Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank
blank

Conclave

“Conclave” adalah film thriller politik tahun 2024 yang disutradarai oleh Edward Berger dan diadaptasi dari novel berjudul sama karya Robert Harris (2016). Film ini mengisahkan proses konklaf, yaitu pertemuan tertutup para kardinal Gereja Katolik untuk memilih Paus baru setelah kematian Paus sebelumnya akibat serangan jantung. Cerita berfokus pada Kardinal Thomas Lawrence (Ralph Fiennes), yang memimpin konklaf di tengah intrik politik, skandal, dan rahasia yang terungkap di antara para kardinal. Film ini menampilkan konflik ideologi, ambisi pribadi, dan dilema moral, dengan puncaknya adalah plot twist mengejutkan tentang Kardinal Benitez, yang terpilih sebagai Paus Innocent. Dibintangi oleh aktor ternama seperti Stanley Tucci, John Lithgow, dan Isabella Rossellini, “Conclave” dipuji karena naskah cerdas, sinematografi memukau, dan akting kuat. Film ini meraih banyak penghargaan, termasuk empat BAFTA 2025 dan nominasi Best Picture di Oscar 2025. Durasi film adalah dua jam, dengan rating PG-13 di beberapa wilayah karena tema dewasa dan adegan kekerasan ringan (ledakan bom).

Kecocokan dengan Anak
Film “Conclave” kurang cocok untuk anak-anak, terutama di bawah usia 13 tahun, karena beberapa alasan berikut:
  1. Tema dan Konten Dewasa: Film ini berfokus pada intrik politik, skandal (termasuk korupsi, skandal seks, dan keuangan), serta dilema moral yang kompleks, yang sulit dipahami oleh anak-anak. Tema seperti interseks (kondisi Kardinal Benitez) dan diskusi tentang intoleransi atau kekerasan dapat membingungkan atau tidak sesuai untuk penonton muda.

  2. Dialog Berat dan Driven by Narrative: “Conclave” adalah film dialogue-driven dengan percakapan yang tajam dan mendalam, yang mungkin membosankan bagi anak-anak yang lebih menyukai cerita dengan aksi visual atau hiburan ringan.

  3. Adegan Kekerasan Ringan: Meskipun tidak grafis, film ini mencakup adegan ledakan bom bunuh diri yang menyebabkan ketegangan, yang dapat mengganggu anak-anak yang sensitif.

  4. Konteks Religius yang Kompleks: Film ini menggambarkan proses konklaf dengan latar Katolik, tetapi menyajikan pandangan kritis terhadap institusi gereja, termasuk distorsi ajaran Katolik, yang dapat memicu kebingungan atau pertanyaan sulit bagi anak-anak yang belum memahami konteks agama.

Rekomendasi Usia:
  • Anak di bawah 13 tahun: Tidak direkomendasikan karena tema dewasa, dialog kompleks, dan elemen kekerasan ringan.
  • Remaja (13-17 tahun): Dapat menonton dengan bimbingan orang tua, terutama jika mereka tertarik pada drama politik atau sejarah. Orang tua disarankan mendiskusikan tema seperti politik, moralitas, dan representasi agama untuk membantu memahami konteks. Rating PG-13 mendukung panduan ini.
  • Catatan untuk Orang Tua: Jika anak menonton, diskusikan bahwa film ini fiksi, bukan representasi historis, untuk menghindari miskonsepsi tentang Gereja Katolik. Juga, jelaskan tema sensitif seperti interseks atau konflik ideologi dengan cara yang sesuai dengan usia mereka.

Alternatif untuk Anak: Untuk anak-anak, pertimbangkan film dengan tema yang lebih ringan dan sesuai usia, seperti film animasi (“Inside Out 2”) atau drama keluarga (“The Princess Diaries”) yang lebih mudah dipahami dan tidak mengandung tema berat.

This content is restricted!

Bantu kami mengulas konten yang pernah Mama tonton. Login di sini.

Sinopsis Lengkap Novel Conclave Karya Robert Harris

Conclave, novel thriller politik karya Robert Harris yang diterbitkan pada tahun 2016, mengisahkan intrik, ambisi, dan rahasia di balik proses pemilihan Paus baru dalam konklaf Vatikan setelah kematian Paus sebelumnya. Dengan latar belakang suasana sakral namun penuh ketegangan di Vatikan, novel ini menggambarkan dinamika kekuasaan, konflik moral, dan skandal yang mengguncang fondasi Gereja Katolik. Berikut adalah sinopsis terlengkap dari novel tersebut:

Latar Cerita
Cerita dimulai dengan kematian mendadak Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik, yang meninggal karena serangan jantung. Kematian ini memicu pelaksanaan konklaf, sebuah ritual kuno dan rahasia di mana para kardinal dari seluruh dunia berkumpul di Vatikan untuk memilih Paus baru. Proses ini dilakukan di Kapel Sistina, di mana para kardinal dikarantina di Domus Sanctae Marthae demi menjaga kerahasiaan dan integritas pemilihan. Novel ini berfokus pada tiga hari krusial selama konklaf berlangsung, di mana intrik politik, ambisi pribadi, dan rahasia gelap terkuak satu per satu.
Tokoh Utama
Tokoh sentral dalam novel adalah Kardinal Thomas Lomeli, seorang kardinal asal Inggris yang menjabat sebagai Dekan Dewan Kardinal. Lomeli adalah sosok yang rendah hati, penuh keraguan, dan berjuang dengan imannya sendiri. Ia bertugas memimpin konklaf, memastikan proses berjalan sesuai aturan Vatikan, dan menjaga ketertiban di tengah ketegangan antar-kardinal. Lomeli bukanlah kandidat Paus, tetapi posisinya menempatkannya di pusat badai moral dan politik saat ia mengungkap rahasia yang dapat mengguncang Gereja.
Inti Cerita
Setelah kematian Paus, Lomeli segera mempersiapkan konklaf, mengundang para kardinal dari seluruh dunia ke Roma. Novel ini memperkenalkan empat kandidat utama yang dijagokan untuk menjadi Paus, masing-masing mewakili pandangan dan faksi berbeda dalam Gereja Katolik:
  1. Kardinal Aldo Bellini (Amerika Serikat), seorang progresif yang mendukung modernisasi Gereja, tetapi khawatir akan kemunduran jika faksi radikal berkuasa.
  2. Kardinal Joshua Adeyemi (Nigeria), seorang konservatif sosial yang populer di kalangan umat Katolik di negara berkembang, tetapi memiliki pandangan kontroversial tentang isu-isu sosial.
  3. Kardinal Joseph Tremblay (Kanada), seorang moderat yang ambisius, namun memiliki reputasi yang diwarnai rumor tentang integritasnya.
  4. Kardinal Goffredo Tedesco (Italia), seorang tradisionalis yang ingin mengembalikan Gereja ke nilai-nilai konservatif dan menolak reformasi.
Saat konklaf dimulai, para kardinal terpecah menjadi faksi-faksi yang bersaing sengit, masing-masing berusaha menggalang dukungan untuk kandidat favorit mereka. Untuk terpilih sebagai Paus, seorang kardinal harus mendapatkan minimal dua pertiga suara (75 suara) dalam pemungutan suara rahasia di Kapel Sistina. Namun, proses ini jauh dari mulus. Lomeli, yang awalnya hanya ingin menjalankan tugasnya dengan netral, mulai menemukan petunjuk tentang skandal dan rahasia yang melibatkan para kandidat utama.
Konflik dan Pengungkapan Rahasia
Seiring berjalannya pemungutan suara, Lomeli mengungkap berbagai rahasia yang mengguncang integritas konklaf:
  • Skandal Keuangan: Salah satu kandidat ternyata terlibat dalam pengelolaan dana Gereja yang tidak transparan, memicu pertanyaan tentang moralitasnya.
  • Isu Pribadi: Seorang kandidat memiliki masa lalu yang kontroversial, termasuk hubungan pribadi yang dapat merusak reputasinya.
  • Konspirasi Politik: Ada indikasi bahwa beberapa kardinal melakukan perdagangan suara dan manipulasi untuk memengaruhi hasil konklaf.
  • Kematian Paus: Misteri seputar kematian Paus sebelumnya mulai terungkap, dengan petunjuk bahwa kematian tersebut mungkin tidak sepenuhnya alami.
Di tengah proses yang semakin kacau, sebuah kejadian tak terduga terjadi: munculnya Kardinal Vincent Benitez, seorang uskup muda dari Kabul, Afghanistan, yang mengaku diangkat secara rahasia oleh Paus sebelumnya. Kehadiran Benitez mengejutkan semua kardinal, karena tidak ada yang mengetahui keberadaannya sebelumnya. Benitez, yang awalnya tidak dianggap sebagai kandidat serius, mulai menarik perhatian karena sikapnya yang rendah hati dan visi yang tidak memihak.
Sementara itu, dunia luar juga memengaruhi suasana konklaf. Berita tentang kematian Paus memicu spekulasi media, dan serangan bom bunuh diri oleh ekstremis di Eropa menambah tekanan pada para kardinal untuk memilih pemimpin yang dapat menyatukan umat Katolik di tengah krisis global. Suster Agnes, seorang biarawati yang bijaksana, memainkan peran penting dengan memberikan pandangan moral kepada Lomeli, mengingatkannya akan tanggung jawab besar dari keputusan yang diambil dalam konklaf.
Klimaks dan Plot Twist
Setelah beberapa putaran pemungutan suara yang penuh ketegangan, konklaf mencapai titik kritis. Para kandidat utama gagal mendapatkan mayoritas suara karena skandal yang terungkap melemahkan posisi mereka. Dalam suasana yang semakin tegang, Lomeli berusaha mengungkap kebenaran di balik rahasia Benitez sebelum hasil akhir diumumkan. Ia menemukan bahwa Paus sebelumnya sengaja menyembunyikan identitas Benitez untuk melindungi Gereja dari potensi kontroversi.
Pada klimaks cerita, Kardinal Benitez secara mengejutkan terpilih sebagai Paus baru, mengambil nama Paus Innocent. Namun, sebelum pengumuman resmi, Lomeli menemukan rahasia besar tentang Benitez: ia lahir sebagai interseks, sebuah kondisi yang membuatnya memiliki karakteristik biologis laki-laki dan perempuan. Benitez mengungkapkan bahwa ia mengetahui kondisinya saat dewasa dan memilih untuk tidak menjalani operasi, percaya bahwa Tuhan menciptakannya sebagaimana adanya. Paus sebelumnya mengetahui hal ini dan tetap mengangkatnya sebagai kardinal, melihat Benitez sebagai simbol kerendahan hati dan pembaruan Gereja.
Lomeli dihadapkan pada dilema moral: apakah ia harus mengungkap rahasia ini, yang berpotensi mengguncang fondasi Gereja Katolik, atau menyimpannya demi menjaga stabilitas dan menghormati kepercayaan Paus sebelumnya? Pada akhirnya, Lomeli memilih untuk diam, membiarkan Paus Innocent menyapa umat Katolik dari balkon Basilika Santo Petrus sebagai pemimpin baru yang membawa harapan akan modernitas dan penebusan.
Tema Utama
Conclave mengeksplorasi sejumlah tema mendalam:
  • Kekuasaan dan Ambisi: Novel ini menggambarkan bagaimana ambisi pribadi dan intrik politik dapat merasuki bahkan institusi religius seperti Gereja Katolik.
  • Moralitas vs. Pragmatisme: Lomeli terus berjuang antara menegakkan kebenaran moral dan membuat keputusan pragmatis demi kebaikan Gereja.
  • Tradisi vs. Modernitas: Konflik antara faksi progresif dan konservatif mencerminkan tantangan Gereja dalam menghadapi dunia modern.
  • Iman dan Keraguan: Lomeli, sebagai tokoh utama, mewakili perjuangan batin antara keyakinan spiritual dan keraguan manusiawi.
  • Rahasia dan Konspirasi: Novel ini penuh dengan misteri dan plot twist yang menyoroti sisi gelap di balik proses yang dianggap sakral.
Gaya Penulisan
Robert Harris, yang dikenal dengan novel-novel sejarah dan thriller seperti Fatherland dan The Ghost Writer, menghadirkan Conclave dengan gaya narasi yang lambat namun mencekam, mirip dengan The Da Vinci Code karya Dan Brown. Dialognya tajam, penuh simbolisme, dan diimbangi dengan deskripsi visual yang kaya tentang kemegahan Vatikan. Harris berhasil menciptakan suasana tegang tanpa perlu aksi fisik, hanya dengan mengandalkan ketegangan psikologis dan drama politik.
Kesimpulan
Conclave adalah sebuah thriller politik yang cerdas dan provokatif, yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan sifat kekuasaan, iman, dan moralitas. Dengan karakter yang kompleks, alur yang penuh kejutan, dan penggambaran realistis tentang proses konklaf, novel ini berhasil menangkap esensi dari salah satu ritual paling rahasia di dunia. Puncak cerita, dengan pengungkapan identitas Paus baru, menjadi plot twist yang kontroversial namun bermakna, menyoroti isu-isu progresif seperti inklusivitas dan penerimaan dalam institusi tradisional.

Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank