Biografi Albus Dumbledore

Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore lahir di musim panas tahun 1881, kemungkinan besar antara akhir Juli dan Agustus, di desa kecil Mould-on-the-Wold yang mayoritas dihuni para penyihir. Ayahnya, Percival Dumbledore, adalah penyihir murni, sementara ibunya, Kendra, lahir dari keluarga Muggle. Mereka punya tiga anak: Albus sebagai yang sulung, diikuti Aberforth beberapa tahun kemudian, dan Ariana yang paling bungsu.

Kehidupan keluarganya berubah total saat Ariana berusia sekitar enam tahun. Tiga anak Muggle melihatnya memakai sihir di halaman belakang rumah dan menyerangnya dengan brutal. Ariana tak pernah pulih sepenuhnya. Maganya jadi tak terkendali, sering meledak tanpa peringatan. Percival membalas dendam dengan menyerang ketiga anak itu, lalu dijebloskan ke Azkaban seumur hidup. Kendra segera memindahkan keluarga ke Godric’s Hollow supaya bisa menyembunyikan Ariana dari dunia luar. Orang-orang desa hanya tahu ada “saudara perempuan yang sakit-sakitan” di rumah itu.

Albus masuk Hogwarts tahun 1892 dan langsung masuk asrama Gryffindor. Dia bukan sekadar siswa pintar. Di tahun keempat, dia “secara tidak sengaja” membakar tirai ranjang di asramanya (meski dia sendiri mengaku memang tidak suka tirainya). Di tahun kelima dia jadi prefek, di tahun ketujuh jadi Head Boy. Dia memenangkan Barnabus Finkley Prize for Exceptional Spell-Casting, mewakili Inggris muda di Wizengamot, dan dapat medali emas di konferensi alkimia internasional di Kairo. Teman seangkatannya, Elphias Doge, bilang Albus adalah siswa paling cemerlang yang pernah dilahirkan Hogwarts.

Tepat saat dia mau lulus dan pergi berkeliling dunia bersama Doge, ibunya tiba-tiba meninggal. Ariana yang sedang meledak maganya tak sengaja membunuh Kendra. Albus yang baru berusia delapan belas tahun terpaksa pulang dan mengurus adik-adiknya. Di musim panas 1899 itu juga dia bertemu Gellert Grindelwald, cucu Bathilda Bagshot yang sedang tinggal di Godric’s Hollow. Mereka saling jatuh hati. Hubungan mereka intens, penuh ide-ide besar tentang menyatukan dunia penyihir dan Muggle “demi kebaikan yang lebih besar”. Mereka bahkan membuat blood pact supaya tidak bisa saling melukai.

Aberforth tidak setuju. Dia bilang Albus terlalu sibuk bermimpi dan mengabaikan Ariana. Tiga orang itu berduel di rumah. Satu kutukan nyasar mengenai Ariana. Tidak pernah diketahui siapa yang melemparnya. Grindelwald kabur. Albus patah hidungnya dipukul Aberforth di pemakaman adiknya. Sejak hari itu Albus tak pernah lagi mencari kekuasaan absolut. Dia takut sekali mengetahui kebenaran tentang siapa yang membunuh Ariana.

Setelah itu Albus kembali ke Hogwarts sebagai guru Transfigurasi. Dia menemukan dua belas cara memakai darah naga (meski ada penyihir bernama Ivor Dillonsby yang bilang delapan di antaranya sudah dia temukan dulu dan catatan-catatannya “dipinjam”). Dia bekerja sama dengan Nicolas Flamel dalam alkimia. Dia menciptakan Deluminator, benda kecil yang bisa menghisap cahaya dari lampu lalu mengembalikannya kapan saja. Dia juga bisa bicara Mermish, Gobbledegook, dan mengerti Parseltongue meski bukan keturunan Slytherin.

Tahun 1945 dia akhirnya menghadapi Grindelwald dalam duel legendaris. Albus menang dan mendapat Elder Wand. Dia jadi Kepala Sekolah Hogwarts menggantikan Armando Dippet. Di masa mudanya dia sempat menolak Voldemort yang datang minta pekerjaan di Hogwarts. Dia juga yang menanam Whomping Willow supaya Remus Lupin bisa keluar-masuk Shrieking Shack saat bulan purnama tanpa membahayakan orang lain.

Di film Fantastic Beasts kita tahu lebih banyak. Albus dan Grindelwald punya blood pact yang menghalangi mereka saling bertarung langsung. Dia mengirim Newt Scamander ke Amerika untuk urusan Thunderbird, lalu ke Paris untuk membantu Credence Barebone. Credence ternyata bukan saudara kandung Albus, melainkan anak haram Aberforth yang lahir sekitar tahun 1900-1901. Phoenix yang selalu mendampingi Credence adalah tanda bahwa dia sedang sekarat karena Obscurus di dalam dirinya.

Albus punya beberapa kebiasaan aneh yang jarang dibahas. Di lutut kirinya ada bekas luka berbentuk peta London Underground. Dia suka permen Muggle seperti sherbet lemon, dan password kantornya sering berubah-ubah sesuai permen favoritnya (Acid Pops, Cockroach Clusters, dan seterusnya). Kalau dia melihat Mirror of Erised, dia tidak melihat kaus kaki tebal seperti yang dia bilang ke Harry. Dia melihat keluarganya utuh: Percival, Kendra, Ariana masih hidup, dan Aberforth sudah berdamai dengannya. Boggart-nya berbentuk mayat Ariana. Patronusnya adalah phoenix, sama seperti Fawkes yang menemaninya puluhan tahun.

Dia pernah memiliki ketiga Deathly Hallows dalam hidupnya: Elder Wand dari Grindelwald, Invisibility Cloak milik James Potter yang dia pinjam dan simpan untuk Harry, serta Resurrection Stone yang dia temukan di cincin Gaunt (dan langsung mengutuk tangannya sendiri karena terlalu ingin melihat keluarganya lagi).

Albus meninggal pada 30 Juni 1997 di menara Astronomi Hogwarts. Dia sudah merencanakan kematiannya bersama Severus Snape supaya Draco Malfoy tidak harus membunuhnya dan posisi Snape sebagai mata-mata tetap aman. Dia dimakamkan di tanah Hogwarts dalam makam marmer putih.

Itulah Albus Dumbledore. Bukan sekadar kakek tua bijak yang suka permen lemon. Dia manusia biasa yang pernah jatuh cinta, pernah membuat kesalahan besar, pernah takut, dan akhirnya memilih menjadi orang yang melindungi orang lain meski harus menanggung beban sendirian sampai akhir hayat.

 

About Writer

Other Characters

Dandadan

Review Anime: Dandadan   Judul: Dandadan Genre: Aksi, Komedi, Fiksi Ilmiah, Supernatural, Okultisme, Romansa Studio:

Read More