
Community Rating






Hanya Manusia
Sinopsis Panjang Film “Hanya Manusia” (2019)
Hanya Manusia adalah film drama-aksi Indonesia produksi Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri yang dirilis pada 7 November 2019. Film ini disutradarai oleh Tepan Kobain, dengan naskah ditulis oleh Rebecca M. Bath, Monty Tiwa, dan Putri Hermansjah. Pemeran utamanya adalah Prisia Nasution sebagai Annisa, didukung Yama Carlos, Lian Firman, Shenina Cinnamon, serta aktor lain seperti Verdi Solaiman, Soleh Solihun, dan lainnya.Cerita berlatar di Jakarta yang sedang dilanda teror penculikan anak di bawah umur. Beberapa korban ditemukan dalam kondisi tragis sebagai mayat, menimbulkan kepanikan di masyarakat. Annisa (Prisia Nasution), seorang perwira muda Polri di Satuan Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, mendapat tugas berat untuk mengusut kasus ini bersama rekannya, Iptu Aryo (Lian Firman), di bawah komando Kompol Angga (Yama Carlos).Sebagai polwan yang berdedikasi, Annisa harus membagi waktu antara tugas berat di lapangan dan kehidupan pribadinya. Tekanan kerja semakin memuncak karena kasus ini terus berlanjut—hampir setiap hari ada korban baru. Situasi semakin rumit karena kasus-kasus penculikan ternyata bukan kejahatan biasa, melainkan bagian dari jaringan sindikat perdagangan manusia (human trafficking) yang sangat terorganisir dan kejam.Konflik mencapai puncaknya ketika hal terburuk terjadi pada Annisa secara pribadi: adik satu-satunya yang sangat disayanginya, Dinda (Shenina Cinnamon), menjadi salah satu korban penculikan oleh sindikat yang sama. Annisa kini berada di posisi sangat sulit—di satu sisi dia harus tetap profesional sebagai polisi yang menjunjung tinggi tugas negara, di sisi lain dia adalah kakak yang diliputi rasa khawatir, marah, dan takut kehilangan anggota keluarga terakhirnya.Film ini menggambarkan perjuangan Annisa yang berada di titik batas kemanusiaan seorang polisi: bagaimana menahan emosi pribadi demi menjalankan tugas, menghadapi sindikat kejam, serta mengungkap jaringan perdagangan manusia yang mengeksploitasi anak-anak dan remaja. Di balik aksi penyelidikan dan konfrontasi, film ini juga menonjolkan sisi humanis polisi—bahwa di balik seragam dan tugas berat, mereka hanya manusia biasa yang memiliki hati, keluarga, dan batas emosi.Tema utama film ini adalah perdagangan manusia/human trafficking, pentingnya kewaspadaan terhadap penculikan anak, serta pesan bahwa polisi juga manusia yang bisa lelah, tertekan, dan punya konflik batin.Kecocokan sebagai Tontonan AnakTidak cocok untuk anak-anak (khususnya di bawah usia 15–17 tahun). Alasan utama:
- Mengandung tema berat: penculikan anak, kematian korban (mayat ditemukan), sindikat perdagangan manusia, eksploitasi anak/remaja
- Ada adegan kekerasan, aksi konfrontasi (termasuk bela diri dan tembak-menembak)
- Suasana tegang, mencekam, dan disturbing (terutama bagian korban penculikan dan tekanan psikologis)
- Beberapa adegan menggambarkan kekejaman sindikat (meski tidak terlalu grafis, tetap tidak ramah anak)
Film ini lebih ditujukan untuk remaja akhir (17+) hingga dewasa, terutama yang ingin mengetahui isu sosial serius seperti human trafficking dan bagaimana kepolisian menanganinya. Bisa jadi edukatif untuk orang tua/remaja dewasa dalam konteks pencegahan bahaya penculikan dan perdagangan manusia, tapi sama sekali tidak direkomendasikan untuk anak kecil atau tontonan keluarga bersama anak di bawah umur.Jika ingin tontonan keluarga yang aman, lebih baik pilih film Indonesia dengan rating SU atau A yang ringan dan positif.
This content is restricted!
Bantu kami mengulas konten yang pernah Mama tonton. Login di sini.
Lihat Film Lain
Produk Terkait
Community Rating




