Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank
blank

Onde Mande!

Sinopsis Panjang Film “Onde Mande!” (2023)
Film Onde Mande! (yang dalam bahasa Minang berarti kira-kira “Ya Ampun!” atau ekspresi kaget/heran) adalah sebuah drama komedi keluarga Indonesia yang sangat kental dengan nuansa budaya Minangkabau. Disutradarai oleh Paul Fauzan Agusta dan diproduksi oleh Visinema Pictures, film ini tayang perdana di bioskop pada 22 Juni 2023, dengan latar utama di Desa Sigiran yang indah di tepi Danau Maninjau, Sumatera Barat.Cerita berpusat pada Angku Wan (diperankan oleh Musra Dahrizal), seorang guru pensiunan yang dihormati sebagai tetua di desanya. Angku Wan hidup sederhana, keras kepala tapi sangat peduli terhadap kemajuan kampungnya. Suatu hari, keberuntungan besar datang: dia memenangkan undian/hadiah sayembara dari sebuah perusahaan sabun dengan nilai fantastis Rp2 miliar! Rencananya sudah jelas — uang itu akan dia gunakan sepenuhnya untuk membangun dan memajukan desa Sigiran yang selama ini masih tertinggal.Namun, nasib berkata lain. Tak lama setelah mengetahui kemenangannya, Angku Wan tiba-tiba meninggal dunia karena serangan jantung sebelum sempat mengklaim hadiah tersebut. Berita ini tentu saja membuat warga desa shock sekaligus panik, karena mereka tahu betul niat baik Angku Wan untuk desa.Di sinilah muncul sosok Da Am (Jose Rizal Manua), sahabat karib Angku Wan yang paling paham betul sifat dan niat mendiang. Da Am kemudian mengumpulkan warga desa dan mengusulkan sebuah rencana besar nan nekat: mereka akan berpura-pura bahwa Angku Wan masih hidup agar bisa mengklaim hadiah tersebut demi mewujudkan mimpi bersama untuk memajukan kampung. Skema ini melibatkan berbagai siasat kocak, mulai dari membuat boneka/pengganti, rekayasa komunikasi, sampai berbohong kepada pihak perusahaan.Situasi semakin rumit dan lucu ketika Anwar (Emir Mahira), perwakilan perusahaan sabun dari Jakarta, tiba-tiba datang secara mendadak ke desa untuk melakukan verifikasi pemenang. Anwar yang awalnya skeptis dan terbiasa dengan kehidupan kota harus berhadapan dengan berbagai tingkah polah warga desa yang berusaha menutupi kematian Angku Wan dengan cara-cara yang semakin absurd dan penuh kekonyolan khas Minang.Selain itu, film juga menampilkan dinamika keluarga dan hubungan antarwarga melalui karakter-karakter pendukung seperti Si Mar (Shenina Cinnamon), Hadi (Ajil Ditto), Ni Ta (Jajang C. Noer), serta berbagai warga desa lainnya. Mereka semua terlibat dalam kekacauan ini, yang pada akhirnya tidak hanya tentang uang, tapi juga tentang kekeluargaan, kejujuran, nilai-nilai adat Minang, serta bagaimana masyarakat desa menghadapi dilema moral demi kebaikan bersama.Sepanjang film, penonton disuguhi dialog-dialog berbahasa Minang yang autentik (dengan subtitle), pemandangan Danau Maninjau yang memukau, adat-istiadat Minang yang kental, serta campuran komedi situasional yang hangat dengan sentuhan drama emosional tentang kehilangan dan kebersamaan.Kecocokan sebagai Tontonan AnakFilm ini memiliki klasifikasi resmi 13+ di Indonesia (artinya tidak direkomendasikan untuk anak di bawah 13 tahun tanpa pendampingan).Kelebihan untuk anak usia remaja (13+):

  • Tema kekeluargaan dan gotong royong yang positif
  • Banyak unsur edukasi budaya Minangkabau (adat, bahasa, kehidupan desa)
  • Komedi yang relatif ringan dan lucu (lebih ke arah kekonyolan situasi daripada lelucon dewasa)
  • Pesan moral tentang niat baik, kejujuran, dan pentingnya kemajuan bersama

Alasan kurang cocok untuk anak kecil (di bawah 10–12 tahun):

  • Ada tema kematian (Angku Wan meninggal karena serangan jantung) yang cukup jelas dibahas, meski tidak terlalu dramatis atau menyeramkan
  • Plot utama melibatkan berbohong/menipu pihak perusahaan (meski niatnya baik, ini tetap dilema moral yang mungkin membingungkan anak kecil)
  • Beberapa dialog Minang dan situasi komedi mungkin terlalu kompleks atau kurang dipahami anak kecil
  • Tidak ada unsur kekerasan, seksualitas, atau bahasa kasar berat, jadi secara keseluruhan cukup aman, tapi tetap butuh pendampingan orang tua untuk menjelaskan konteks moralnya

Kesimpulan kecocokan:

  • Sangat cocok untuk remaja 13 tahun ke atas dan keluarga yang ingin memperkenalkan budaya Minang.
  • Kurang direkomendasikan untuk anak di bawah 10–12 tahun kecuali orang tua siap menjelaskan dan mendampingi, karena ada tema kematian dan kebohongan demi tujuan baik yang perlu diklarifikasi.

Film ini lebih pas dinikmati sebagai tontonan keluarga yang menghibur sekaligus memperkaya wawasan budaya Indonesia!

This content is restricted!

Bantu kami mengulas konten yang pernah Mama tonton. Login di sini.

Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank