
Community Rating






The Medium
“The Medium” adalah film horor supranatural berformat mockumentary (dokumenter fiktif) produksi Thailand-Korea Selatan tahun 2021, disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun dan diproduseri Na Hong-jin. Film ini berlatar di wilayah Isan, Thailand Timur Laut, yang kental dengan kepercayaan mistis dan shamanisme. Cerita berpusat pada Nim, seorang dukun yang dianggap menjadi perantara roh Dewa Bayan, dewa yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarganya. Awalnya, Noi, kakak Nim, dipilih sebagai medium, tetapi ia menolak dan memeluk agama Kristen, sehingga peran itu beralih ke Nim.
Kisah berlanjut ketika tim dokumenter mengikuti kehidupan Nim dan menemukan perilaku aneh pada Mink, putri Noi. Mink menunjukkan gejala kepribadian ganda, seperti berperilaku layaknya anak kecil, pemabuk, atau pelacur, hingga mengalami gangguan fisik dan mental yang parah. Awalnya, Nim mengira Mink dipilih oleh Dewa Bayan, tetapi kemudian terungkap bahwa Mink dirasuki oleh roh-roh jahat akibat kutukan keluarga ayahnya, Yasantia, yang terkait dengan sejarah kelam pembantaian di masa lalu. Film ini memadukan elemen horor psikologis, ritual mistis, dan ketegangan yang intens, dengan gaya pengambilan gambar ala dokumenter yang membuat suasana terasa nyata dan mencekam.
Kecocokan dengan Anak
Film “The Medium” sama sekali tidak cocok untuk anak-anak. Berdasarkan penilaian Lembaga Sensor Film Indonesia (LSF), film ini mengandung adegan kekerasan, kekejaman, dan elemen horor yang dapat mengganggu psikologis penonton muda. Beberapa alasan spesifik meliputi:
- Konten Horor dan Kekerasan: Film ini menampilkan adegan kerasukan, ritual pengusiran setan, darah, dan perilaku sadis, seperti Mink yang merebus anjing hidup-hidup atau menyakiti orang lain, yang dapat menimbulkan ketakutan atau trauma pada anak.
- Tema Berat: Cerita melibatkan isu sensitif seperti kutukan keluarga, inses, bunuh diri, dan pengorbanan, yang sulit dipahami anak-anak dan tidak sesuai untuk mereka.
- Elemen Psikologis: Perubahan perilaku Mink yang ekstrem, seperti kepribadian ganda dan penderitaan fisik (misalnya, perdarahan), dapat membingungkan atau mengganggu anak.
-
Klasifikasi Usia: Film ini diklasifikasikan untuk penonton dewasa (17+ atau 21+ di beberapa negara) karena kontennya yang eksplisit dan intens.
Rekomendasi: Orang tua sebaiknya menghindari menunjukkan film ini kepada anak-anak di bawah usia 17 tahun. Jika ingin memperkenalkan anak pada film dengan tema budaya atau supranatural, pilih konten yang lebih ringan, seperti animasi atau film keluarga yang sesuai dengan usia mereka. Selalu periksa rating usia dan ulasan sebelum menonton bersama anak.
This content is restricted!
Bantu kami mengulas konten yang pernah Mama tonton. Login di sini.
