Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank
blank

Kukira Kau Rumah

Sinopsis Panjang Film “Kukira Kau Rumah” (2022)
Film Kukira Kau Rumah adalah drama romansa Indonesia yang diadaptasi dari lagu berjudul sama milik band indie Amigdala. Disutradarai oleh Umay Shahab (dalam debut penyutradaraannya), film ini diproduseri oleh Prilly Latuconsina yang juga menjadi pemeran utama. Cerita berfokus pada tema kesehatan mental, khususnya gangguan bipolar, dikemas dalam kisah cinta yang melankolis dan penuh emosi.Niskala Widiatmika (Prilly Latuconsina) adalah seorang gadis muda yang sejak remaja mengidap gangguan bipolar setelah mengalami kecelakaan jatuh dari atap rumah yang menyebabkan benturan di kepala. Akibat kondisi ini, ayahnya, Dedi, menjadi sangat protektif dan overprotective. Niskala tidak diizinkan melanjutkan sekolah reguler seperti remaja lain, dan lingkaran pertemanannya sangat dibatasi hanya pada dua sahabat masa kecilnya: Dinda (Shenina Cinnamon) dan Oktavinus/Anus (Raim Laode), yang dipercaya keluarganya. Hidup Niskala terasa terkekang, penuh kontrol, dan ia sering merasa tidak didengar, terutama oleh sang ayah yang tampak malu memiliki anak dengan gangguan mental.Suatu hari, di kampus (saat ia mulai diizinkan kuliah dengan pengawasan ketat), Niskala bertemu dengan Pram (Jourdy Pranata), seorang pemuda introvert dan penyendiri yang bekerja sebagai pelayan di kafe musik bernama Antalogi. Pram kehilangan ayahnya sejak SMA dan ibunya sibuk bekerja, sehingga ia mengisi hari-harinya dengan bermain musik akustik dan menciptakan lagu. Pertemuan tak sengaja di kafe membuat Pram langsung jatuh hati pada Niskala yang unik dan misterius.Perlahan, hubungan mereka berkembang menjadi kisah cinta yang manis tapi rumit. Pram membawa warna baru dalam kehidupan Niskala yang selama ini terkungkung — ia mengajak Niskala merasakan kebebasan kecil, mendengarkan musik, dan merasakan dicintai apa adanya. Namun, seiring waktu, Pram mulai menyadari ada sesuatu yang “berbeda” dengan Niskala: perubahan mood yang ekstrem, episode mania dan depresi yang khas bipolar, serta perilaku yang kadang sulit dipahami.Konflik semakin memuncak ketika Pram mengetahui diagnosis bipolar Niskala dari sahabat-sahabatnya. Ia berusaha memahami dan mendampingi, tapi tekanan dari keluarga Niskala (terutama ayahnya), stigma masyarakat terhadap gangguan mental, serta perjuangan internal Niskala sendiri membuat hubungan mereka diuji. Film ini menampilkan bagaimana cinta bisa menjadi “rumah” yang hangat sekaligus rapuh, serta realitas pahit bahwa tidak semua luka bisa sembuh hanya dengan cinta.Dengan nuansa melankolis, banyak narasi puitis dari sudut pandang Pram, serta soundtrack indie yang indah (termasuk lagu utama “Kukira Kau Rumah” yang menjadi penguat emosi), film ini berakhir dengan nada bittersweet yang terbuka, meninggalkan kesan mendalam tentang penerimaan diri, pentingnya dukungan sosial, dan kompleksitas hidup bersama gangguan kesehatan mental.Kecocokan sebagai Tontonan AnakFilm ini tidak cocok untuk anak-anak (di bawah usia 13 tahun) dan sebaiknya tidak ditonton oleh anak kecil tanpa pendampingan orang dewasa.

  • Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia mengklasifikasikan film ini untuk usia 13 tahun ke atas (remaja ke atas).
  • Tema utamanya adalah gangguan bipolar (perubahan emosi ekstrem, episode depresi berat, dan implikasi psikologis lainnya).
  • Ada adegan emosional yang cukup intens, termasuk konflik keluarga, perasaan tertekan, dan ending yang terbuka dengan nuansa menyedihkan/menimbulkan pemikiran berat (beberapa reviewer menyebut bisa memicu emosi sensitif atau suicidal thought pada penonton yang rentan).
  • Cocok untuk remaja akhir (17+) dan dewasa muda yang sudah bisa memahami isu kesehatan mental, karena film ini lebih sebagai edukasi sekaligus pengingat bahwa mental health penting dan tidak boleh distigma.
  • Untuk anak di bawah 13–15 tahun, ceritanya terlalu berat, kompleks, dan bisa membingungkan/menimbulkan ketakutan tanpa penjelasan yang tepat dari orang tua.

Singkatnya, ini adalah film yang bagus dan bermakna untuk remaja/dewasa yang ingin memahami isu kesehatan mental melalui cerita cinta yang menyentuh, tapi bukan tontonan ringan untuk anak kecil. Kalau kamu mau nonton bareng anak remaja, pastikan ada diskusi setelahnya ya! 

This content is restricted!

Bantu kami mengulas konten yang pernah Mama tonton. Login di sini.

Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank