<?xml version="1.0"?>
<oembed><version>1.0</version><provider_name>Screen Score</provider_name><provider_url>https://screenscore.digitalmama.id/en</provider_url><author_name>Rachmadwipa Novandri</author_name><author_url>https://screenscore.digitalmama.id/en/author/novandri511/</author_url><title>Review Ulasan Lovely Man - Screen Score</title><type>rich</type><width>600</width><height>338</height><html>&lt;blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="yu74FOWPEu"&gt;&lt;a href="https://screenscore.digitalmama.id/en/content/lovely-man/"&gt;Lovely Man&lt;/a&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;iframe sandbox="allow-scripts" security="restricted" src="https://screenscore.digitalmama.id/en/content/lovely-man/embed/#?secret=yu74FOWPEu" width="600" height="338" title="&#x201C;Lovely Man&#x201D; &#x2014; Screen Score" data-secret="yu74FOWPEu" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" class="wp-embedded-content"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;script&gt;
/*! This file is auto-generated */
!function(d,l){"use strict";l.querySelector&amp;&amp;d.addEventListener&amp;&amp;"undefined"!=typeof URL&amp;&amp;(d.wp=d.wp||{},d.wp.receiveEmbedMessage||(d.wp.receiveEmbedMessage=function(e){var t=e.data;if((t||t.secret||t.message||t.value)&amp;&amp;!/[^a-zA-Z0-9]/.test(t.secret)){for(var s,r,n,a=l.querySelectorAll('iframe[data-secret="'+t.secret+'"]'),o=l.querySelectorAll('blockquote[data-secret="'+t.secret+'"]'),c=new RegExp("^https?:$","i"),i=0;i&lt;o.length;i++)o[i].style.display="none";for(i=0;i&lt;a.length;i++)s=a[i],e.source===s.contentWindow&amp;&amp;(s.removeAttribute("style"),"height"===t.message?(1e3&lt;(r=parseInt(t.value,10))?r=1e3:~~r&lt;200&amp;&amp;(r=200),s.height=r):"link"===t.message&amp;&amp;(r=new URL(s.getAttribute("src")),n=new URL(t.value),c.test(n.protocol))&amp;&amp;n.host===r.host&amp;&amp;l.activeElement===s&amp;&amp;(d.top.location.href=t.value))}},d.addEventListener("message",d.wp.receiveEmbedMessage,!1),l.addEventListener("DOMContentLoaded",function(){for(var e,t,s=l.querySelectorAll("iframe.wp-embedded-content"),r=0;r&lt;s.length;r++)(t=(e=s[r]).getAttribute("data-secret"))||(t=Math.random().toString(36).substring(2,12),e.src+="#?secret="+t,e.setAttribute("data-secret",t)),e.contentWindow.postMessage({message:"ready",secret:t},"*")},!1)))}(window,document);
//# sourceURL=https://screenscore.digitalmama.id/wp-includes/js/wp-embed.min.js
&lt;/script&gt;</html><thumbnail_url>https://screenscore.digitalmama.id/wp-content/uploads/2025/03/MV5BOGQyOTBjYzAtZGVlZS00M2IyLWJmNWYtMjM1MmExNWE3Y2U3XkEyXkFqcGc@._V1_.jpg</thumbnail_url><thumbnail_width>1024</thumbnail_width><thumbnail_height>1463</thumbnail_height><description>"Lovely Man" adalah film drama Indonesia yang dirilis pada tahun 2011, disutradarai oleh Teddy Soeriaatmadja. Film ini mengisahkan perjalanan emosional seorang gadis muda bernama Cahaya (diperankan oleh Raihaanun), yang dibesarkan dalam lingkungan pesantren dengan nilai-nilai Islam yang kuat. Cahaya nekat pergi ke Jakarta untuk mencari ayahnya, Syaiful (diperankan oleh Donny Damara), yang meninggalkannya sejak ia berusia empat tahun. Namun, ia terkejut mengetahui bahwa ayahnya kini hidup sebagai waria bernama Ipuy dan bekerja sebagai pekerja seks komersial di Taman Lawang, sebuah lokasi terkenal di Jakarta. Dalam waktu satu malam, Cahaya dan Ipuy menjelajahi jalanan ibu kota, mencoba membangun kembali ikatan ayah-anak yang telah lama terputus, sambil menghadapi konflik batin masing-masing. Cahaya membawa rahasia bahwa ia hamil di luar nikah, sementara Ipuy terlibat dalam masalah setelah mencuri uang untuk operasi kelamin.  Film ini menonjol karena premisnya yang berani dan jarang diangkat dalam sinema Indonesia, yaitu hubungan antara seorang anak perempuan religius dan ayahnya yang transgender. Disajikan dengan dialog yang penuh makna dan sinematografi yang menggambarkan sisi gelap Jakarta, "Lovely Man" mengeksplorasi tema kasih sayang tanpa syarat, penerimaan, dan penebusan. Akting Donny Damara sebagai Ipuy sangat diapresiasi, bahkan membawanya meraih penghargaan Aktor Terbaik di Festival Film Asia 2012, sementara chemistry-nya dengan Raihaanun berhasil menghidupkan dinamika ayah-anak yang kompleks.  Kecocokan dengan Anak Terkait kecocokan dengan anak, "Lovely Man" kurang sesuai untuk ditonton oleh anak-anak, terutama yang berusia di bawah remaja (di bawah 13 tahun). Berikut beberapa pertimbangan:    Tema dan Konten Sensitif: Film ini mengangkat isu transgender, prostitusi, dan kehamilan di luar nikah, yang merupakan topik berat dan kompleks. Anak-anak mungkin sulit memahami konteks sosial serta emosi yang disampaikan, dan topik-topik ini bisa dianggap terlalu dewasa atau tabu tanpa panduan orang tua.   Adegan yang Tidak Pantas: Meskipun tidak ada adegan eksplisit yang terlalu vulgar, terdapat momen-momen seperti Cahaya muntah di toilet kereta dan penggambaran kehidupan malam yang kasar, yang bisa mengganggu atau membingungkan penonton muda. Selain itu, setting di dunia prostitusi dan dialog tentang kehidupan Ipuy sebagai waria mungkin tidak sesuai untuk anak-anak.   Pesan Positif tapi Membutuhkan Kematangan: Film ini menyampaikan pesan tentang penerimaan dan hubungan keluarga, tetapi pemahaman penuh terhadap pesan tersebut membutuhkan tingkat kematangan emosional dan intelektual yang biasanya dimiliki oleh remaja atau dewasa.  Secara keseluruhan, "Lovely Man" lebih cocok untuk remaja (usia 15 tahun ke atas) atau dewasa yang sudah bisa mencerna narasi kompleks dan refleksi sosial. Jika anak ingin menonton, sangat disarankan ada pendampingan orang tua untuk menjelaskan konteks dan makna cerita, serta memastikan mereka tidak salah menafsirkan elemen-elemen sensitif dalam film ini. Untuk anak-anak yang lebih kecil, film ini kurang direkomendasikan karena kontennya yang tidak sesuai dengan usia mereka.</description></oembed>