Sinopsis Lengkap Film The Medium (2021)
The Medium adalah film horor supranatural bergaya mockumentary (dokumenter fiktif) produksi Thailand-Korea Selatan, disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun dan diproduseri oleh Na Hong-jin. Film ini berlatar di wilayah Isan, timur laut Thailand, dan mengangkat tema perdukunan, kepercayaan lokal, serta karma melalui narasi yang mencekam dan atmosfer kelam. Berikut sinopsis terlengkap berdasarkan informasi yang tersedia:
Cerita dimulai dengan kedatangan sekelompok kru dokumenter ke desa terpencil di Isan untuk mengabadikan kehidupan spiritual masyarakat setempat, khususnya praktik perdukunan yang masih kental. Mereka fokus pada Nim (Sawanee Utoomma), seorang dukun yang diyakini sebagai medium Dewa Bayan, dewa pelindung yang dihormati warga desa. Menurut kepercayaan lokal, Dewa Bayan merasuki perempuan dari garis keturunan tertentu secara turun-temurun untuk menjadi perantara antara dunia manusia dan roh. Nim menjelaskan bahwa kemampuan ini awalnya dimiliki neneknya, kemudian diturunkan ke kakaknya, Noi (Sirani Yankittikan). Namun, Noi menolak menjadi dukun dan memilih memeluk agama Kristen, sehingga Nim terpaksa menjadi medium Dewa Bayan.
Selama proses wawancara, Nim menceritakan sejarah keluarganya, khususnya nasib tragis anggota laki-laki. Kakek dari suami Noi, Wiroj, dirajam hingga tewas; Wiroj sendiri bunuh diri karena kebangkrutan; dan anak laki-laki Noi, Mac, tewas dalam kecelakaan sepeda motor. Kini, hanya perempuan yang tersisa di keluarga ini, yaitu Nim, Noi, dan anak perempuan Noi, Mink (Narilya Gulmongkolpech). Kru dokumenter juga bertemu dengan Mink, seorang remaja yang menjalani kehidupan modern dan, seperti ibunya, tidak mempercayai tradisi perdukunan serta menganut agama Kristen.
Namun, selama proses syuting, Mink mulai menunjukkan perilaku aneh. Ia sering berubah-ubah kepribadian, seolah memiliki kepribadian ganda: kadang seperti anak kecil, lansia, pemabuk, atau bahkan pelacur. Gejala ini semakin parah; Mink mengaku mendengar suara-suara di kepalanya, mengalami mimpi buruk, nyeri perut hebat, hingga perdarahan di area vagina. Puncaknya, Mink dipecat dari pekerjaannya setelah ketahuan berhubungan seksual di kantor, terekam oleh CCTV. Nim awalnya menduga bahwa Dewa Bayan berusaha merasuki Mink, seperti yang terjadi pada dirinya dan Noi di masa lalu. Namun, Noi dengan tegas menolak upacara penerimaan roh untuk putrinya, karena ia ingin menjauhkan Mink dari tradisi tersebut.
Seiring waktu, perilaku Mink semakin tidak terkendali. Ia menunjukkan tanda-tanda kerasukan yang tidak wajar, seperti merebus anjing peliharaan hidup-hidup, memakan daging mentah, dan bertindak agresif terhadap keluarganya. Nim mulai curiga bahwa yang merasuki Mink bukanlah Dewa Bayan, melainkan sesuatu yang jauh lebih jahat. Ia berkonsultasi dengan Santi (Boonsong Nakphoo), seorang dukun lain yang ahli dalam pengusiran roh. Santi mengungkapkan fakta mengerikan: Mink tidak hanya dirasuki satu roh, tetapi ribuan arwah korban pembantaian yang dilakukan leluhur Wiroj, suami Noi. Pembantaian ini meninggalkan kutukan karma yang menimpa keluarga Wiroj. Salah satu korban yang sekarat mengutuk keluarga tersebut, dan karena Noi menolak menjadi medium Dewa Bayan serta menikahi Wiroj, kutukan itu kini menjadikan Mink sebagai “tumbal” untuk menebus dosa leluhur ayahnya.
