Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank
blank

Do You See What I See

Film horor supranatural Indonesia Do You See What I See (also known as Do You See What I See: Horror Story #64 First Love) yang disutradarai oleh Awi Suryadi ini diangkat dari salah satu episode podcast horor paling populer karya Mizter Popo, yaitu episode 64 berjudul “First Love”. Berlatar tahun 1996, film ini mengisahkan kisah persahabatan, kesepian, cinta pertama yang keliru, dan konsekuensi mengerikan dari sebuah ritual serta hubungan dengan dunia gaib.

Rose (Diandra Agatha) adalah seorang mahasiswi yang tinggal di kos-kosan bersama beberapa teman dekatnya, termasuk sahabat terbaiknya Vey (Shenina Cinnamon) dan Kartika (Sonia Alyssa). Sejak ditinggal kedua orang tuanya secara tragis, Mawar sering merasa sangat kesepian meski dikelilingi teman-teman kos. Di hari ulang tahunnya, dalam kesendirian dan keputusasaan, Mawar secara tidak sengaja berdoa atau mengungkapkan harapan di tempat yang salah (ada indikasi di area makam/graveyard) agar diberi sosok pendamping pria yang bisa mencintai dan menemaninya.

Tak disangka, harapan itu terkabul dengan sangat cepat. Muncul sosok pria tampan bernama Restu (Yesaya Abraham) yang diklaim Mawar sebagai “kakak” atau pacar pertamanya. Mawar tampak sangat bahagia, sering bercerita pada Vey tentang betapa manis dan perhatiannya Restu. Mereka sering bertemu di ruang tamu kos setiap malam, meski anehnya teman-teman lain tidak pernah melihat keberadaan Restu secara fisik.

Namun, kebahagiaan itu perlahan berubah menjadi kengerian. Perilaku Mawar mulai berubah drastis: dia sering melamun, kehilangan empati, sleepwalking, mendengar telepon yang hanya dia dengar, dan semakin memprioritaskan “pacarnya” di atas segalanya. Teman-temannya mulai curiga dan khawatir karena Mawar tampak seperti dirasuki atau dikendalikan sesuatu. Ketika Vey akhirnya bertemu “Restu” secara langsung di depan pintu kos, yang dia lihat bukan manusia biasa, melainkan sosok pocong berjubah kotor yang mengerikan.

Ternyata Restu adalah arwah pocong yang terikat dengan ritual hitam yang pernah dilakukan ayah Mawar di masa lalu. Ritual tersebut melibatkan mayat manusia (Restu) yang dikubur khusus untuk mendatangkan kekayaan dan keberuntungan bagi keluarga. Mawar kecil pernah menyaksikan ritual itu, dan nasib tragis keluarganya (kematian anggota keluarga, bunuh diri, gangguan jiwa) ternyata berawal dari sana. Kini, arwah Restu “memilih” Mawar sebagai pasangan abadi di dunia lain, menyeretnya ke dalam hubungan beracun yang berujung pada kematian.

Vey, Kartika, dan teman-teman lainnya berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Mawar. Mereka melakukan investigasi, mengunjungi rumah lama keluarga Mawar, menemukan ruang rahasia berisi mayat membusuk, petunjuk ritual, dan akhirnya menghadapi sosok pocong tersebut secara langsung di kuburan. Film ini penuh dengan jumpscare, atmosfer gelap, pencahayaan remang-remang, efek praktis mayat yang cukup mengerikan, serta nuansa nostalgia 90an (pengumuman kematian Tupac di radio, dll).

Ending film ini cukup kelam dan tidak sepenuhnya happy ending seperti kebanyakan film horor Indonesia. (Catatan: ada elemen spoiler besar di bagian akhir terkait nasib Mawar dan apakah teman-temannya benar-benar berhasil menyelamatkannya sepenuhnya.)

Kecocokan untuk Tontonan Anak?

Sangat tidak cocok sama sekali untuk anak-anak (bahkan remaja di bawah 17 tahun sebaiknya ditonton dengan pengawasan ketat atau lebih baik dihindari).

Alasan utama:

  • Termasuk genre horror supranatural murni dengan rating TV-MA (dewasa) di Netflix
  • Mengandung banyak jumpscare, adegan mayat membusuk, pocong, ritual hitam, dan penampakan hantu yang cukup menyeramkan
  • Ada elemen psychological horror (gangguan jiwa, kesepian ekstrem, hubungan toksik dengan makhluk gaib)
  • Themes kematian, bunuh diri, keluarga yang hancur, serta ending yang gelap dan menyedihkan
  • Beberapa adegan tergolong cukup disturbing dan tidak cocok untuk anak karena bisa menimbulkan ketakutan berkepanjangan atau mimpi buruk

Film ini lebih ditujukan untuk penonton dewasa atau minimal remaja akhir (18+) yang sudah terbiasa dengan film horor Indonesia seperti series Jurnal Risa, Pengabdi Setan, atau KKN di Desa Penari. Jika untuk anak kecil atau tontonan keluarga, jauh lebih baik pilih film animasi atau genre lain yang lebih ringan.

This content is restricted!

Help us review the content you've watched. Login here.

Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank