The World to Come
Sinopsis Film “The World to Come” (2020)
Film The World to Come adalah drama romansa period piece yang berlatar belakang Amerika pada pertengahan abad ke-19 (sekitar tahun 1856–1857), tepatnya di wilayah pedesaan timur laut yang terpencil dan keras. Cerita ini disampaikan melalui sudut pandang dan narasi diary Abigail (diperankan oleh Katherine Waterston), seorang istri petani yang pendiam, introspektif, dan tengah berduka cita mendalam atas kematian anak perempuannya yang masih kecil akibat demam difteri.
Kehidupan Abigail bersama suaminya, Dyer (Casey Affleck), berjalan dalam suasana dingin, sunyi, dan penuh kesedihan. Dyer adalah pria yang bertanggung jawab namun tertutup, jarang menunjukkan emosi, dan lebih fokus pada pekerjaan ladang serta bertahan hidup di tengah musim dingin yang brutal. Rumah mereka terasa seperti penjara emosional, di mana Abigail merasa terisolasi, kehilangan gairah hidup, dan sering merenung tentang makna keberadaannya.
Kehidupan mulai berubah ketika sepasang tetangga baru pindah ke lahan terdekat: Tallie (Vanessa Kirby), seorang wanita berambut merah yang berjiwa bebas, penuh semangat, dan ekspresif, beserta suaminya Finney (Christopher Abbott), seorang petani yang posesif, cemburu, dan kasar. Tallie langsung menarik perhatian Abigail karena sikapnya yang hangat, ceria, dan berani mengekspresikan perasaan—sesuatu yang sangat kontras dengan kehidupan Abigail sendiri.
Kedua wanita ini mulai sering bertemu, awalnya dalam kunjungan sehari-hari biasa seperti bertukar barang atau sekadar mengobrol di tengah kesepian pedesaan. Perlahan, pertemuan mereka berkembang menjadi persahabatan yang dalam, saling menguatkan, dan akhirnya menjadi hubungan romantis yang penuh gairah. Mereka menemukan keintiman emosional dan fisik yang selama ini tidak mereka dapatkan dari pernikahan masing-masing. Abigail mulai “hidup kembali” melalui Tallie, sementara Tallie menemukan pelarian dari kekerasan dan kontrol suaminya.
Namun, di era tersebut, hubungan sesama jenis sangat tabu dan berbahaya. Kehidupan frontier yang keras—cuaca ekstrem, penyakit, kemiskinan, dan kewajiban sosial—menambah lapisan tekanan. Ada pula elemen kekerasan dalam rumah tangga (terutama pada karakter Tallie), kesedihan mendalam atas kehilangan anak, serta konsekuensi tragis dari rahasia yang mereka simpan. Cerita bergerak lambat namun puitis, dengan narasi voice-over Abigail yang indah dan melankolis, menggambarkan perjuangan batin, harapan, cinta terlarang, serta pencarian kebebasan di tengah dunia yang sangat membatasi perempuan.
Film ini berakhir dengan nada bittersweet, menyoroti tema-tema besar seperti duka cita, penemuan diri, cinta yang tak konvensional, kekerasan gender, serta ketahanan manusia di tengah isolasi dan kesulitan hidup abad ke-19.
Kecocokan sebagai Tontonan Anak
Sangat tidak cocok untuk anak-anak atau bahkan remaja di bawah umur 15–17 tahun. Film ini mendapat rating R (Restricted) dari MPAA karena mengandung “some sexuality/nudity”. Berikut alasan utamanya berdasarkan parents guide dari IMDb, Common Sense Media, dan Kids-In-Mind:
- Adegan seksualitas & ketelanjangan: Ada beberapa adegan intim/sex antara dua wanita (Abigail dan Tallie) dengan ciuman passionate, desahan, dan partial nudity (payudara terlihat). Ada juga adegan sex heteroseksual (suami-istri) meski lebih singkat.
- Adult themes: Hubungan romantis sesama jenis (lesbian romance), perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (domestic abuse, termasuk memar dan implikasi pemukulan), duka cita kehilangan anak, kematian anak (disebutkan termasuk satu adegan inferensi kebakaran rumah yang membunuh anak—sangat intens meski tidak ditampilkan grafis).
- Suasana emosional: Sangat lambat, melankolis, penuh kesedihan, dan berat secara psikologis—tidak ada elemen fun, aksi, atau humor yang biasanya disukai anak.
- Age recommendations: Common Sense Media menyarankan minimal age 15+, banyak parents guide menyebut 17+ atau 18+. Tidak ada kekerasan grafis ekstrem atau bahasa kasar berat, tapi konten seksual, tema dewasa, dan emosi yang dalam membuatnya benar-benar bukan tontonan anak atau keluarga.
Jika kamu mencari film untuk ditonton bersama anak, The World to Come jelas bukan pilihan yang tepat. Film ini lebih cocok untuk penonton dewasa yang menyukai drama period piece, romansa terlarang, atau cerita emosional yang dalam seperti karya-karya slow-burn dengan nuansa LGBTQ+.
Questions & Answers
Please log in to ask a question.
No questions yet. Be the first to ask!
Film ini berlatar tahun 1850-an, ceritanya soal dua perempuan tetangga di pedesaan, Abigail dan Tallie, yang mulai saling dekat dan hubungan mereka berkembang jadi lebih dari sekadar teman. Suasana film ini lambat dan penuh perasaan, tapi jujur saja, ini bukan tontonan untuk anak-anak. Saya tidak akan merekomendasikannya untuk usia di bawah 18 tahun. Kenapa? Karena ada adegan seksual yang cukup eksplisit, meski tidak vulgar berlebihan, tapi jelas tidak pantas dilihat anak. Selain itu, dialognya dewasa dengan tema perselingkuhan dan depresi. Tapi, ada sisi positifnya juga. Film ini mengangkat pesan tentang keberanian untuk menjadi diri sendiri dan mencari kebahagiaan, terutama di tengah tekanan sosial. Juga, representasi perempuan dan keberagaman emosi cukup kuat. Dari segi kekerasan, hampir tidak ada, hanya ada sedikit ketegangan emosional. Tidak ada merokok, alkohol, atau narkoba yang ditampilkan. Bahasa kasarnya juga minim. Jadi, untuk orang tua, waspadai adegan seksual dan tema dewasa. Kalau untuk anak remaja di bawah 17, saya rasa masih terlalu berat. Kesimpulannya, film ini bagus untuk penonton dewasa yang suka drama sejarah, tapi jangan sampai anak menonton.
No review yet. Be the first!



