<?xml version="1.0"?>
<oembed><version>1.0</version><provider_name>Screen Score</provider_name><provider_url>https://screenscore.digitalmama.id/en</provider_url><author_name>admin8_screenscore</author_name><author_url>https://screenscore.digitalmama.id/en/author/admin8_screenscore/</author_url><title>Review Ulasan Negeri 5 Menara - Screen Score</title><type>rich</type><width>600</width><height>338</height><html>&lt;blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="deyGjot0aw"&gt;&lt;a href="https://screenscore.digitalmama.id/en/content/negeri-5-menara/"&gt;The 5 Towers&lt;/a&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;iframe sandbox="allow-scripts" security="restricted" src="https://screenscore.digitalmama.id/en/content/negeri-5-menara/embed/#?secret=deyGjot0aw" width="600" height="338" title="&#x201C;Negeri 5 Menara&#x201D; &#x2014; Screen Score" data-secret="deyGjot0aw" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" class="wp-embedded-content"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;script&gt;
/*! This file is auto-generated */
!function(d,l){"use strict";l.querySelector&amp;&amp;d.addEventListener&amp;&amp;"undefined"!=typeof URL&amp;&amp;(d.wp=d.wp||{},d.wp.receiveEmbedMessage||(d.wp.receiveEmbedMessage=function(e){var t=e.data;if((t||t.secret||t.message||t.value)&amp;&amp;!/[^a-zA-Z0-9]/.test(t.secret)){for(var s,r,n,a=l.querySelectorAll('iframe[data-secret="'+t.secret+'"]'),o=l.querySelectorAll('blockquote[data-secret="'+t.secret+'"]'),c=new RegExp("^https?:$","i"),i=0;i&lt;o.length;i++)o[i].style.display="none";for(i=0;i&lt;a.length;i++)s=a[i],e.source===s.contentWindow&amp;&amp;(s.removeAttribute("style"),"height"===t.message?(1e3&lt;(r=parseInt(t.value,10))?r=1e3:~~r&lt;200&amp;&amp;(r=200),s.height=r):"link"===t.message&amp;&amp;(r=new URL(s.getAttribute("src")),n=new URL(t.value),c.test(n.protocol))&amp;&amp;n.host===r.host&amp;&amp;l.activeElement===s&amp;&amp;(d.top.location.href=t.value))}},d.addEventListener("message",d.wp.receiveEmbedMessage,!1),l.addEventListener("DOMContentLoaded",function(){for(var e,t,s=l.querySelectorAll("iframe.wp-embedded-content"),r=0;r&lt;s.length;r++)(t=(e=s[r]).getAttribute("data-secret"))||(t=Math.random().toString(36).substring(2,12),e.src+="#?secret="+t,e.setAttribute("data-secret",t)),e.contentWindow.postMessage({message:"ready",secret:t},"*")},!1)))}(window,document);
//# sourceURL=https://screenscore.digitalmama.id/wp-includes/js/wp-embed.min.js
&lt;/script&gt;</html><thumbnail_url>https://screenscore.digitalmama.id/wp-content/uploads/2024/05/WhatsApp-Image-2024-05-20-at-15.28.29-2.jpeg</thumbnail_url><thumbnail_width>578</thumbnail_width><thumbnail_height>851</thumbnail_height><description>Film Negeri 5 Menara adalah adaptasi dari novel bestseller karya Ahmad Fuadi dengan judul yang sama. Disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman dan diproduksi oleh Kompas Gramedia bersama Million Pictures, film ini dirilis pada tahun 2012. Ceritanya berlatar tahun 1988 dan mengangkat tema persahabatan, tekad, kerja keras, serta nilai-nilai keislaman dalam kehidupan pesantren.  Alur Cerita Utama:  Alif Fikri (diperankan Gazza Zubizareta sebagai remaja dan Ariyo Wahab sebagai dewasa) adalah seorang remaja sederhana dari desa kecil di pinggir Danau Maninjau, Sumatera Barat. Baru lulus SMP (Madrasah Tsanawiyah), Alif bermimpi melanjutkan ke SMA bergengsi di Bukittinggi bersama sahabatnya Randai, lalu kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung) untuk menjadi seperti BJ Habibie, idolanya.  Namun, impian itu pupus ketika ibunya (Amak, diperankan Lulu Tobing) yang berasal dari keturunan ulama meminta Alif melanjutkan pendidikan di Pondok Madani (PM), sebuah pesantren modern di pelosok Ponorogo, Jawa Timur. Ayahnya (diperankan David Chalik) mendukung keputusan itu. Meski sangat keberatan dan merasa seperti dipenjara, Alif akhirnya menuruti orang tuanya dengan setengah hati.  