Tokyo Revengers

Tokyo Revengers

“Tokyo Revengers” adalah serial anime dan manga yang mengisahkan Takemichi Hanagaki, seorang pemuda yang hidupnya stagnan dan penuh penyesalan. Setelah mengetahui bahwa mantan pacarnya, Hinata Tachibana, tewas akibat konflik geng, Takemichi secara tak sengaja kembali ke masa lalu ke era sekolah menengahnya. Di sana, ia bertekad mengubah masa depan dengan bergabung ke dalam geng Tokyo Manji dan mencegah tragedi yang menimpa orang-orang yang ia sayangi. Cerita ini penuh dengan aksi, drama, dan elemen perjalanan waktu, serta menampilkan tema persahabatan, pengorbanan, dan penebusan.
Kecocokan dengan tontonan anak: “Tokyo Revengers” kurang cocok untuk anak-anak karena mengandung kekerasan fisik yang cukup intens, konflik geng, bahasa kasar, dan tema-tema berat seperti kematian serta trauma emosional. Serial ini lebih ditujukan untuk remaja yang lebih tua (usia 15 tahun ke atas) atau dewasa muda yang bisa memahami kompleksitas emosi dan moral dalam ceritanya. Untuk anak-anak, tontonan ini bisa terlalu gelap dan mengganggu, sehingga disarankan untuk memilih alternatif yang lebih ringan dan sesuai dengan usia mereka, seperti anime dengan tema petualangan atau komedi yang lebih ramah anak.

Questions & Answers

No questions yet. Be the first to ask!

S
Screen Score Editor Review
3.0 ★★★★★

Tokyo Revengers bercerita tentang Takemichi, pemuda dewasa yang bisa kembali ke masa SMP untuk menyelamatkan mantan pacarnya dari kematian akibat terlibat geng motor. Cerita ini penuh dengan adegan perkelahian antar geng, darah, dan luka-luka. Ada adegan karakter yang dipukuli sampai babak belur, bahkan ada yang meninggal. Jelas ini bukan untuk anak di bawah 15 tahun, bahkan remaja 15-17 tahun perlu pendampingan orang tua. Pesan positifnya cukup kuat: tentang persahabatan, tekad mengubah masa depan, dan berani melawan ketidakadilan. Namun, kekerasan fisiknya sangat eksplisit dan sering terjadi. Selain itu, banyak tokoh yang merokok, terutama di adegan santai atau tegang. Bahasa kasarnya juga lumayan, seperti 'brengsek', 'bangsat', dan makian lainnya. Tidak ada adegan seksual, hanya ciuman di pipi atau pelukan. Keberagaman kurang terlihat karena semua karakter Jepang. Kesimpulannya, saya tidak merekomendasikan untuk anak di bawah 15 tahun. Untuk remaja yang sudah paham beda fiksi dan nyata, boleh ditonton dengan diskusi tentang kekerasan dan pilihan hidup.

About Writer