The Great Flood

The Great Flood

Sinopsis “The Great Flood” (대홍수, 2025)
“The Great Flood” adalah film Korea Selatan bergenre sci-fi disaster thriller yang dirilis di Netflix pada Desember 2025 (bukan series/multipart, melainkan film berdurasi ±1 jam 46 menit). Disutradarai oleh Kim Byung-woo (sutradara The Terror Live), film ini dibintangi Kim Da-mi (Itaewon Class) sebagai Gu An-na, Park Hae-soo (Squid Game) sebagai Son Hee-jo, serta aktor cilik Kwon Eun-sung sebagai Shin Ja-in (putra An-na).Cerita berlatar di Seoul masa depan dekat. Dunia sedang mengalami bencana banjir global berskala kepunahan akibat hantaman asteroid di Kutub Selatan yang mencairkan lapisan es secara masif, memicu tsunami raksasa dan kenaikan air laut ekstrem yang menenggelamkan hampir seluruh daratan.An-na, seorang peneliti AI yang baru saja menjadi janda, terbangun di apartemennya di lantai 3 sebuah gedung tinggi 30 lantai. Air sudah mulai masuk melalui jendela, dan levelnya naik dengan sangat cepat. Bersama anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun, Ja-in, An-na berusaha mati-matian menyelamatkan diri dengan terus naik ke lantai yang lebih tinggi sambil menghadapi kepanikan warga lain, perampok, longsor puing, dan gelombang tsunami susulan yang menghantam gedung berulang kali.Di tengah keputusasaan, An-na mendapat telepon misterius dari pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengatakan bahwa helikopter penyelamat sedang dalam perjalanan khusus untuk menjemput dia dan Ja-in. Tak lama kemudian muncul Hee-jo, agen misterius yang menyelamatkan An-na dari tsunami dahsyat. Hee-jo mengungkapkan rahasia besar: pemerintah dunia sudah tahu bertahun-tahun sebelumnya tentang ancaman asteroid tersebut, tapi memilih tidak mengumumkannya ke publik. Sebaliknya, mereka diam-diam membiayai proyek rahasia untuk menyelamatkan “esensi” umat manusia.Dan di sinilah plot berbelok menjadi sci-fi berat — An-na ternyata adalah kunci dari proyek tersebut. Dia adalah peneliti utama yang mengembangkan “emotional engine” untuk AI generasi baru, yang akan menjadi ibu bagi manusia buatan di stasiun luar angkasa (atau bentuk kehidupan baru pasca-kepunahan). Cerita kemudian melibatkan elemen time loop/simulation, pengorbanan ibu, dan pertanyaan filosofis tentang apa yang membuat manusia benar-benar manusia: emosi, terutama cinta seorang ibu.Film ini bergerak dari nuansa disaster survival murni (banjir, gedung tenggelam, aksi menegangkan) menuju twist besar tentang AI, simulasi realitas, dan makna keibuan dalam menyelamatkan umat manusia. Endingnya cukup mind-bending dan emosional, meski banyak penonton merasa agak membingungkan atau terlalu kompleks.Kecocokan untuk Tontonan AnakSangat tidak cocok untuk anak-anak (bahkan rating resmi Netflix TV-MA = dewasa, setara R di bioskop).Alasan utama:

  • Tema apocalypse dan kepunahan umat manusia yang sangat gelap & menakutkan
  • Adegan banjir mencekam, gedung roboh, tsunami besar, orang-orang tenggelam/panik
  • Kekerasan implisit (perampokan, perjuangan hidup-mati, cedera)
  • Ketegangan psikologis tinggi, teriakan, keputusasaan, dan rasa takut mati yang terus-menerus
  • Anak kecil (Ja-in) justru sering menangis ketakutan, terpisah dari ibunya, dan menjadi sumber stres tambahan (banyak penonton malah menganggapnya “annoying” karena terus-terusan panik)
  • Pembahasan filosofis berat tentang AI, kematian, dan simulasi realitas yang sulit dipahami anak
  • Suasana keseluruhan sangat intens, mencekam, dan emosional — mirip campuran 2012 + Interstellar + The Day After Tomorrow tapi dengan twist AI yang lebih gelap

Kesimpulan rating umur (estimasi umum):

  • Di bawah 15 tahun → Tidak direkomendasikan sama sekali
  • 15–17 tahun → Baru bisa ditonton kalau sudah terbiasa dengan film disaster/thriller berat dan orang tua menemani
  • 18+ → Baru benar-benar sesuai (terutama yang suka sci-fi dengan twist mendalam)

Jika kamu mencari tontonan keluarga yang berhubungan dengan banjir/bencana alam, jauh lebih aman memilih dokumenter ringan seperti “Nature’s Great Events: The Great Flood” (BBC, tentang banjir Okavango di Afrika yang indah dan mendidik, cocok untuk anak). “The Great Flood” (2025) ini lebih cocok ditonton sendirian atau bareng temen dewasa yang suka cerita sci-fi apokaliptik dengan emosi kuat.

Questions & Answers

No questions yet. Be the first to ask!

S
Screen Score Editor Review
4.0 ★★★★★

"The Great Flood" adalah film dokumenter yang menceritakan banjir besar Mississippi tahun 1927 lewat rekaman arsip dan musik live. Ini bukan tontonan ringan—adegan banjir, mayat hewan, dan warga yang kesusahan bisa bikin anak kecil bingung atau takut. Untuk anak di bawah 10 tahun, saya sarankan skip dulu. Remaja 13+ mungkin bisa nonton dengan dampingan orang tua, terutama kalau mereka tertarik sejarah atau bencana alam. Pesan positifnya kuat: tentang gotong royong, ketahanan manusia saat krisis, dan bagaimana musik bisa menyatukan. Tapi waspadai kekerasan implisit—ada rekaman orang tenggelam, tentara bersenjata, dan ketegangan rasial yang gamblang. Tidak ada rokok, alkohol, narkoba, atau adegan seksual sama sekali. Dialognya menggunakan bahasa arsip yang formal, tidak kasar. Keberagaman ditampilkan lewat komunitas kulit hitam yang paling terdampak, tapi juga ada stereotip yang perlu didiskusikan. Kesimpulannya, film ini bagus untuk diskusi keluarga tentang sejarah dan empati, tapi bukan untuk hiburan santai. Saya rekomendasikan untuk remaja dan dewasa, dengan catatan dampingi anak usia 13-15 tahun.

About Writer