The Son (2022)

The Son (2022)

Sinopsis Film “The Son” (2022)

“The Son” adalah film drama psikologis yang disutradarai oleh Florian Zeller (sutradara The Father), diadaptasi dari drama panggung karyanya sendiri. Film ini dibintangi Hugh Jackman sebagai Peter Miller, Laura Dern sebagai Kate (mantan istrinya), Vanessa Kirby sebagai Beth (istri barunya), dan Zen McGrath sebagai Nicholas (putra remajanya). Anthony Hopkins juga muncul dalam peran pendukung penting sebagai ayah Peter.

Cerita berpusat pada Peter Miller, seorang pengacara sukses di Manhattan yang sedang menjalani kehidupan baru. Ia baru menikah lagi dengan Beth dan mereka memiliki bayi laki-laki bernama Theo. Hidup Peter yang sibuk dan tampak sempurna tiba-tiba terguncang ketika mantan istrinya, Kate, datang menemuinya dengan kabar buruk: putra mereka yang berusia 17 tahun, Nicholas, mengalami depresi berat. Nicholas sudah berbulan-bulan tidak masuk sekolah, menarik diri dari kehidupan sosial, dan menunjukkan tanda-tanda gangguan mental yang serius.

Meskipun hubungannya dengan Nicholas sudah renggang sejak perceraian, Peter merasa bertanggung jawab. Ia memutuskan untuk membawa Nicholas tinggal bersamanya, Beth, dan bayi Theo di apartemen mewah mereka. Peter ingin menjadi ayah yang baik bagi Nicholas—berbeda jauh dari pengalaman masa kecilnya sendiri, di mana ayahnya (Anthony Hopkins) sangat dingin, absen, dan kejam secara emosional. Peter berusaha “memperbaiki” masa lalu dengan memberikan perhatian penuh kepada anaknya, sambil tetap mengejar karier politiknya yang sedang naik daun (ia mendapat tawaran posisi impian di Washington).

Awalnya, situasi tampak membaik. Nicholas mulai tersenyum lagi, berbicara lebih terbuka, dan seolah-olah mulai pulih. Namun, perlahan-lahan gejala depresi Nicholas kembali muncul dengan lebih parah: perasaan tidak berharga, isolasi diri, episode self-harm (melukai diri sendiri), dan rasa putus asa yang mendalam. Peter dan Kate berusaha mencari bantuan profesional, termasuk terapi dan pengobatan, tapi komunikasi antar anggota keluarga yang retak membuat upaya mereka seringkali setengah hati atau salah arah.

Film ini mengeksplorasi tema berat seputar depresi remaja, dampak perceraian terhadap anak, rasa bersalah orang tua, trauma antargenerasi, dan betapa sulitnya memahami serta membantu seseorang yang sedang berjuang dengan kesehatan mental. Ketegangan meningkat ketika krisis mencapai puncaknya, menguji batas kemampuan Peter sebagai ayah, suami, dan manusia. Cerita bergerak dengan intensitas emosional yang tinggi, menunjukkan bagaimana upaya “baik” seseorang kadang justru memperburuk situasi karena kurangnya pemahaman mendalam terhadap penderitaan orang lain.

Ending film ini sangat tragis dan emosional, meninggalkan penonton dengan perasaan hancur sekaligus refleksi mendalam tentang tanggung jawab keluarga dalam menghadapi penyakit mental. Banyak penonton melaporkan menangis tersedu-sedu, terutama orang tua yang pernah mengalami atau menyaksikan isu serupa.

Kecocokan dengan Tontonan Anak

Film ini sangat tidak cocok untuk ditonton anak-anak atau remaja di bawah umur 15–16 tahun, bahkan untuk banyak remaja di bawah 17 tahun pun bisa terlalu berat.

  • Rating resmi: PG-13 (MPAA) karena “mature thematic content involving suicide, and strong language”.
  • Alasan utama tidak cocok untuk anak:
    • Tema utama adalah depresi berat, self-harm (melukai diri sendiri), dan percobaan bunuh diri (ada referensi kuat dan implikasi adegan terkait).
    • Ada diskusi mendalam dan berulang tentang bunuh diri, rasa putus asa, serta dampak psikologis yang sangat gelap.
    • Bahasa kasar (termasuk beberapa kata F-word, shit, dll.).
    • Emosi yang sangat intens dan menyedihkan—banyak orang dewasa saja merasa “hancur” atau trauma setelah menontonnya.
    • Tidak ada kekerasan grafis fisik yang ekstrem, tapi dampak emosionalnya sangat kuat dan bisa memicu perasaan tidak nyaman, kecemasan, atau kesedihan mendalam, terutama bagi anak/remaja yang sensitif atau sedang mengalami masalah mental.

Rekomendasi:

  • Untuk anak di bawah 14 tahun → Sangat tidak disarankan sama sekali.
  • Untuk remaja 14–16 tahun → Hanya jika bersama orang tua/wali yang siap mendiskusikan isu kesehatan mental setelahnya, dan jika remaja tersebut sudah cukup matang secara emosional.
  • Untuk penonton 17+ atau dewasa → Cocok jika Anda siap menghadapi cerita yang berat dan ingin refleksi tentang isu keluarga & kesehatan mental.

Film ini lebih sebagai tontonan orang dewasa yang ingin memahami kompleksitas depresi dan hubungan orang tua-anak, bukan hiburan ringan atau tontonan keluarga biasa. Jika Anda mencari film untuk ditonton bareng anak, jauh lebih baik pilih genre lain yang lebih positif dan ringan.

 

Questions & Answers

No questions yet. Be the first to ask!

S
Screen Score Editor Review
2.0 ★★★★★

Film The Son sebenarnya tentang keluarga yang berantakan setelah orang tua bercerai. Cerita berpusat pada Nicholas, remaja yang tinggal dengan ibunya, lalu pindah ke ayahnya yang sibuk bekerja. Sayangnya, film ini sangat berat dan gelap, penuh adegan anak yang depresi, menyakiti diri sendiri, dan akhirnya bunuh diri. Sama sekali nggak cocok untuk anak-anak atau remaja di bawah 17 tahun. Pesan positif yang bisa diambil sebenarnya tentang pentingnya dukungan keluarga, tapi cara penyampaiannya terlalu suram dan traumatis. Orang tua perlu waspada banget sama adegan kekerasan fisik ringan (Nicholas mukul meja), bahasa kasar yang sering keluar seperti 'sialan', dan yang paling parah, adegan bunuh diri yang eksplisit (tanpa darah tapi jelas tembakan). Nggak ada adegan seksual atau merokok, tapi alkohol disebut beberapa kali. Keberagaman juga minim karena semua pemain kulit putih. Intinya, film ini lebih cocok untuk orang dewasa yang mau belajar tentang kesehatan mental, bukan untuk anak-anak atau remaja.

About Writer