{"version":"1.0","provider_name":"Screen Score","provider_url":"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/en","author_name":"Rachmadwipa Novandri","author_url":"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/en\/author\/novandri511\/","title":"Review Ulasan Terminal (2018) - Screen Score","type":"rich","width":600,"height":338,"html":"<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"F3x6EI88mj\"><a href=\"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/en\/content\/terminal-2018\/\">Terminal (2018)<\/a><\/blockquote><iframe sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" src=\"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/en\/content\/terminal-2018\/embed\/#?secret=F3x6EI88mj\" width=\"600\" height=\"338\" title=\"&#8220;Terminal (2018)&#8221; &#8212; Screen Score\" data-secret=\"F3x6EI88mj\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\" class=\"wp-embedded-content\"><\/iframe><script>\n\/*! This file is auto-generated *\/\n!function(d,l){\"use strict\";l.querySelector&&d.addEventListener&&\"undefined\"!=typeof URL&&(d.wp=d.wp||{},d.wp.receiveEmbedMessage||(d.wp.receiveEmbedMessage=function(e){var t=e.data;if((t||t.secret||t.message||t.value)&&!\/[^a-zA-Z0-9]\/.test(t.secret)){for(var s,r,n,a=l.querySelectorAll('iframe[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),o=l.querySelectorAll('blockquote[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),c=new RegExp(\"^https?:$\",\"i\"),i=0;i<o.length;i++)o[i].style.display=\"none\";for(i=0;i<a.length;i++)s=a[i],e.source===s.contentWindow&&(s.removeAttribute(\"style\"),\"height\"===t.message?(1e3<(r=parseInt(t.value,10))?r=1e3:~~r<200&&(r=200),s.height=r):\"link\"===t.message&&(r=new URL(s.getAttribute(\"src\")),n=new URL(t.value),c.test(n.protocol))&&n.host===r.host&&l.activeElement===s&&(d.top.location.href=t.value))}},d.addEventListener(\"message\",d.wp.receiveEmbedMessage,!1),l.addEventListener(\"DOMContentLoaded\",function(){for(var e,t,s=l.querySelectorAll(\"iframe.wp-embedded-content\"),r=0;r<s.length;r++)(t=(e=s[r]).getAttribute(\"data-secret\"))||(t=Math.random().toString(36).substring(2,12),e.src+=\"#?secret=\"+t,e.setAttribute(\"data-secret\",t)),e.contentWindow.postMessage({message:\"ready\",secret:t},\"*\")},!1)))}(window,document);\n\/\/# sourceURL=https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/wp-includes\/js\/wp-embed.min.js\n<\/script>","thumbnail_url":"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/MV5BOTliYzYyYTAtNzBjMy00MGE2LThmOWMtZWM1ZmI0MDE1ZjM3XkEyXkFqcGc@._V1_FMjpg_UX1000_.jpg","thumbnail_width":1000,"thumbnail_height":1481,"description":"Sinopsis Film Terminal (2018)  Terminal (2018) adalah film neo-noir thriller yang disutradarai oleh Vaughn Stein, dengan gaya visual gelap, neon-drenched, dan suasana claustrophobic yang berlatar di sebuah stasiun kereta api futuristik di malam hari di kota anonim yang suram (terinspirasi London). Film ini dibintangi Margot Robbie dalam peran ganda, Simon Pegg, Mike Myers (dalam multiple roles), Dexter Fletcher, dan Max Irons.  Cerita berpusat pada jalinan kehidupan beberapa karakter yang saling terkait dalam jaringan pembunuhan, balas dendam, dan pengkhianatan. Film dibuka dengan seorang wanita muda misterius yang bertemu dengan seorang \"majikan\" di bilik pengakuan dosa, memohon untuk dipekerjakan sebagai pembunuh bayaran eksklusifnya. Dia menawarkan bukti kemampuannya dengan cara yang ekstrem.  Di sisi lain, kita mengikuti Bill (Simon Pegg), seorang guru yang sedang sekarat karena penyakit terminal (penyakit mematikan), yang datang ke peron kereta kosong dengan niat bunuh diri. Seorang janitor (petugas kebersihan) yang pincang dan berperilaku aneh memberitahunya bahwa tidak ada kereta sampai jam 4:04 pagi, lalu menyarankan dia menunggu di kafe 24 jam di stasiun. Di sana, Bill bertemu Annie (Margot Robbie), seorang pelayan cantik dan ramah yang tampak polos, tapi sebenarnya menyimpan rahasia gelap. Annie memperhatikan kondisi Bill dan mulai berinteraksi dengannya.  Sementara itu, dua pembunuh bayaran pria (diperankan oleh Dexter Fletcher dan Max Irons) sedang menunggu instruksi untuk pekerjaan berikutnya di sebuah kamar hotel. Hubungan mereka tegang dan penuh konflik. Mereka bekerja untuk seorang bos kriminal misterius bernama Mr. Franklyn (yang awalnya disembunyikan identitasnya).  Sepanjang malam, semua karakter ini\u2014dua pembunuh pria, Annie si pelayan, Bill si guru sakit, janitor yang aneh, dan sosok bos kriminal\u2014jalur hidup mereka saling bertemu di stasiun kereta yang sepi. Annie sebenarnya menjalani kehidupan ganda: sebagai pelayan di siang hari dan penari\/stripper di klub malam, serta memiliki agenda rahasia yang jauh lebih gelap.  Twist utama dan inti cerita (mengandung spoiler besar):  Annie ternyata adalah salah satu dari kembar identik (Annie dan Bonnie, keduanya diperankan Margot Robbie). Mereka berpura-pura menjadi satu orang untuk menyusup ke dunia pembunuhan bayaran. Latar belakang tragis mereka: ibu mereka (penari di klub) dibunuh dengan dibakar hidup-hidup oleh gangster Vince atas perintah Mr. Franklyn (yang ternyata adalah janitor itu sendiri, Clinton \"Mr.\" Franklyn, bos kejam yang menyamar). Setelah kehilangan ibu, kedua saudari ini masuk panti asuhan\/sekolah asrama, di mana mereka mengalami pelecehan seksual oleh guru mereka sendiri\u2014Bill (Simon Pegg).  Bertahun-tahun kemudian, Annie\/Bonnie merencanakan balas dendam dingin dan sistematis. Mereka menyusup ke organisasi Mr. Franklyn, berpura-pura ingin menjadi pembunuh bayaran tunggalnya, dan membuat taruhan: jika mereka bisa membunuh semua anak buahnya, mereka akan mengambil alih semua kontraknya. Tapi tujuan sebenarnya adalah menghabisi setiap orang yang pernah menyakiti mereka\u2014termasuk Bill si guru pedofil, Vince si pelaku pembakaran, dan tentu saja Mr. Franklyn sendiri.  Film penuh dengan adegan kekerasan grafis (tembakan, tusukan, pemukulan, bahkan adegan lobotomi brutal), dialog bergaya noir yang penuh sarkasme, dan banyak plot twist di akhir. Gaya visualnya stylish dengan pencahayaan neon, suasana malam yang suram, dan nuansa retro-futuristik, tapi ceritanya sering dikritik karena terlalu berusaha \"keren\" dan agak berantakan.  Kecocokan dengan Tontonan Anak  Sangat tidak cocok untuk anak-anak atau remaja di bawah umur 17\u201318 tahun. Film ini jelas ditujukan untuk dewasa (audience dewasa) dan mengandung konten berat:   Kekerasan &amp; Gore: Severe (berat) \u2014 Banyak adegan pembunuhan berdarah (tembak-menembak dengan cipratan darah, tusuk dengan pena, pemukulan, pencekikan, adegan operasi lobotomi brutal dan berdarah).  Bahasa Kasar: Severe \u2014 Lebih dari 80 kali kata \"fck\", ditambah \"sht\", \"btch\", \"whre\", dan berbagai umpatan lainnya.  Sex &amp; Nudity: Moderate hingga Mild tapi eksplisit \u2014 Adegan panjang di strip club dengan penari telanjang sebagian (nampak bokong dan tubuh minim pakaian), adegan seks tersirat, ciuman panas, dan elemen seksualisasi.  Tema Dewasa: Pelecehan seksual masa kecil (child abuse\/sexual assault), pedofilia (guru yang melecehkan anak asuh), pembunuhan ibu, balas dendam sadis, bunuh diri, penyakit terminal, dan moral abu-abu.  Rating Umum: Tidak ada rating resmi MPAA (NR \/ Not Rated), tapi secara internasional sering setara R atau setara 18+ (dewasa). Situs seperti Kids-In-Mind memberi skor tinggi di violence (7\/10), language (10\/10), dan sex\/nudity (4\/10). Common Sense Media menyarankan minimal 16+ atau bahkan lebih tua.  Kesimpulan: Ini bukan film keluarga sama sekali. Jika untuk anak kecil, remaja awal, atau tontonan bersama keluarga \u2192 sangat tidak direkomendasikan. Bahkan untuk remaja 15\u201317 tahun pun sebaiknya dengan pengawasan ketat orang tua, dan lebih cocok untuk penonton dewasa yang menyukai thriller gelap bergaya noir. Jika mencari film ringan atau ramah anak, jauh lebih baik hindari film ini.  &nbsp;"}