini termasuk dalam genre horor yang menampilkan elemen-elemen menakutkan seperti kematian, misteri, dan suasana mencekam. Hal ini biasanya tidak sesuai untuk anak-anak, terutama yang masih kecil atau sensitif terhadap konten seram. Film horor seperti ini lebih ditujukan untuk penonton dewasa atau remaja yang sudah bisa memahami dan menikmati ketegangan tanpa efek psikologis negatif. Jika Anda mempertimbangkan untuk mengajak anak menonton, sebaiknya perhatikan batasan usia yang direkomendasikan (biasanya tertera pada klasifikasi film di bioskop, seperti 13+ atau 17+) dan tingkat kenyamanan anak terhadap tema horor.

This content is restricted!

Bantu kami mengulas konten yang pernah Mama tonton. Login di sini.

Sinopsis Lengkap Film Pemandi Jenazah (2024)

Pemandi Jenazah adalah film horor Indonesia yang disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu dan ditulis oleh Lele Laila, diproduksi oleh Visual Media Studio (VMS). Dirilis pada 22 Februari 2024 di bioskop Indonesia dan kini tersedia di Netflix, film ini dibintangi Aghniny Haque (Lela), Djenar Maesa Ayu (Bu Siti), dan Ibrahim Risyad (Arif). Terinspirasi dari pengalaman nyata seorang pemandi jenazah bernama Bu Hikmah, film ini memadukan elemen horor psikologis, misteri, dan kepercayaan lokal tentang santet, dukun, dan teror gaib. Berikut adalah sinopsis terlengkapnya:

Latar Belakang dan Kehidupan Lela
Cerita berpusat pada Lela, seorang wanita muda di sebuah desa kecil yang mewarisi profesi pemandi jenazah dari ibunya, Bu Siti, seorang pemandi jenazah terhormat yang melanjutkan tradisi keluarga sejak zaman neneknya. Lela telah terlatih sejak kecil untuk memandikan jenazah dengan penuh hormat, mengikuti aturan ketat yang diajarkan Bu Siti: menjaga rahasia kondisi jenazah karena membocorkannya dianggap haram. Meski mahir, Lela merasa tertekan oleh beban emosional profesi ini dan mulai memimpikan kehidupan lain, seperti menjadi perias, yang lebih sesuai dengan minatnya. Namun, Bu Siti menentang keras keinginan Lela untuk berhenti, menekankan bahwa tugas mereka adalah amanah suci untuk mengantarkan almarhum ke peristirahatan terakhir.
Hubungan Lela dan Bu Siti penuh dinamika. Bu Siti adalah sosok tegas namun penyayang, sementara Lela berjuang menyeimbangkan kewajiban keluarga dengan keinginan pribadinya. Selain ibunya, Lela juga dekat dengan adik laki-lakinya, Arif, yang lebih bebas menjalani hidupnya namun tetap mendukung kakaknya.
Tragedi Pertama: Kematian Bu Ida dan Bu Siti
Kisah berubah mencekam ketika Bu Ida, sahabat Bu Siti, ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Lela dan Bu Siti memandikan jenazah Bu Ida, tetapi Bu Siti tampak terganggu setelah prosesi tersebut. Malam itu, ia meminta Lela membantunya membakar kain bekas pemandian jenazah, sebuah tindakan tidak biasa yang menimbulkan kecurigaan Lela. Bu Siti juga meminta Lela menemaninya tidur, seolah merasakan ancaman. Keesokan paginya, Lela menemukan ibunya telah meninggal dunia secara mendadak dengan tanda-tanda mengerikan: muntah darah dan kejang-kejang.
Kematian Bu Siti mengguncang Lela dan warga desa. Desas-desus menyebar bahwa Bu Siti menjadi korban santet, sebuah kepercayaan yang kuat di komunitas mereka. Dengan hati hancur, Lela harus memandikan jenazah ibunya sendiri, sebuah pengalaman yang traumatis. Saat memandikan tubuh Bu Siti, Lela menemukan kawat berduri tersembunyi di tubuh ibunya, sebuah petunjuk yang mengarah pada praktik santet. Penemuan ini memicu Lela untuk menyelidiki lebih lanjut, meski ia diliputi duka dan ketakutan.
Gelombang Kematian Misterius
Setelah kematian Bu Siti, desa dilanda serangkaian kematian tak wajar. Lela, kini menjadi pemandi jenazah utama, menemukan kejanggalan serupa pada setiap jenazah yang ia tangani: kawat berduri atau benda asing lainnya di tubuh mereka. Salah satu momen paling menegangkan terjadi saat jenazah yang dimandikan tiba-tiba bergerak, membuat Lela dan asistennya, seperti Ustaz Darwis, panik. Kejadian ini memperkuat dugaan Lela bahwa ada kekuatan gaib yang terlibat.
Lela mulai mengalami teror gaib yang mengerikan. Ia melihat penampakan, mendengar suara aneh, dan merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata. Salah satu adegan menyeramkan menunjukkan Lela diganggu sekelompok pocong saat ia nekat membongkar kuburan Bu Ida untuk mencari petunjuk. Teror ini tidak hanya mengancam nyawanya, tetapi juga menggoyahkan mentalnya, membuatnya mempertanyakan kewarasannya sendiri.
Penyelidikan dan Rahasia Kelam
Didorong oleh tekad untuk mengungkap kebenaran demi ibunya, Lela mulai menyelidiki kematian-kematian tersebut. Ia mencurigai bahwa kematian Bu Siti terkait dengan peristiwa masa lalu yang melibatkan Bu Nur, seorang wanita yang difitnah warga karena dituduh merebut suami orang lain. Bu Nur tewas tragis setelah dihakimi massa, dan Lela menduga seseorang membalas dendam atas kematiannya melalui santet.
Penyelidikan membawa Lela pada Rika, seorang gadis muda yang dekat dengan Arif. Lela menyelinap ke rumah Rika dan menemukan foto lama yang menunjukkan Bu Siti, Bu Ida, Bu Nur, dan warga lain, termasuk Bu Terry. Foto ini mengisyaratkan adanya rahasia kelam yang menghubungkan mereka. Lela juga mendapat petunjuk dari Bu Terry, yang mengalami kerasukan dan menyebut nama Bu Nur, memperkuat dugaan bahwa kematian-kematian ini adalah bagian dari kutukan atau balas dendam.
Saat memandikan jenazah Bu Tuti, Lela kembali menemukan kawat berduri, tetapi ia ditangkap polisi karena sebelumnya kedapatan membongkar kuburan Bu Ida. Dalam kepanikan, Lela secara impulsif menuduh Rika sebagai pelaku santet di depan warga. Tuduhan ini memicu kemarahan massa, yang menyerang Rika dan menghajinya hingga tewas, mengulang tragedi Bu Nur.
Klimaks: Kekacauan dan Pengorbanan
Situasi memburuk ketika terjadi kesurupan massal di rumah Bu Tuti, memperkuat keyakinan warga bahwa Rika adalah penyihir. Namun, Lela mendapat bisikan dari jin qorin Bu Siti, yang memintanya menghentikan amukan warga. Bersama Arif, Lela berusaha menyelamatkan Rika, tetapi massa yang histeris tidak terkendali. Dalam kekacauan, Arif ikut menjadi korban dan tewas dipukuli warga. Warga yang panik kemudian kabur, meninggalkan Lela sendirian dengan jenazah Rika dan Arif. Lela ditinggalkan dalam keputusasaan, meratapi kehilangan adiknya dan kegagalan menghentikan kekerasan.
Penutup: Kebenaran dan Refleksi
Bertahun-tahun kemudian, Lela tetap melanjutkan profesinya sebagai pemandi jenazah, men pokazkan ketabahan meski didera trauma. Saat memandikan jenazah Bu Murni, ia menemukan susuk, mengungkap bahwa Bu Murni-lah yang sebenarnya merebut suami-suami di desa, bukan Bu Nur. Penemuan ini menegaskan bahwa Bu Nur difitnah, dan kematiannya adalah akibat ketidakadilan. Film ini menutup dengan pesan kuat tentang bahaya fitnah, hukum massa, dan pentingnya memverifikasi informasi sebelum bertindak.
Atmosfer Horor dan Inspirasi Nyata
Pemandi Jenazah menonjol dengan atmosfer horor yang mencekam, didukung jumpscare, sinematografi gelap, dan musik yang mempertegas ketegangan. Elemen santet, pocong, dan kesurupan dirancang dengan merujuk pada kepercayaan lokal, menciptakan kengerian yang terasa autentik. Kisahnya terinspirasi dari pengalaman Bu Hikmah, seorang pemandi jenazah yang menemukan fenomena aneh selama 40 tahun, seperti kembang belatung pada jenazah. Elemen fiksi seperti teror gaib dan dukun menambah intensitas, menjadikan film ini perpaduan apik antara realitas dan mitos.
Pemeran dan Produksi
Selain Aghniny Haque, Djenar Maesa Ayu, dan Ibrahim Risyad, film ini menampilkan Amara Sophie (Rika), Riafinola Ifani Sari (Bu Ida), Ruth Marini (Bu Terry), Mian Tiara (Bu Tuti), dan Nelly Sukma (Bu Nur). Hadrah Daeng Ratu (Makmum, Sijjin) dan Lele Laila (KKN di Desa Penari, Danur) menghadirkan alur yang padat dan emosional. Sebagai debut VMS, film berdurasi 1 jam 47 menit ini berhasil menyajikan horor berkualitas dengan pesan sosial yang relevan.
Kesimpulan
Pemandi Jenazah adalah film horor yang memadukan ketegangan gaib, drama keluarga, dan kritik sosial. Melalui perjuangan Lela, film ini menggambarkan betapa beratnya profesi pemandi jenazah sekaligus mengungkap dampak buruk fitnah dan kekerasan massa. Dengan elemen horor yang kuat dan narasi yang menyentuh, film ini menjadi salah satu karya horor Indonesia terbaik di 2024, cocok ditonton di bioskop atau platform streaming legal seperti Netflix.

Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank