{"version":"1.0","provider_name":"Screen Score","provider_url":"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/en","author_name":"Rachmadwipa Novandri","author_url":"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/en\/author\/novandri511\/","title":"Review Ulasan Pengepungan di Bukit Duri - Screen Score","type":"rich","width":600,"height":338,"html":"<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"IecdGwXEQb\"><a href=\"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/en\/content\/pengepungan-di-bukit-duri\/\">Siege of Bukit Duri<\/a><\/blockquote><iframe sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" src=\"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/en\/content\/pengepungan-di-bukit-duri\/embed\/#?secret=IecdGwXEQb\" width=\"600\" height=\"338\" title=\"&#8220;Pengepungan di Bukit Duri&#8221; &#8212; Screen Score\" data-secret=\"IecdGwXEQb\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\" class=\"wp-embedded-content\"><\/iframe><script>\n\/*! This file is auto-generated *\/\n!function(d,l){\"use strict\";l.querySelector&&d.addEventListener&&\"undefined\"!=typeof URL&&(d.wp=d.wp||{},d.wp.receiveEmbedMessage||(d.wp.receiveEmbedMessage=function(e){var t=e.data;if((t||t.secret||t.message||t.value)&&!\/[^a-zA-Z0-9]\/.test(t.secret)){for(var s,r,n,a=l.querySelectorAll('iframe[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),o=l.querySelectorAll('blockquote[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),c=new RegExp(\"^https?:$\",\"i\"),i=0;i<o.length;i++)o[i].style.display=\"none\";for(i=0;i<a.length;i++)s=a[i],e.source===s.contentWindow&&(s.removeAttribute(\"style\"),\"height\"===t.message?(1e3<(r=parseInt(t.value,10))?r=1e3:~~r<200&&(r=200),s.height=r):\"link\"===t.message&&(r=new URL(s.getAttribute(\"src\")),n=new URL(t.value),c.test(n.protocol))&&n.host===r.host&&l.activeElement===s&&(d.top.location.href=t.value))}},d.addEventListener(\"message\",d.wp.receiveEmbedMessage,!1),l.addEventListener(\"DOMContentLoaded\",function(){for(var e,t,s=l.querySelectorAll(\"iframe.wp-embedded-content\"),r=0;r<s.length;r++)(t=(e=s[r]).getAttribute(\"data-secret\"))||(t=Math.random().toString(36).substring(2,12),e.src+=\"#?secret=\"+t,e.setAttribute(\"data-secret\",t)),e.contentWindow.postMessage({message:\"ready\",secret:t},\"*\")},!1)))}(window,document);\n\/\/# sourceURL=https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/wp-includes\/js\/wp-embed.min.js\n<\/script>","thumbnail_url":"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/913f97ee-b789-4313-82ce-94fe55c42aeb.webp","thumbnail_width":452,"thumbnail_height":647,"description":"Film Pengepungan di Bukit Duri (The Siege at Thorn High) adalah karya terbaru sutradara Joko Anwar yang mengusung genre drama-thriller-aksi. Berlatar di Indonesia pada tahun 2027, film ini menggambarkan kondisi sosial yang genting akibat diskriminasi rasial, kebencian, dan kegagalan sistem pendidikan. Cerita berpusat pada Edwin (Morgan Oey), seorang guru pengganti keturunan Tionghoa yang idealis, yang mengajar di SMA Duri, sebuah sekolah khusus untuk siswa bermasalah, sambil mencari keponakannya yang hilang untuk memenuhi janji kepada kakaknya yang telah meninggal.  Namun, SMA Duri bukan sekolah biasa. Murid-muridnya keras, brutal, dan kerap terlibat kekerasan. Ketegangan meningkat ketika kerusuhan sosial melanda kota, mengubah sekolah menjadi medan pertempuran hidup dan mati. Edwin, dibantu guru lain bernama Diana (Hana Malasan), harus bertahan dari serangan murid-murid yang mengincar nyawa mereka. Film ini menyoroti isu-isu sosial seperti kekerasan remaja, diskriminasi, perundungan, dan ketidakadilan dalam pendidikan, dengan narasi yang intens dan penuh ketegangan. Diproduksi oleh Come and See Pictures bersama Amazon MGM Studios, film ini menampilkan aktor seperti Omara Esteghlal, Endy Arfian, dan Fatih Unru, dan tayang di bioskop mulai 17 April 2025.  Kecocokan dengan Anak Film Pengepungan di Bukit Duri tidak cocok untuk anak-anak di bawah usia 17 tahun. Film ini memiliki rating 17+ karena mengandung adegan kekerasan yang intens, bahasa kasar, dan tema-tema berat seperti diskriminasi rasial, trauma, dan konflik sosial yang kompleks. Adegan pertempuran di sekolah, pertumpahan darah, dan situasi mencekam dapat mengganggu atau menakutkan penonton muda. Selain itu, narasi yang mengeksplorasi isu sosial dan moral membutuhkan pemahaman yang lebih matang, sehingga lebih sesuai untuk remaja akhir atau dewasa.  Joko Anwar sendiri menegaskan bahwa film ini bertujuan memicu refleksi tentang kekerasan dan pendidikan, yang lebih relevan untuk penonton dewasa. Untuk anak-anak, film ini tidak direkomendasikan karena kontennya yang kelam dan potensi dampak emosional. Orang tua disarankan memilih tontonan yang lebih ringan dan sesuai usia untuk anak-anak. Jika Anda mencari rekomendasi film yang lebih cocok untuk anak-anak, silakan beri tahu rentang usia anak, dan saya bisa membantu menyarankan judul yang sesuai!"}