Sesampainya di Pondok Madani, Alif terkejut. Pondok itu terasa &#x201C;kampungan&#x201D; baginya, jauh dari kenyamanan rumah. Ia bahkan harus mundur satu tahun untuk kelas adaptasi (kelas persiapan). Awalnya Alif sering menyendiri, merasa kesepian, dan ragu bisa bertahan.  Lambat laun, Alif mulai dekat dengan lima teman sekamarnya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia:   Baso (Billy Sandy) dari Gowa, Sulawesi Selatan  Atang (Rizky Ramdani) dari Bandung  Said (Ernest Samudera) dari Surabaya  Raja (Jiofani Lubis) dari Medan  Dulmajid (Aris Putra) dari Madura  Mereka berenam sering berkumpul di bawah menara masjid saat menjelang maghrib, memandang awan sambil berbagi mimpi masa depan. Mereka menamakan kelompoknya Sahibul Menara (Pemilik Menara). Di sinilah ikatan persahabatan mereka terjalin kuat, meski sering diuji oleh berbagai tantangan kehidupan santri: disiplin ketat, pelajaran agama dan umum yang padat, hukuman (seperti jewer berantai), rindu kampung halaman, hingga persaingan internal.  Melalui kehidupan di pesantren, Alif belajar banyak hal: arti kerja keras (&#x201C;man jadda wajada&#x201D; &#x2013; siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil), menghargai perbedaan (karena teman-temannya dari suku dan daerah berbeda), ketaatan kepada orang tua, serta pentingnya mimpi dan persahabatan. Cerita berlanjut hingga mereka lulus, di mana masing-masing berusaha mewujudkan mimpi besar mereka, termasuk &#x201C;menggapai jendela dunia&#x201D;.  Film ini banyak menggunakan flashback dan sudut pandang Alif, menunjukkan perubahan karakter dari remaja yang enggan menjadi pribadi yang lebih matang, tangguh, dan beriman.  Pemeran Utama Lainnya:   Lulu Tobing sebagai Amak (ibu Alif)  Donny Alamsyah dan aktor pendukung lainnya dalam peran guru atau figur dewasa.  Film ini menekankan nilai-nilai positif seperti persaudaraan lintas daerah, semangat belajar, dan bagaimana pesantren membentuk karakter.  Kecocokan dengan Anak (Parental Guidance / Usia yang Direkomendasikan)  Negeri 5 Menara sangat cocok untuk anak dan remaja, terutama karena:   Tema positif dan inspiratif: Film ini mengajarkan kerja keras, pentingnya pendidikan (agama dan umum), menghormati orang tua, persahabatan, toleransi antar suku/budaya, dan mengejar mimpi meski ada rintangan. Banyak orang tua dan guru merekomendasikannya sebagai tontonan motivasi bagi anak sekolah.  Tidak ada konten dewasa: Tidak ada adegan kekerasan berat, seksual, narkoba, atau bahasa kasar. Suasana pesantren digambarkan realistis tapi ringan, dengan humor dari interaksi antar santri.  Adegan yang mungkin perlu diperhatikan: Ada momen emosional (rindu rumah, konflik kecil dengan teman atau aturan pondok), serta gambaran disiplin pesantren yang ketat (hukuman ringan seperti jewer atau push-up). Beberapa anak kecil mungkin merasa sedih melihat Alif yang awalnya tertekan meninggalkan kampung halaman. Tidak ada adegan menakutkan atau gore.  Rekomendasi usia:   Cocok untuk usia 10 tahun ke atas (remaja SMP/SMA sangat pas).  Untuk anak di bawah 10 tahun, orang tua disarankan menonton bersama karena ada dialog tentang mimpi masa depan dan sedikit konflik emosional yang mungkin perlu dijelaskan.  Sangat bagus untuk anak usia 12&#x2013;18 tahun, karena banyak pesan yang relatable dengan kehidupan sekolah dan pilihan masa depan.  Secara keseluruhan, ini adalah film keluarga yang edukatif dan menghibur, sering digunakan di sekolah atau pesantren untuk motivasi. Banyak review menyebutnya sebagai tontonan yang &#x201C;ringan tapi berkesan&#x201D;, tanpa elemen negatif yang meresahkan.  Kalau kamu ingin menonton, film ini pernah tayang di bioskop dan tersedia di platform streaming seperti Netflix (tergantung wilayah). Novel aslinya juga sangat direkomendasikan untuk bacaan lebih dalam!  &nbsp;</description></oembed>
