Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank
blank

Sundul Gan: The Story of Kaskus

Sinopsis Film “Sundul Gan: The Story of Kaskus” (2016)
Film ini merupakan sebuah biopik (biographical picture) Indonesia yang disutradarai oleh Naya Anindita dan diproduksi oleh 700 Pictures, dirilis pada 2 Juni 2016 sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-17 Kaskus. Cerita berfokus pada perjalanan nyata dua pendiri Kaskus: Andrew Darwis (diperankan oleh Albert Halim) dan Ken Dean Lawadinata (diperankan oleh Dion Wiyoko).Semuanya bermula di Seattle, Amerika Serikat, sekitar akhir 1990-an ketika Andrew, seorang mahasiswa keturunan Tionghoa yang sedang menempuh kuliah, membuat sebuah situs forum diskusi online sederhana sebagai tugas kuliah. Situs itu awalnya dibangun menggunakan software gratis dan diberi nama Kaskus (singkatan dari “kasak-kusuk” atau obrolan berbisik/gosip). Awalnya hanya proyek kecil untuk memenuhi tugas akademik, tapi lambat laun berkembang menjadi tempat berkumpulnya komunitas online Indonesia di diaspora.Suatu hari, Ken Dean—seorang pria energik, ambisius, dan penuh semangat—mengetahui bahwa Andrew adalah pencipta Kaskus. Dengan keyakinan kuat bahwa situs ini punya potensi besar di Indonesia (saat internet mulai merambah di tanah air), Ken langsung mendekati Andrew. Dia meyakinkan Andrew untuk pulang ke Indonesia agar mereka bisa mengembangkan Kaskus bersama-sama. Andrew awalnya ragu-ragu karena nyaman dengan kehidupan di Seattle dan merasa proyeknya hanyalah hobi kecil. Namun, Ken tidak menyerah; dia terus memprovokasi dan “memancing” Andrew dengan berbagai cara hingga akhirnya Andrew setuju kembali ke Jakarta.Setelah pulang, perjalanan membangun Kaskus tidak mudah. Mereka menghadapi berbagai lika-liku khas startup awal di Indonesia era 2000-an: keterbatasan teknologi, koneksi internet yang masih lambat, minimnya investor, persaingan dengan platform lain, serta tantangan mengelola komunitas online yang semakin besar dan beragam. Film menyoroti kontras kepribadian keduanya—Andrew yang lebih pendiam, teknis, dan hati-hati versus Ken yang ekstrovert, visioner, dan berani mengambil risiko. Persahabatan mereka yang penuh perbedaan justru menjadi kekuatan utama, di mana saling melengkapi membantu mereka melewati masa-masa sulit seperti krisis server, drama internal komunitas, hingga tekanan untuk monetisasi tanpa merusak esensi forum yang bebas.Sepanjang cerita, penonton diajak melihat bagaimana Kaskus berkembang dari forum kecil menjadi platform diskusi nomor satu di Indonesia, lengkap dengan budaya uniknya: jargon seperti “sundul gan” (untuk menaikkan thread agar tidak tenggelam), “cendol” (pujian), “bata” (kritik), “lapak” (jualan online), dan berbagai meme serta tradisi komunitas yang legendaris. Film juga menyisipkan elemen komedi ringan dari interaksi karakter, dinamika pertemanan, serta momen-momen absurd yang sering terjadi di dunia online masa itu.Di samping perjuangan bisnis, film menekankan nilai persahabatan sebagai pondasi utama kesuksesan, serta pesan inspiratif bahwa mimpi besar bisa dimulai dari hal kecil, bahkan dari tugas kuliah biasa. Tone ceritanya campuran drama motivasi, komedi situasional, dan sedikit elemen inspiratif ala film startup seperti The Social Network (meski skalanya jauh lebih lokal dan sederhana).
Kecocokan sebagai Tontonan Anak
This movie tidak terlalu cocok untuk anak kecil (di bawah usia 13–15 tahun), tapi bisa menjadi tontonan yang cukup baik dan inspiratif untuk remaja (usia SMA ke atas, sekitar 15–18 tahun), terutama yang tertarik dengan dunia internet, bisnis online, startup, atau sejarah teknologi di Indonesia.Alasan:

  • Tema utama adalah perjuangan membangun bisnis startup, persahabatan, dan kerja keras—sangat positif dan motivasi, tanpa kekerasan fisik berat, seks eksplisit, atau narkoba.
  • Bahasa dan budaya: Banyak dialog menggunakan slang anak muda 2000-an, jargon Kaskus, dan bahasa sehari-hari Indonesia yang santai. Tidak ada konten dewasa vulgar, tapi ada humor ringan dewasa dan situasi yang mungkin kurang dipahami anak kecil.
  • Rating umum: Tidak ada rating resmi keras (seperti 21+), tapi karena genre drama-komedi biopik dengan durasi panjang dan fokus bisnis/internet, lebih cocok untuk remaja yang sudah paham konteks dunia maya.
  • Manfaat untuk anak/remaja: Bisa mengajarkan nilai entrepreneurship, pentingnya kolaborasi, dan bagaimana ide sederhana bisa jadi besar dengan ketekunan. Cocok ditonton bersama orang tua untuk diskusi tentang dunia digital.

Kesimpulan: Aman untuk remaja, tapi kurang engaging atau terlalu “dewasa” (dalam arti teknis/bisnis) untuk anak di bawah umur SMP. Jika untuk anak kecil, lebih baik pilih film animasi atau cerita petualangan yang lebih ringan.

This content is restricted!

Help us review the content you've watched. Login here.

Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank