
Community Rating






Pangku
Pangku adalah film drama Indonesia yang dirilis pada 6 November 2025, menandai debut penyutradaraan Reza Rahadian setelah karir panjangnya sebagai aktor pemenang Piala Citra. Film ini diproduksi oleh rumah produksi Gambar Gerak milik Reza dan Arya Ibrahim, dengan skenario yang ditulis oleh Reza bersama Felix K. Nesi. Berlatar di wilayah pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura), khususnya daerah Eretan Kulon yang kumuh dan keras, film ini mengangkat realitas sosial yang jarang tergambar di layar lebar: kehidupan perempuan pekerja warung kopi “kopi pangku”—sebuah tradisi lokal di mana pelayan perempuan menemani pelanggan pria sambil duduk di pangkuannya saat menikmati kopi. Judul “Pangku” bukan hanya merujuk pada tradisi tersebut, tapi juga melambangkan filosofi hidup: melindungi dan bertahan di tengah keterbatasan, serta simbol ketergantungan yang membatasi kebebasan.
Film ini dibangun dari riset mendalam sejak Februari 2024, di mana tim produksi tinggal di Pantura untuk berinteraksi langsung dengan perempuan yang pernah bekerja di dunia “kopi pangku”. Hasilnya adalah narasi yang autentik, emosional, dan kental dengan nuansa kehidupan marginal, tanpa terlalu bergantung pada dialog panjang atau adegan dramatis berlebihan. Sebaliknya, cerita mengalir lambat (slow burn) dengan detail kecil yang menyentuh, seperti suara ombak Pantura, bau ikan segar dari truk pengangkut, dan interaksi sehari-hari yang penuh stigma. Durasi film sekitar 1 jam 40 menit, dengan sinematografi yang indah namun kelam, menangkap esensi perjuangan kelas pekerja yang sering terlupakan.
Plot Lengkap (Spoiler-Free Ringkasan, diikuti Analisis Mendalam)
The story focuses on Sartika (diperankan oleh Claresta Taufan), seorang perempuan muda yang hamil di luar nikah dan ditinggalkan oleh pasangannya. Tanpa dukungan keluarga atau ayah anaknya, Sartika memutuskan meninggalkan kota asalnya untuk mencari kehidupan baru di Pantura, berharap bisa memberikan masa depan lebih baik bagi bayi yang dikandungnya. Perjalanannya penuh rintangan: ia ditolak oleh sopir truk yang menganggap kehamilannya sebagai “pertanda sial”, dan akhirnya tiba di Eretan Kulon dalam kondisi putus asa.
Di sana, Sartika bertemu Bu Maya (Christine Hakim), pemilik kedai kopi yang dikenal dermawan dan suka menolong perempuan terlantar. Bu Maya merawat Sartika selama kehamilan, menyediakan tempat tinggal, makanan, dan bantuan medis hingga persalinan. Namun, di balik ketulusan itu tersembunyi motif lain: setelah Sartika melahirkan seorang bayi laki-laki, Bu Maya memanfaatkan kerentanan finansialnya untuk “menjebak” Sartika bekerja sebagai pelayan di kedai kopinya. Pekerjaan itu ternyata adalah “kopi pangku”—profesi penuh eksploitasi di mana Sartika harus duduk di pangku pelanggan pria, menemani mereka minum kopi sambil menghadapi pelecehan verbal, tatapan merendahkan, dan tekanan ekonomi yang memaksa ia bertahan demi membesarkan anaknya.
Di tengah rutinitas yang melelahkan dan stigmatis, Sartika bertemu Hadi (Fedi Nuril), seorang sopir truk pengangkut ikan segar yang sederhana dan penyayang. Hadi, yang juga bergulat dengan masa lalunya sendiri, mulai mendekati Sartika dengan kebaikan tulus. Hubungan mereka berkembang perlahan menjadi kisah cinta yang hangat, di mana Hadi belajar menjadi “ayah sejati” bagi anak Sartika, sambil menghadapi tantangan dari lingkungan Pantura yang keras. Cerita juga menyentuh peran Bayu (Shakeel Fauzi) dan Gilang (Devano Danendra), dua anak muda yang mewakili generasi muda di tengah kemiskinan, serta mengeksplorasi dinamika keluarga Bu Maya yang rumit.
Sepanjang film, Reza Rahadian menyisipkan plot twist kecil di paruh akhir yang mengubah persepsi penonton terhadap salah satu karakter utama, tanpa terasa dipaksakan. Akhir cerita menekankan tema penebusan, di mana “memangku” bukan hanya beban, tapi juga bentuk saling jaga antarmanusia dalam keterbatasan. Film ini telah sukses di kancah internasional, meraih empat penghargaan di Busan International Film Festival (BIFF) 2025 pada kategori Visions – Asia, termasuk Best Director untuk Reza dan Best Actress untuk Claresta.
Themes and key elements
- Perjuangan Ibu Tunggal dan Kemiskinan: Film ini kuat dalam menggambarkan realitas perempuan Pantura yang terjebak siklus eksploitasi karena kurangnya pilihan ekonomi. Sartika mewakili jutaan ibu yang “memangku” mimpi anaknya di tengah stigma sosial.
- Cinta dan Penebusan: Hubungan Sartika-Hadi menawarkan harapan, menunjukkan bagaimana cinta bisa lahir dari rutinitas sederhana, sambil mengeksplorasi apa artinya menjadi ayah di masyarakat patriarkal.
- Kritik Sosial: Reza tidak menghakimi tradisi “kopi pangku”, tapi menyoroti bagaimana ia menjadi jerat bagi perempuan miskin, serta isu seperti kekerasan berbasis gender, migrasi internal, dan ketidakadilan kelas.
- Narrative Style: Visual yang poetis (misalnya, adegan Sartika memandang laut sambil menggendong anak) kontras dengan realisme kasar, menciptakan emosi yang mendalam tanpa melankolis berlebih. Soundtrack minimalis memperkuat nuansa lokal Jawa.
Main Cast
| Characters | Cast | Brief Description |
| Sartika | Claresta Taufan | Ibu muda yang tangguh, berjuang demi anaknya di tengah eksploitasi. |
| Hadi | Fedi Nuril | Sopir truk penyayang yang belajar tanggung jawab keluarga. |
| Bu Maya | Christine Hakim | Pemilik kedai kopi yang ambigu: penolong sekaligus eksploitator. |
| Bayu | Shakeel Fauzi | Teman Sartika, mewakili semangat muda di Pantura. |
| Gilang | Devano Danendra | Anak Bu Maya, menambah lapisan dinamika keluarga. |
Film ini mendapat rating 8.0/10 di IMDb dari 168 ulasan awal, dipuji karena akting autentik (khususnya Claresta yang debut besar) dan pesan moral yang subtil, tanpa terasa menggurui.
Kecocokan dengan Anak (Suitability for Children)
Pangku bukan film yang direkomendasikan untuk anak-anak, terutama di bawah usia 17 tahun. Meskipun tidak ada rating resmi eksplisit yang disebutkan di sumber utama (seperti Lembaga Sensor Film Indonesia atau MPAA), tema dan kontennya jelas dewasa berdasarkan deskripsi plot dan review:
- Alasan Tidak Cocok:
- Sensitive Themes: Mengandung elemen eksploitasi seksual ringan (tradisi “kopi pangku” melibatkan kontak fisik sugestif, tatapan merendahkan, dan implikasi pelecehan), kemiskinan ekstrem, kehamilan di luar nikah, serta tekanan emosional seperti manipulasi dan stigma sosial. Ini bisa membingungkan atau traumatis bagi anak, karena menyoroti realitas kelam perempuan tanpa filter.
- Konten Potensial: Adegan yang menampilkan interaksi intim (meski tidak eksplisit atau grafis), bahasa kasar sehari-hari, dan situasi kekerasan verbal/fisik ringan. Review menyebutnya “eksplisit dan kelam”, dengan fokus pada perjuangan ibu tunggal yang penuh stigma—bukan hiburan ringan.
- Usia Minimum yang Disarankan: Setara dengan rating R-13 atau PG-13 (cocok untuk remaja 13+ tahun ke atas, dengan pengawasan orang tua). Anak di bawah 13 tahun sebaiknya dihindari sepenuhnya, karena bisa memengaruhi pemahaman mereka tentang gender, seks, dan kemiskinan. Bahkan untuk remaja, diskusi pasca-tayang diperlukan untuk mengolah emosinya.
- Rekomendasi Orang Tua: Jika ingin menonton bersama anak remaja (15+), gunakan sebagai bahan diskusi tentang empati sosial dan perjuangan perempuan. Namun, untuk anak usia dini atau SD, pilih film keluarga seperti animasi atau komedi ringan. Film ini lebih ditujukan untuk penonton dewasa yang siap merefleksikan isu sosial Indonesia kontemporer.
Overall, Pangku adalah karya debut yang brilian dari Reza Rahadian—kuat, menyentuh, dan relevan—tapi tetap jadi tontonan dewasa yang menggugah refleksi, bukan hiburan anak-anak.
This content is restricted!
Help us review the content you've watched. Login here.
See More Movies
Related products
- Film
Moana
- Film
Big Hero 6
- Film
Wish
Community Rating




