Tron: Ares
“Tron: Ares” tampaknya dirancang untuk penonton yang lebih dewasa dan belum tentu cocok untuk anak-anak kecil. Berdasarkan deskripsi plot dan cuplikan awal, film ini akan menampilkan aksi intens seperti kejar-kejaran berkecepatan tinggi dengan light cycle yang membelah mobil polisi, serta tema kompleks tentang AI dan kemanusiaan yang mungkin sulit dipahami oleh anak-anak di bawah usia 12 tahun. Selain itu, nada yang lebih “grittier” dan industrial, ditambah dengan keterlibatan Nine Inch Nails dalam soundtrack, menunjukkan bahwa film ini bisa memiliki suasana yang lebih gelap dan tegang dibandingkan “Tron: Legacy,” yang sudah memiliki beberapa adegan pertarungan dan kematian karakter digital yang mungkin mengganggu anak kecil.
Tron: Ares berfokus pada Ares (Jared Leto), sebuah program kecerdasan buatan (AI) canggih yang dikembangkan di dalam dunia digital yang dikenal sebagai The Grid. Berbeda dari dua film sebelumnya yang lebih mengeksplorasi petualangan manusia di dunia digital, Tron: Ares membalikkan premis tersebut. Ares dikirim dari The Grid ke dunia nyata dalam sebuah misi berbahaya yang belum sepenuhnya diungkap, menandai pertama kalinya umat manusia berinteraksi langsung dengan entitas AI. Kedatangan Ares memicu kekacauan, konflik, dan ketegangan antara manusia dan mesin, dengan potensi ancaman eksistensial bagi kedua dunia.
-
Ares (Jared Leto): Program AI canggih yang menjadi pusat cerita. Ares bukan sekadar program biasa; ia dirancang untuk menembus batas antara dunia digital dan nyata. Motivasinya masih misterius, tetapi trailer mengisyaratkan bahwa misinya dapat mengubah keseimbangan antara manusia dan teknologi. Leto, yang juga menjadi produser, menghadirkan Ares sebagai figur karismatik namun menakutkan.
-
Kevin Flynn (Jeff Bridges): Karakter ikonik dari dua film sebelumnya kembali, meskipun perannya masih diselimuti misteri. Dalam trailer, suara Flynn terdengar saat proses penciptaan Ares, dengan kalimat, “Siapkah kamu? Karena tidak ada jalan kembali,” mengindikasikan bahwa Flynn mungkin memiliki peran kunci sebagai pencipta atau pengawas Ares. Apakah Flynn muncul secara fisik atau hanya sebagai entitas digital masih belum jelas.
-
Julian Dillinger (Evan Peters): Karakter yang memiliki koneksi dengan Ed Dillinger, antagonis dari Tron (1982). Julian kemungkinan besar adalah keturunan atau rekan Ed Dillinger, dan perannya sebagai lawan atau sekutu Ares masih ambigu. Peters muncul dalam trailer menatap langit yang dipenuhi laser merah, menambah kesan bahwa karakternya terlibat dalam konflik besar.
-
Karakter Lain: Greta Lee dan Jodie Turner-Smith memerankan karakter baru yang belum diungkap detailnya, tetapi kemungkinan besar mereka adalah figur penting di dunia nyata atau digital. Cameron Monaghan dikabarkan berperan sebagai hacker jenius yang terlibat dalam konflik digital, sementara Gillian Anderson diduga memerankan ilmuwan yang terkait dengan penciptaan Ares. Hasan Minhaj, Arturo Castro, dan Sarah Desjardins juga memiliki peran pendukung yang belum terungkap secara spesifik.
Tron: Ares adalah sekuel standalone, artinya meskipun berada dalam universe yang sama dengan Tron and Tron: Legacy, ceritanya tidak secara langsung melanjutkan alur Tron: Legacy. Absennya karakter utama dari film sebelumnya, seperti Sam Flynn (Garrett Hedlund) dan Quorra (Olivia Wilde), menimbulkan spekulasi bahwa film ini lebih sebagai soft reboot daripada kelanjutan langsung. IGN menyatakan bahwa keputusan ini mungkin dipengaruhi oleh performa Tron: Legacy yang kurang memuaskan secara finansial ($409 juta dari anggaran $170 juta), mendorong Disney untuk mengambil arah baru yang lebih segar.
Tron: Ares mulai diproduksi pada Januari 2024 di Vancouver, Kanada, dan selesai dalam waktu enam minggu. Joachim Rønning, yang dikenal karena pendekatan visualnya yang kuat, menegaskan bahwa film ini dibangun di atas warisan desain dan teknologi mutakhir Tron. Estetika visual film ini tetap setia pada identitas waralaba: dunia neon, light cycle, dan grid digital yang memukau, tetapi kali ini diperluas ke dunia nyata dengan efek CGI yang lebih canggih.
Tron: Ares hadir setelah penantian panjang selama 15 tahun sejak Tron: Legacy. Waralaba Tron dikenal karena inovasi visualnya, terutama penggunaan citra komputer pada Tron (1982) yang menjadi pelopor efek CGI modern. Jeff Bridges, dalam acara D23 Expo 2024, menyatakan kekagumannya bahwa waralaba ini masih bertahan setelah lebih dari 40 tahun, menunjukkan warisan kuat Tron dalam budaya pop.
Tron: Ares adalah petualangan fiksi ilmiah yang ambisius, menggabungkan aksi spektakuler, visual neon khas Tron, dan eksplorasi mendalam tentang hubungan manusia-AI. Dengan Jared Leto sebagai Ares, kembalinya Jeff Bridges sebagai Kevin Flynn, dan talenta pendukung seperti Evan Peters dan Gillian Anderson, film ini menjanjikan pengalaman sinematik yang mendebarkan. Disutradarai oleh Joachim Rønning dan diperkuat oleh skor Nine Inch Nails, Tron: Ares siap membawa waralaba ini ke era baru, sembari menghormati akarnya. Film ini akan tayang pada 10 Oktober 2025, dan diharapkan menjadi terobosan visual sekaligus naratif dalam waralaba Tron.
Questions & Answers
Please log in to ask a question.
No questions yet. Be the first to ask!
Tron: Ares adalah film sci-fi tentang program komputer bernama Ares yang berhasil masuk ke dunia nyata untuk menghadapi ancaman dari teknologi yang diciptakan manusia. Ceritanya penuh aksi dan visual canggih, tapi jujur, ini bukan tontonan untuk anak-anak, terutama di bawah 13 tahun. Meski ada pesan positif tentang tanggung jawab dan konsekuensi teknologi, kekerasannya cukup intens—adegan perkelahian, ledakan, dan penggunaan senjata futuristik yang bisa bikin anak kecil takut atau ikut-ikutan. Dialognya juga ada beberapa umpatan ringan, jadi perlu orang tua dampingi kalau anak remaja nonton. Tidak ada adegan seksual atau alkohol yang menonjol, tapi keberagaman karakter cukup baik. Kesimpulannya: untuk anak SMP ke atas dengan pendampingan, ini bisa jadi bahan diskusi seru soal etika teknologi. Tapi untuk di bawah itu, lebih baik skip.
Paling dinanti
Saya sangat menantikan Tron: Ares karena visualnya yang memukau, dan film ini tidak mengecewakan! Efek neon dan dunia digitalnya luar biasa, terasa seperti upgrade dari Tron: Legacy. Ceritanya agak lambat…
Paling dinanti
Saya sangat menantikan Tron: Ares karena visualnya yang memukau, dan film ini tidak mengecewakan! Efek neon dan dunia digitalnya luar biasa, terasa seperti upgrade dari Tron: Legacy. Ceritanya agak lambat di awal, tapi aksi di paruh kedua bikin jantungan. Musiknya juga epic, meski tidak seikonik soundtrack Daft Punk di film sebelumnya. Sayangnya, beberapa karakter terasa kurang dalam.




