The Queen of Black Magic

The Queen of Black Magic

Sinopsis Panjang Film “The Queen of Black Magic” (Ratu Ilmu Hitam, 2019)
Film horor supranatural Indonesia ini disutradarai oleh Kimo Stamboel dan ditulis oleh Joko Anwar. Ceritanya merupakan versi ulang (loose remake) dari film klasik tahun 1981 berjudul sama yang dibintangi Suzzanna, meski plotnya sangat berbeda dan jauh lebih modern serta brutal.Kisah dimulai ketika Hanif (Ario Bayu), seorang ayah keluarga yang sukses, bersama istri tercintanya Nadya (Hannah Al Rashid) dan ketiga anak mereka (Sandi, Dina, dan Haqi) berangkat menuju sebuah panti asuhan terpencil di mana Hanif dibesarkan dulu. Mereka pergi untuk mengunjungi Pak Bandi, pengasuh mereka semasa kecil yang sedang sekarat dan ingin bertemu anak-anak asuhnya yang dulu.Di panti asuhan yang sama, dua sahabat Hanif masa kecil, Anton beserta istrinya Lina, as well as Jati dan keluarganya juga tiba. Awalnya reuni ini terasa hangat meski penuh kenangan kelam tentang masa kecil mereka di panti asuhan yang keras dan penuh rahasia. Namun, suasana berubah drastis ketika mereka mulai mengalami kejadian-kejadian aneh: suara-suara misterius, bayangan, hingga penampakan anak kecil yang menyeramkan.Lambat laun terungkap bahwa ada dendam lama yang belum terselesaikan dari masa lalu panti asuhan tersebut. Ada sosok perempuan yang sangat kuat dalam ilmu hitam yang mulai membalas dendam atas pengkhianatan dan kejahatan yang dilakukan sekelompok anak-anak asuh (termasuk ketiga sahabat utama) terhadapnya 25 tahun lalu. Balas dendam ini menggunakan ilmu hitam yang sangat kejam: tubuh korban dimasuki ribuan kaki seribu, belatung, dan serangga mengerikan, orang dipaksa melukai diri sendiri, anggota tubuh dipelintir secara tidak wajar, hingga adegan penyiksaan yang sangat grafis.Film ini perlahan membangun ketegangan dari slow-burn menjadi ledakan horor yang sangat intens di paruh kedua. Ada banyak jump scare efektif, efek makeup dan CGI yang mengerikan (terutama adegan serangga keluar dari mulut/mata/telinga), serta kekerasan ekstrem yang tidak tanggung-tanggung — termasuk terhadap karakter anak-anak dan adegan yang sangat disturbing seperti penggunaan stapler pada tubuh, tubuh yang “dilipat” paksa, dan bus sekolah penuh mayat anak-anak.Twist ceritanya cukup mengejutkan dan mengungkap siapa sebenarnya sang “Ratu Ilmu Hitam” serta apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, sekaligus mengangkat tema trauma masa kecil, pengkhianatan, rasa bersalah kolektif, dan konsekuensi dari dosa yang terkubur lama.Kesimpulan: Apakah cocok untuk tontonan anak?Sangat tidak disarankan sama sekali untuk anak-anak (bahkan remaja di bawah 17–18 tahun sebaiknya dengan pengawasan ketat atau lebih baik dihindari).Main reasons:

  • Mengandung kekerasan grafis ekstrem dan gore berat (darah banyak, tubuh dimutilasi, penyiksaan sadis)
  • Adegan serangga mengerikan (seribu kaki, belatung, dll.) yang bisa menimbulkan fobia atau mual
  • Themes trauma anak, pelecehan masa kecil, balas dendam kejam, serta ancaman terhadap karakter anak
  • Jump scare berulang dan atmosfer horor yang sangat menekan serta disturbing
  • Secara resmi masuk kategori mature (di Indonesia biasanya 21+ atau D21, di luar negeri setara R atau lebih tinggi)

Film ini lebih cocok untuk pecinta horor dewasa yang suka film dengan level kekerasan tinggi, gore, dan atmosfer mencekam seperti film-film karya Joko Anwar lainnya (Satan’s Slaves, Impetigore). Bagi anak kecil atau keluarga yang mencari tontonan ringan, film ini jelas masuk kategori “jangan ditonton bersama anak”.Jika kamu penggemar horor keras, film ini termasuk salah satu yang paling brutal dan memorable dari perfilman horor Indonesia modern!

Questions & Answers

No questions yet. Be the first to ask!

S
Screen Score Editor Review
1.0 ★★★★★

Film ini berkisah tentang sekelompok keluarga yang pulang ke kampung halaman untuk menjenguk guru yang sedang sakit, lalu mulai diteror oleh kejadian mistis yang mengerikan. Ternyata, semua teror ini terkait dengan masa lalu kelam sang guru yang penuh dendam. Satu hal yang langsung terasa: film ini sangat tidak cocok untuk anak-anak, bahkan remaja di bawah 16 tahun sekalipun. Adegan kekerasannya sadis banget, banyak mutilasi, penyiksaan, dan darah berceceran. Tidak ada rokok atau narkoba, tapi dialognya cukup kasar dengan beberapa makian. Adegan seksual tidak ada, tapi ada satu adegan kekerasan seksual yang dibahas secara verbal. Pesan positifnya tipis, hanya soal pentingnya kejujuran dan akibat dari perbuatan jahat di masa lalu. Keberagaman tidak terlalu ditonjolkan. Kesimpulannya: jangan tontonkan ke anak. Ini murni film horor dewasa yang hanya akan bikin anak mimpi buruk.

About Writer