{"version":"1.0","provider_name":"Screen Score","provider_url":"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/en","author_name":"Rachmadwipa Novandri","author_url":"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/en\/author\/novandri511\/","title":"Review Ulasan KKN di Desa Penari - Screen Score","type":"rich","width":600,"height":338,"html":"<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"1V96amwDnl\"><a href=\"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/en\/content\/kkn-di-desa-penari\/\">KKN at Desa Penari<\/a><\/blockquote><iframe sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" src=\"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/en\/content\/kkn-di-desa-penari\/embed\/#?secret=1V96amwDnl\" width=\"600\" height=\"338\" title=\"&#8220;KKN di Desa Penari&#8221; &#8212; Screen Score\" data-secret=\"1V96amwDnl\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\" class=\"wp-embedded-content\"><\/iframe><script>\n\/*! This file is auto-generated *\/\n!function(d,l){\"use strict\";l.querySelector&&d.addEventListener&&\"undefined\"!=typeof URL&&(d.wp=d.wp||{},d.wp.receiveEmbedMessage||(d.wp.receiveEmbedMessage=function(e){var t=e.data;if((t||t.secret||t.message||t.value)&&!\/[^a-zA-Z0-9]\/.test(t.secret)){for(var s,r,n,a=l.querySelectorAll('iframe[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),o=l.querySelectorAll('blockquote[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),c=new RegExp(\"^https?:$\",\"i\"),i=0;i<o.length;i++)o[i].style.display=\"none\";for(i=0;i<a.length;i++)s=a[i],e.source===s.contentWindow&&(s.removeAttribute(\"style\"),\"height\"===t.message?(1e3<(r=parseInt(t.value,10))?r=1e3:~~r<200&&(r=200),s.height=r):\"link\"===t.message&&(r=new URL(s.getAttribute(\"src\")),n=new URL(t.value),c.test(n.protocol))&&n.host===r.host&&l.activeElement===s&&(d.top.location.href=t.value))}},d.addEventListener(\"message\",d.wp.receiveEmbedMessage,!1),l.addEventListener(\"DOMContentLoaded\",function(){for(var e,t,s=l.querySelectorAll(\"iframe.wp-embedded-content\"),r=0;r<s.length;r++)(t=(e=s[r]).getAttribute(\"data-secret\"))||(t=Math.random().toString(36).substring(2,12),e.src+=\"#?secret=\"+t,e.setAttribute(\"data-secret\",t)),e.contentWindow.postMessage({message:\"ready\",secret:t},\"*\")},!1)))}(window,document);\n\/\/# sourceURL=https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/wp-includes\/js\/wp-embed.min.js\n<\/script>","thumbnail_url":"https:\/\/screenscore.digitalmama.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/KKN_di_Desa_Penari.jpg","thumbnail_width":373,"thumbnail_height":498,"description":"\"KKN di Desa Penari\" adalah film horor supranatural Indonesia tahun 2022 yang disutradarai oleh Awi Suryadi, diadaptasi dari utas Twitter viral karya SimpleMan yang kemudian ditulis ulang sebagai novel. Film ini mengisahkan enam mahasiswa\u2014Nur, Widya, Ayu, Bima, Anton, dan Wahyu\u2014yang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa terpencil di Jawa Timur pada tahun 2009. Desa tersebut, yang disebut sebagai \"Desa Penari,\" menyimpan misteri terkait sosok penari Jawa bernama Badarawuhi, roh yang menguasai desa. Kepala desa, Pak Prabu, memperingatkan mereka untuk tidak melewati gapura terlarang menuju Tapak Tilas, namun pelanggaran aturan ini memicu serangkaian kejadian mistis. Film ini menampilkan elemen budaya Jawa, seperti gamelan dan tarian tradisional, dengan suasana horor yang dibangun melalui jumpscare, musik tegang, dan visual mistis. Ada dua versi: versi \"cut\" (durasi lebih pendek) dan versi \"uncut\" (lebih panjang dengan adegan tambahan, termasuk unsur erotis). Film ini menjadi film terlaris dalam sejarah Indonesia dengan 9,2 juta penonton.  Kecocokan untuk Tontonan Anak Film ini tidak cocok untuk anak-anak. Berikut alasannya:     Konten Horor dan Menakutkan: Film ini mengandung adegan seram seperti penampakan hantu, posesif roh, dan kematian tragis (misalnya, kematian misterius Bima dan Ayu), yang dapat menyebabkan ketakutan atau trauma pada anak-anak.    Unsur Dewasa: Versi uncut (untuk usia 17+) menyertakan adegan erotis, seperti hubungan intim antara karakter, yang tidak pantas untuk penonton muda. Bahkan versi cut (untuk usia 13+) tetap mengandung elemen menyeramkan dan tema kompleks seperti pelanggaran adat dan konsekuensi mistis.    Tema dan Moral yang Rumit: Cerita ini membahas pelanggaran norma budaya, pengkhianatan, dan konsekuensi fatal, yang sulit dipahami anak-anak dan lebih ditujukan untuk penonton dewasa.    Efek Visual dan Suara: Penggunaan jumpscare, musik gamelan yang menegangkan, dan visual seperti bangkai monyet atau karakter yang dirasuki dapat mengganggu anak-anak secara emosional.    Tanggapan Publik: Sebuah unggahan di X menunjukkan kekhawatiran tentang anak-anak di bawah umur yang diizinkan menonton film ini di bioskop, menegaskan bahwa kontennya tidak sesuai untuk mereka.   Rekomendasi: Film ini lebih cocok untuk remaja di atas 13 tahun (versi cut) atau dewasa (versi uncut) yang menyukai horor dan memahami konteks budaya Jawa. Untuk anak-anak, sebaiknya pilih tontonan dengan genre ringan seperti animasi atau film keluarga yang tidak mengandung elemen menakutkan atau dewasa. Jika orang tua ingin anak menonton, pastikan untuk mendampingi dan memilih versi cut, sambil mempertimbangkan sensitivitas anak terhadap konten horor."}