Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank
blank

Pesugihan Sate Gagak

Pesugihan Sate Gagak adalah film komedi horor Indonesia yang disutradarai oleh Etienne Caesar dan Dono Pradana, diproduksi oleh Cahaya Pictures. Film ini tayang perdana di bioskop seluruh Indonesia pada 13 November 2025, dan langsung menuai antusiasme penonton dengan menembus 369 layar serta 1.291 showtime di pekan pertamanya. Terinspirasi dari ritual mistis nyata dalam budaya Jawa—sebuah praktik pesugihan aneh di mana sate burung gagak dijual kepada makhluk halus untuk mendapatkan kekayaan instan—film ini menggabungkan elemen absurd, tawa gelak, dan ketegangan gaib. Ceritanya menyindir budaya mencari jalan pintas kaya raya yang masih melekat di masyarakat modern, sambil menghadirkan hiburan ringan yang segar. Durasi film sekitar 100 menit, dengan rating IMDb 7.2/10 dari ulasan awal yang memuji chemistry komika utamanya.

Latar Belakang dan Pengenalan Karakter

Cerita berpusat pada tiga sahabat karib yang dijuluki “Trio Gagak”:

  • Anto (diperankan oleh Ardit Erwandha), seorang pegawai warteg sederhana yang hidup pas-pasan. Ia terdesak waktu karena harus membayar mahar Rp150 juta dalam sebulan untuk menikahi pacar tercintanya, Andini (Yoriko Angeline), seorang wanita mandiri yang bekerja sebagai guru. Anto sering menjadi korban lelucon teman-temannya karena nasib malangnya, tapi ia penuh semangat dan setia.
  • Dimas (Yono Bakrie), seorang kreator konten horor yang gagal total. Channel YouTube-nya sepi subscriber, dan ia terpuruk karena harus menolong usaha kecil ibunya yang hampir bangkrut. Dimas adalah tipe pemimpi tapi ceroboh, sering kali menjadi sumber kekocakan dengan ide-ide absurdnya.
  • Indra (Benidictus Siregar), pemuda yang terlilit utang pinjaman online (pinjol) hingga leher. Ia bekerja serabutan dan selalu panik menghadapi penagih hutang. Indra adalah yang paling penakut di antara ketiganya, tapi justru ia yang menemukan “kunci” perubahan nasib mereka.

Ketiganya tinggal di sebuah kota kecil di Jawa, di mana kehidupan sehari-hari penuh tekanan ekonomi: tagihan menumpuk, mimpi cinta Anto terancam pupus, usaha Dimas mandek, dan Indra dikejar debt collector. Suasana awal film dibangun dengan komedi slice-of-life yang relatable, di mana Trio Gagak sering nongkrong di warung sate pinggir jalan sambil mengeluh soal hidup miskin. Mereka saling menyemangati dengan guyonan kasar tapi hangat, mencerminkan persahabatan ala anak muda urban yang “capek miskin”.

Konflik Awal: Desakan Hidup dan Ide Gila

Frustrasi mencapai puncak saat Anto hampir putus dengan Andini karena tak mampu penuhi mahar, Dimas mendapat peringatan dari ibunya soal usaha yang nyaris tutup, dan Indra diserang panggilan intimidasi dari pinjol. Dalam suasana putus asa, mereka nekat mencari “jalan pintas” untuk kaya cepat. Suatu malam, saat membersihkan barang-barang lama di rumah Indra, ketiganya menemukan sebuah buku mantra kuno peninggalan kakek Indra—seorang dukun legendaris yang konon ahli pesugihan.

Buku itu berisi ritual aneh bernama “Sate Gagak”: sebuah pesugihan tanpa tumbal nyawa manusia, di mana pembuatnya harus menyajikan sate dari daging burung gagak khusus (yang ditangkap saat bulan purnama) dan memanggil makhluk halus melalui mantra Jawa kuno. Konon, para demit (makhluk gaib) doyan banget dengan sate ini dan rela bayar mahal—bahkan dengan emas atau uang gaib—asal warung hanya buka malam hari dan tak boleh melayani manusia biasa. Awalnya, Trio Gagak menganggap ini lelucon absurd: “Ini pesugihannya yang makan sate, atau gagaknya yang buka lapak?” kata Anto sambil tertawa. Tapi, kepepet, mereka iseng mencobanya.

Mereka meminjam dapur warteg Anto, menangkap gagak liar (dengan adegan komedi chase scene yang kocak), dan membaca mantra sambil setengah takut-setengah ngakak. Visual efek sederhana tapi efektif menunjukkan aura mistis: angin kencang, bayangan hitam, dan suara burung gagak berubah menjadi bisikan gaib.

Klimaks: Kekayaan Instan dan Teror Gaib

Tak disangka, ritual berhasil! Keesokan harinya, warung sate mereka tiba-tiba ramai—tapi bukan oleh manusia. Pelanggan pertama adalah seorang genderuwo berbadan besar yang memesan 10 tusuk sate dan bayar dengan tumpukan uang kuno. Diikuti pocong yang lompat-lompat antre, kuntilanak berpakaian putih berbau amis yang cerewet soal rasa bumbu, hingga sundel bolong dan tuyul yang ribut rebutan. Para makhluk ini antre panjang di malam buta, rela bayar puluhan juta per malam, dan bahkan kasih tips gaib seperti “Jangan lupa garam hitam biar enak!”

Trio Gagak mendadak kaya raya:

  • Anto bisa bayar mahar, beli cincin, dan rencanakan pesta pernikahan mewah dengan Andini. Hubungan mereka sempat manis, penuh momen romantis ala komedi romantis.
  • Dimas lunasi utang ibunya, channel YouTube-nya meledak (ironisnya, karena ia mulai rekam “konten horor asli” dari pelanggan gaibnya), dan ia jadi selebgram dadakan.
  • Indra bebas dari pinjol, bahkan beli mobil bekas dan liburan ke mall—impian sederhana yang kini terwujud.

Kehidupan berubah drastis: dari warteg reyot jadi restoran sate elit (yang tutup siang dan buka malam), pakaian compang-camping diganti jas mahal, dan mereka pesta pora dengan sahabat-sahabat lain. Adegan-adegan ini penuh komedi slapstick, seperti Indra tergantung pocong saat bayar tagihan, atau Dimas live streaming kuntilanak yang marah karena sate keasinan. Sindiran sosial muncul halus: bagaimana kekayaan instan bikin mereka sombong, boros, dan lupa akar—Anto mulai cuek ke Andini, Dimas eksploitasi ibunya untuk konten, Indra borong gadget tak berguna.

Tapi, kebahagiaan itu rapuh. Para demit mulai rakus: mereka datang di luar jadwal (siang hari, saat Trio Gagak tidur), menagih sate tanpa bayar, dan bahkan marah besar jika stok habis. Genderuwo ancam hancurkan warung jika tak dapat pesanan ekstra, kuntilanak jerit-jerit bikin tetangga curiga, dan pocong mulai “lompat” ke rumah-rumah mereka. Rahasia pesugihan bocor ke Andini, yang awalnya kaget tapi akhirnya ikut bantu (dengan sentuhan komedi: ia ajarin demit resep sehat). Konflik memuncak saat para makhluk gaib “mogok” dan tuntut kontrak abadi—atau konsekuensi mematikan: jiwa Trio Gagak jadi milik mereka. Visual horornya intens tapi tak gore: bayangan gelap, suara jeritan, dan jump scare absurd seperti sate gagak “hidup” dan terbang sendiri.

Resolusi dan Pesan Moral

Dalam klimaks yang penuh ketegangan lucu, Trio Gagak sadar bahwa pesugihan ini bukan solusi, melainkan jerat keserakahan. Mereka harus putuskan: lanjutkan kaya tapi hilang nyawa, atau korbankan harta demi selamat? Dengan bantuan Andini dan buku mantra yang ternyata punya “cara pembatalan”, mereka lakukan ritual balik: bakar sisa sate dan bacalah mantra penolakan. Pertarungan akhir melibatkan kejar-kejaran gaib di warung, di mana komedi dan horor bergantian—Indra selip di balik pocong, Dimas rekam “konten terakhir” sambil lari, Anto konfrontasi genderuwo dengan wajan panas.

Akhirnya, mereka berhasil lepas dari pesugihan, tapi dengan harga: kembali miskin, tapi lebih bijak. Anto dan Andini nikah sederhana tanpa mahar mewah, Dimas fokus konten autentik tanpa sensasi, Indra belajar hemat. Film ditutup dengan twist ringan: seekor gagak sungguhan nongol di warung, seolah “mengingatkan” mereka jangan ulangi kesalahan. Pesan moralnya kuat: kekayaan instan sering bawa malapetaka, lebih baik perjuangan halal meski pelan. Ending happy tapi bittersweet, dengan gelak tawa terakhir saat Trio Gagak janji “tidak capek miskin lagi—tapi capek bodoh iya!”

Daftar Pemain Pendukung dan Elemen Produksi

  • Yoriko Angeline sebagai Andini: Pasangan Anto yang kuat dan lucu.
  • Nunung sebagai Ibu Dimas: Pelawak senior yang bawa nuansa hangat.
  • Arief Didu sebagai tetangga usil.
  • Firza Valaza and Ence Bagus sebagai sahabat pendukung.
    Efek khusus sederhana tapi kreatif, musik latar campur gamelan Jawa dengan beat modern, dan lokasi syuting di Jawa Timur untuk autentisitas budaya.

Compatibility with children

Film Pesugihan Sate Gagak not suitable for children under 13 years of age, berdasarkan klasifikasi resmi dari Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia yang menyatakan bahwa film ini digolongkan untuk penonton usia 13 tahun ke atas (remaja). Alasan utamanya:

  • Elemen horor gaib: Meski disajikan dengan komedi absurd dan tidak ada kekerasan grafis atau gore berlebih, film ini menampilkan makhluk halus seperti kuntilanak, pocong, genderuwo, dan sundel bolong yang bisa menimbulkan ketakutan atau mimpi buruk bagi anak kecil. Ada jump scare, jeritan, dan suasana gelap malam hari yang intens.
  • Adult themes: Cerita membahas isu ekonomi seperti utang pinjol, mahar pernikahan, dan godaan kekayaan instan (pesugihan), yang lebih relevan untuk remaja atau dewasa. Dialog mengandung guyonan kasar ringan (meski tidak vulgar) dan sindiran sosial yang mungkin sulit dipahami anak-anak.
  • Tidak ada adegan berbahaya untuk ditiru: LSF menegaskan film ini aman dari konten seperti kekerasan ekstrem, pergaulan bebas, atau narkoba, tapi tetap dihindari untuk anak karena potensi gangguan jiwa dari elemen supranatural.

Jika untuk keluarga, disarankan ditonton bersama remaja (13+) dengan diskusi setelahnya tentang pesan moralnya. Untuk anak di bawah itu, pilih film animasi atau komedi keluarga yang lebih ringan. Film ini lebih pas untuk penonton yang suka horor ringan ala Rumah Kentang atau komedi absurd seperti karya Ardit Erwandha sebelumnya.

 

This content is restricted!

Help us review the content you've watched. Login here.

Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank