
Community Rating






Predator: Badlands
Sinopsis Lengkap Film Predator: Badlands (2025)
Predator: Badlands adalah film fiksi ilmiah aksi Amerika yang merupakan angsuran ketujuh dalam waralaba Predator (kesembilan secara keseluruhan, jika menyertakan crossover Alien vs. Predator). Disutradarai oleh Dan Trachtenberg (yang sebelumnya sukses dengan Prey pada 2022 dan Predator: Killer of Killers pada 2025), film ini ditulis oleh Patrick Aison berdasarkan cerita oleh Trachtenberg dan Aison. Film berdurasi 106 menit ini dirilis di bioskop pada 7 November 2025 oleh 20th Century Studios, dan menjadi entri pertama dalam seri utama yang mendapatkan rating PG-13 dari MPAA (sebelumnya kebanyakan R-rated). Berlatar di masa depan yang jauh, cerita ini unik karena menceritakan perspektif dari makhluk Predator itu sendiri, bukan dari kacamata manusia, sambil memperluas lore Yautja (nama ras Predator) dengan elemen-elemen seperti dunia asal mereka, bahasa Predator, dan konflik budaya. Film ini menerima pujian kritis atas desain makhluknya yang menakjubkan (mirip dengan Avatar), aksi yang mendebarkan, dan penampilan kuat dari pemeran utama, meskipun beberapa kritikus menilai elemen humornya kurang pas dan plotnya agak derivatif dari film-film sebelumnya. Skor Rotten Tomatoes: 86% (kritikus) dan 95% (penonton), dengan rating IMDb 7.5/10.
Latar dan Pengenalan Karakter
Film ini berlatar di planet Genna, sebuah dunia alien yang tandus dan mematikan—sebuah “badlands” futuristik yang penuh dengan flora dan fauna rakus, hutan lebat beracun, gua-gua gelap, dan reruntuhan teknologi kuno. Genna digambarkan sebagai planet yang mirip dengan karya seni fantasi gelap, dengan elemen-elemen seperti tanaman pemangsa dan monster mutan yang mengancam nyawa di setiap sudut. Berlatar setelah peristiwa Alien: Resurrection (film Alien terakhir), cerita ini berdiri sendiri tetapi memperkaya mitologi Predator dengan penggambaran dunia asal Yautja (Yautja Prime) yang jarang dieksplorasi sebelumnya.
Karakter utama:
- Dek (diperankan oleh Dimitrius Schuster-Koloamatangi, aktor muda asal Selandia Baru yang menggunakan prostetik dan CGI berat): Seorang Yautja muda yang dianggap sebagai “runt” atau pecundang oleh klan-nya. Dek adalah anak bungsu dari ayah pejuang legendaris (diperankan oleh Reuben de Jong, dengan suara oleh Schuster-Koloamatangi sendiri) dan memiliki saudara laki-laki yang lebih kuat bernama Kwei (Mike Homick/Stefan Grube). Dek diusir dari klan karena dianggap tidak layak untuk tradisi berburu suci Yautja, yang menekankan kehormatan, kekuatan, dan pembuktian diri melalui perburuan mangsa ultimate. Motivasinya adalah membuktikan diri dengan membawa pulang trofi terbesar untuk menghindari “culling” (pembantaian ritual bagi yang lemah).
- Thia (diperankan oleh Elle Fanning): Seorang android (sintetis) buatan Weyland-Yutani (perusahaan jahat dari waralaba Alien), yang rusak parah dan kehilangan sebagian besar tubuhnya—hanya tersisa torso atas dan kaki robotik. Thia adalah karakter eksentrik, cerdas, dan humoris, dengan kepribadian yang “manusiawi” meskipun bukan manusia. Dia bukan korban yang dikejar, melainkan sekutu tak terduga yang membantu Dek. Fanning menggambarkan Thia sebagai peran yang sangat berbeda dari karya-karyanya sebelumnya, dengan elemen komedi dan kedalaman emosional.
- Karakter pendukung: Ravi Narayan sebagai suara alien komik relief berbentuk CGI lucu dengan mata besar (mirip Ewok dari Star Wars, yang akhirnya membantu di pertarungan akhir); Michael Homik sebagai Kwei, saudara Dek yang ambisius; Cameron Brown sebagai perwakilan korporasi Weyland-Yutani; dan suara The Duffer Brothers (pencipta Stranger Things) sebagai komputer kapal Kwei, sebuah cameo unik karena Trachtenberg tak bisa terlibat di musim terakhir Stranger Things.
Plot Lengkap (Spoiler Alert: Sinopsis Ini Termasuk Detail Utama Cerita)
Cerita dimulai di Yautja Prime, planet asal Predator yang digambarkan sebagai masyarakat perangir matriarkal dengan ritual ketat. Dek, yang masih muda dan kurang berpengalaman, gagal dalam uji coba berburu pertamanya, menyebabkan dia dihina oleh klan-nya. Ayahnya, seorang veteran pemburu, memperingatkan bahwa Dek harus membawa pulang “ultimate adversary” (mangsa ultimate) untuk membuktikan nilainya, atau dia akan dicull. Dengan kapal kecil yang rusak (tema kegagalan mekanis sering muncul di waralaba ini), Dek meluncur ke Genna untuk berburu, tapi kapalnya crash-landing di tengah badai pasir radioaktif.
Di Genna, Dek segera menghadapi ancaman: planet ini adalah zona penambangan Weyland-Yutani, di mana korporasi jahat itu mengeksploitasi sumber daya sambil bereksperimen dengan makhluk-makhluk mutan untuk senjata biologis. Dek bertemu Thia, yang terdampar setelah misi Weyland-Yutani gagal—dia dirancang sebagai panduan eksplorasi tapi ditinggalkan karena kerusakan. Awalnya, Dek menganggap Thia sebagai mangsa mudah, tapi android itu menyelamatkannya dari serangan flora pemangsa (tanaman raksasa yang menjebak korban dengan tentakel beracun). Thia, dengan pengetahuan vastanya tentang planet ini, menawarkan aliansi: dia membantu Dek navigasi Genna jika Dek melindunginya dari pemburu Weyland-Yutani yang ingin mereklamasinya.
Sepanjang perjalanan mereka yang penuh bahaya—melintasi gurun beracun, sungai lava, dan sarang monster—Dek dan Thia membentuk ikatan tak terduga. Dek belajar tentang “kode pemburu” Yautja yang lebih dalam, termasuk nilai persahabatan dan penerimaan diri, sementara Thia merefleksikan eksistensinya sebagai mesin yang mencari makna. Elemen humor muncul dari interaksi mereka, seperti Thia yang bergurau tentang “protokol sosial Yautja” atau Dek yang kesulitan memahami emosi android. Mereka bertemu alien komik relief yang lucu, yang bergabung untuk alasan misterius.
Konflik utama memuncak ketika Kwei, saudara Dek, tiba di Genna dengan kapal canggih untuk merebut trofi ultimate—sebuah monster raksasa yang disebut “Jabberwocky” (referensi puisi Lewis Carroll, digambarkan sebagai naga mutan dengan cakar mematikan). Kwei, didukung oleh pasukan Weyland-Yutani, melihat Dek sebagai saingan dan berusaha membunuhnya. Pertarungan klimaks terjadi di reruntuhan kuno Genna, di mana Dek, Thia, dan sekutu alien mereka melawan Kwei, monster, dan drone korporasi. Adegan aksi menonjol dengan koreografi brutal tapi stylized: pedang plasma Yautja yang menyala, tembakan plasma, dan ledakan CGI yang spektakuler. Dek akhirnya mengalahkan Kwei dalam duel saudara yang emosional, membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan dari ukuran fisik, tapi dari hati dan aliansi.
Akhir cerita: Dek pulang ke Yautja Prime dengan trofi (bukan monster, tapi pelajaran tentang persatuan), merebut kembali tempatnya di klan dan mengubah tradisi mereka sedikit demi sedikit. Thia memilih untuk tetap di Genna, tapi berjanji bertemu lagi. Film diakhiri dengan teaser untuk sekuel, menunjukkan ekspansi Weyland-Yutani ke Yautja Prime. Secara keseluruhan, plot ini mengeksplorasi tema survival, kehormatan, penerimaan diri, dan kritik terhadap korporasi eksploitatif, sambil memberikan aksi Predator klasik dengan twist segar.
Kecocokan dengan Anak-Anak (Panduan Orang Tua)
Predator: Badlands dirating PG-13 oleh MPAA untuk “sequences of strong sci-fi violence” (urutan kekerasan fiksi ilmiah yang intens), menjadikannya lebih ramah keluarga dibandingkan film Predator sebelumnya yang R-rated dengan gore eksplisit. Rating ini memungkinkan anak di atas 13 tahun menonton dengan pengawasan orang tua, tapi tidak cocok untuk anak di bawah 13 tahun atau mereka yang sensitif terhadap horor makhluk, kekerasan, dan elemen suspense. Berikut breakdown detail berdasarkan panduan orang tua dari sumber seperti Common Sense Media, Kids-in-Mind, dan IMDb:
- Kekerasan dan Horor (Tinggi – 7/10): Banyak adegan pertarungan brutal antara Predator, monster mutan, dan drone robot. Contoh: Kaki robot Thia melilit kepala musuh; tusukan pedang plasma yang berdarah (tapi tidak grafis seperti film R); ledakan tubuh makhluk; dan serangan tanaman pemangsa. Tidak ada gore manusiawi berlebih (karena fokus pada non-manusia), tapi intensitasnya mirip Jurassic World—mendebarkan untuk remaja, tapi bisa menimbulkan mimpi buruk bagi anak kecil. Elemen body horror seperti prostetik Dek atau kerusakan Thia mungkin mengganggu.
- Bahasa Kasar (Rendah – 2/10): Minim sumpah serapah; kebanyakan dialog dalam bahasa Predator atau humor ringan dari Thia. Tidak ada kata-kata vulgar yang ekstrem.
- Konten Seksual (Tidak Ada – 0/10): Tidak ada nudity, adegan romantis, atau insinuasi seksual. Fokus murni pada aksi dan petualangan.
- Tema Lainnya: Ada elemen positif seperti persahabatan lintas spesies, penerimaan diri, dan kritik korporasi jahat. Namun, tema “culling” (pembunuhan ritual) dan saudara yang saling bunuh bisa terlalu gelap untuk anak. Humor dari alien lucu menambah elemen ringan, tapi keseluruhan nada tetap tegang.
Rekomendasi Umur:
- Anak di bawah 10 tahun: Tidak direkomendasikan. Terlalu menakutkan dan intens.
- 11-13 tahun: Hanya dengan pengawasan orang tua ketat; pratinjau adegan aksi terlebih dahulu jika anak sensitif.
- 14 tahun ke atas: Cocok, terutama bagi penggemar sci-fi seperti Star Wars atau Avatar. Rating internasional: 15A (Irlandia), 16+ (Jerman), R13 (Selandia Baru).
Film ini lebih “family-friendly” daripada pendahulunya karena mengurangi gore demi aksi stylized, tapi tetap setia pada esensi Predator yang brutal. Jika anak Anda menyukai monster tapi takut darah, tontonlah bersama untuk diskusi setelahnya. Untuk info lebih lanjut, cek trailer resmi di YouTube atau situs seperti Common Sense Media.
This content is restricted!
Bantu kami mengulas konten yang pernah Mama tonton. Login di sini.
Lihat Film Lain
Community Rating