Nim, Santi, dan murid-murid spiritual Santi mempersiapkan ritual pengusiran roh besar-besaran untuk menyelamatkan Mink. Kru dokumenter terus merekam, meski suasana semakin mencekam. Rekaman CCTV dan kamera inframerah menangkap aktivitas supranatural yang menyeramkan, seperti Mink menatap Noi dengan amarah di atas ranjang atau bergerak secara tidak wajar. Ritual pengusiran akhirnya dilakukan, namun di tengah proses, Nim secara impulsif merobek kain suci, alat penting dalam ritual, karena ia yakin putranya ada di antara roh-roh yang merasuki Mink. Tindakan ini mengacaukannya ritual, memicu kekacauan. Mink, yang kini sepenuhnya dikuasai roh-roh jahat, menjadi semakin ganas. Ia membunuh hampir semua orang di desa, termasuk anggota keluarga, dukun, dan bahkan kru dokumenter, yang akhirnya menjadi bagian dari “dokumenter” mengerikan itu sendiri.
Di klimaks film, atmosfer horor mencapai puncaknya dengan adegan-adegan sadis, vulgar, dan menjijikkan, seperti pembunuhan berdarah, bunuh diri, dan tindakan kanibalisme. Film ini mengeksplorasi tema penolakan terhadap kepercayaan leluhur sebagai dosa besar, serta konsekuensi karma yang tak terelakkan. Nim, yang awalnya dihormati sebagai dukun, akhirnya tewas secara misterius, membuktikan bahwa kekuatannya tidak cukup untuk melawan kutukan tersebut. Mink, sebagai korban kutukan, menjadi simbol kehancuran keluarga yang menolak tanggung jawab spiritual mereka.
Fakta dan Elemen Penting Lainnya:
- Gaya Sinematografi: Film ini menggunakan teknik found footage dan long take untuk menciptakan kesan realistis, mirip dengan film horor seperti REC (2007). Rekaman CCTV, kamera inframerah, dan pengambilan gambar tanpa potongan menambah intensitas horor.
- Tema Budaya: The Medium menggambarkan shamanisme pra-Buddha yang masih dianut di Isan, termasuk ritual pemujaan dan sesaji untuk roh-roh di alam, rumah, atau hutan. Penonton Indonesia mungkin merasa familiar dengan elemen mistis ini, karena mirip dengan kepercayaan lokal tentang dukun dan sesaji.
- Akting dan Penghargaan: Narilya Gulmongkolpech, pemeran Mink, mendapatkan pujian atas penampilannya yang intens, bahkan memenangkan Best Actress di Suphannahong National Film Awards. Ia rela menurunkan berat badan 10 kg dan mempelajari cara merokok untuk mendalami karakternya.
- Kesuksesan Komersial: Film ini meraup US$7,35 juta di box office global dan menarik lebih dari 150 ribu penonton di Indonesia. The Medium juga memenangkan Bucheon Choice Award untuk Best Film di Bucheon International Fantastic Film Festival 2021 dan menjadi perwakilan Thailand untuk Oscar 2022 kategori Best International Feature Film, meski tidak masuk nominasi final.
- Kelemahan Narasi: Beberapa penonton mengkritik alur yang lambat di paruh pertama dan ending yang terasa ambigu, meninggalkan banyak pertanyaan tanpa jawaban. Namun, ini disengaja untuk memicu diskusi dan interpretasi penonton.
Catatan Akhir: The Medium bukan sekadar film horor biasa; ia menggabungkan elemen psikologis, budaya, dan spiritual untuk menciptakan pengalaman yang mengganggu dan tak terlupakan. Dengan narasi yang berfokus pada konflik antara tradisi dan modernitas, serta akibat dari penolakan warisan leluhur, film ini menawarkan horor yang tidak hanya menakutkan secara visual tetapi juga mendalam secara tematik. Bagi penonton yang sensitif terhadap adegan sadis, darah, atau kekerasan terhadap hewan, film ini mungkin memerlukan kesiapan mental ekstra.
Peringatan: Film ini mengandung adegan gore, jumpscare, dan konten yang mungkin mengganggu, seperti kekerasan terhadap hewan dan bayi, sehingga tidak direkomendasikan untuk semua penonton.
Lihat Film Lain
Produk Terkait
- Film
Orion and The Dark
- Film
Raya
- Film
Tangled
Community Rating




