GEREJA SETAN

GEREJA SETAN

Sinopsis film “Gereja Setan” (2025), disutradarai oleh Daniel Tito Pakpahan, mengisahkan Ribka (Kathleen Carolyne), seorang wanita yang mengalami kehancuran hidup setelah hamil di luar nikah dan kehilangan calon suaminya, Matthew, dalam kecelakaan tragis. Orang tuanya menyuruhnya bersembunyi di luar kota untuk menutupi “aib” tersebut. Di sana, Ribka bertemu Gladys (Maddy Slinger) yang menawarkan tempat tinggal, namun justru memperkenalkannya pada Hendrik (Mongol Stres), pemimpin sekte sesat bernama Gereja Setan yang melakukan ritual gelap dan mengerikan. Ribka perlahan terseret ke dalam kegelapan tersebut, di mana ia berhadapan dengan sosok Lucifer (Jonas Rivanno) yang mengincar jiwanya sebagai “pengantin iblis”. Di tengah teror supranatural dan konflik iman, Ribka berjuang menemukan kembali harapan dan keimanan sejati, terinspirasi dari kisah nyata terkait sekte sesat.

Mengenai kecocokan sebagai tontonan anak

Film ini tidak cocok sama sekali untuk anak-anak. Sebagai film horor supranatural religi dengan elemen ritual setan, pengusiran iblis, dan tema kegelapan spiritual, ia mengandung adegan menyeramkan, kekerasan supernatural, serta diskusi sensitif seperti kehamilan di luar nikah yang bisa menimbulkan trauma atau ketakutan berlebih pada anak di bawah umur. Genre horor semacam ini umumnya ditujukan untuk penonton dewasa, mirip film-film bertema gereja dan setan lainnya yang sering dihindari untuk anak karena intensitas emosional dan visualnya.

Questions & Answers

No questions yet. Be the first to ask!

S
Screen Score Editor Review
2.0 ★★★★★

Film 'GEREJA SETAN' berkisah tentang sekelompok remaja yang penasaran dengan aliran sesat dan tanpa sengaja terlibat dalam ritual misterius. Ceritanya bergerak cepat, penuh ketegangan, dan agak menyeramkan. Untuk anak-anak, ini jelas bukan tontonan yang cocok. Adegan kekerasan dan ritual yang digambarkan cukup intens, bisa bikin mimpi buruk anak di bawah 15 tahun. Usia 16 tahun ke atas masih perlu dampingan, karena temanya gelap dan kadang bikin bingung. Pesan positif yang bisa diambil sebenarnya ada, seperti pentingnya berteman dengan orang yang tepat dan jangan mudah terpengaruh ajakan aneh. Tapi sayang, pesan ini terselip di tengah banyak adegan yang bikin merinding. Yang perlu diwaspadai: kekerasan psikologis cukup kental, ada beberapa dialog kasar (makian ringan), dan satu dua adegan merokok. Tidak ada adegan seksual atau narkoba, syukurlah. Keberagaman karakter cukup lumayan, ada latar belakang berbeda. Kesimpulannya, saya tidak merekomendasikan film ini untuk anak-anak. Untuk remaja yang sudah dewasa, masih oke dengan diskusi orang tua. Tapi kalau anak masih SD atau SMP, mending cari tontonan lain yang lebih ringan dan positif.

About Writer