
Community Rating






Frankenstein (2025)
Dalam adaptasi visioner karya Guillermo del Toro dari novel klasik Mary Shelley, “Frankenstein” (2025) menceritakan kisah Dr. Victor Frankenstein (diperankan oleh Oscar Isaac), seorang ilmuwan jenius yang ambisius dan egois. Didorong oleh rasa ingin tahu yang membara dan trauma pribadi, Victor melakukan eksperimen mengerikan di laboratorium rahasianya pada era Victoria tahun 1857: menghidupkan kembali mayat dengan kekuatan listrik, menciptakan makhluk raksasa yang terbentuk dari potongan-potongan jasad manusia (diperankan oleh Jacob Elordi). Awalnya, makhluk ini adalah keajaiban ilmiah—kuat, polos, dan penuh potensi—namun segera menjadi simbol tragedi saat Victor membuangnya karena ketakutan dan penyesalan.
Makhluk yang kesepian itu, yang belajar tentang dunia melalui pengamatan diam-diam terhadap keluarga petani sederhana, mulai menuntut pengakuan dan kasih sayang dari penciptanya. Penolakan Victor memicu pemberontakan berdarah, di mana makhluk membalas dendam dengan menghancurkan segala yang dicinta Victor, termasuk tunangannya Elizabeth (Mia Goth) dan saudara-saudaranya. Dibumbui elemen gotik romantis ala del Toro—dengan visual mencolok berwarna merah-hitam, set praktis megah, dan musik lirik dari Alexandre Desplat—film ini mengeksplorasi tema mendalam tentang penciptaan, penolakan, ayah yang buruk, dan esensi kemanusiaan. Bukan sekadar horor, ini adalah tragedi filosofis yang menyentuh, di mana batas antara monster dan manusia kabur, berujung pada kehancuran bersama pencipta dan ciptaannya.
Film berdurasi 2,5 jam ini tayang perdana di Festival Film Venesia Agustus 2025, rilis teatrikal terbatas 17 Oktober 2025, dan eksklusif di Netflix sejak 7 November 2025. Dengan pemeran pendukung seperti Christoph Waltz sebagai Profesor Waldman dan David Bradley sebagai pria buta yang baik hati, adaptasi ini setia pada inti novel sambil menambahkan sentuhan pribadi del Toro, membuatnya terasa segar dan emosional.
### Kecocokan dengan Anak
“Frankenstein” (2025) **tidak cocok untuk anak-anak di bawah usia 16 tahun**, dan direkomendasikan hanya untuk remaja dewasa atau orang tua dengan pengawasan ketat. Alasan utamanya adalah elemen horor gotik yang intens, termasuk adegan kekerasan grafis (seperti pembunuhan brutal, anggota tubuh terpotong, dan serangan binatang buas), gambar mayat dan eksperimen bedah yang mengerikan, serta tema gelap seperti isolasi emosional, balas dendam, dan kematian yang bisa menimbulkan mimpi buruk atau ketakutan berkepanjangan pada anak kecil. Meskipun del Toro menekankan aspek empati dan lirik (bukan gore murahan), film ini tetap menyeramkan dan filosofis, mirip dengan “The Shape of Water” tapi lebih tragis.
Rating MPAA: R (Restricted, di bawah 17 tahun butuh pendamping orang tua). Di Indonesia, setara dengan “17+” atau “R13” tergantung sensor. Jika untuk keluarga, tonton dulu sendiri untuk menilai; alternatif yang lebih ramah anak adalah versi animasi “Frankenweenie” karya Tim Burton (2012), yang lebih ringan dan lucu.
This content is restricted!
Help us review the content you've watched. Login here.
See More Movies
Related products
Community Rating




