Budi Pekerti
- 13+
- 2023
Menceritakan mengenai kisah seorang guru yang mendadak viral di media sosial, berita mengenai guru tersebut mendadak membuat image guru dia di sekolah menjadi buruk.
Sinopsis Terlengkap Film Budi Pekerti (2023)
Sutradara dan Penulis: Wregas Bhanuteja
Pemeran Utama: Sha Ine Febriyanti (Bu Prani), Dwi Sasono (Pak Didit), Prilly Latuconsina (Tita), Angga Yunanda (Muklas)
Durasi: 1 jam 50 menit
Rating Usia: 13+
Tanggal Rilis: 2 November 2023 (Indonesia), tayang perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) pada 9 September 2023
Latar: Yogyakarta, masa pandemi COVID-19
Film Budi Pekerti adalah sebuah drama keluarga yang menggugah, mengangkat isu cyberbullying dan dampak media sosial terhadap kehidupan seseorang, dengan latar belakang budaya Yogyakarta yang kental. Cerita berpusat pada Bu Prani (Sha Ine Febriyanti), seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di SMP Pengemban Utama, Yogyakarta, yang dikenal tegas, disiplin, dan berdedikasi dalam mendidik murid-muridnya. Ia adalah kandidat calon wakil kepala sekolah, sebuah posisi yang mencerminkan reputasinya sebagai pendidik yang disegani. Bu Prani tinggal bersama suaminya, Pak Didit (Dwi Sasono), yang menderita gangguan bipolar akibat kegagalan bisnisnya selama pandemi COVID-19, serta dua anak mereka: Tita (Prilly Latuconsina), seorang musisi independen dan aktivis sosial yang kritis, dan Muklas (Angga Yunanda), seorang content creator yang sedang naik daun dengan endorse brand di media sosial.
-
Inspirasi Nyata: Cerita film ini diambil dari kasus-kasus viral di media sosial selama pandemi, di mana individu dihujat karena video pendek tanpa konteks. Wregas terinspirasi dari pengalaman ibunya sebagai guru dan kenangan masa kecilnya di Yogyakarta.
-
Lokasi Syuting: Film ini difilmkan di 40 lokasi di Yogyakarta, termasuk SMP Stella Duce, tempat Wregas pernah bersekolah, dan tempat-tempat ikonik seperti pasar tradisional dan Tebing Breksi.
-
Bahasa dan Budaya: Dialog menggunakan campuran bahasa Jawa (termasuk kromo inggil) dan Indonesia, mencerminkan kehidupan sehari-hari di Yogyakarta. Para aktor, seperti Sha Ine Febriyanti, menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan untuk menguasai dialek dan gestur Jawa.
-
Penghargaan: Budi Pekerti meraih 17 nominasi di Festival Film Indonesia (FFI) 2023, termasuk Film Cerita Panjang Terbaik, dan memenangkan dua Piala Citra untuk Aktris Terbaik (Sha Ine Febriyanti) dan Aktris Pendukung Terbaik (Prilly Latuconsina).
-
Pendekatan Sinematik: Wregas memfokuskan pada pengembangan karakter dan akting ketimbang eksplorasi teknis, berbeda dari film sebelumnya, Penyalin Cahaya. Adegan emosional, seperti Bu Prani mendengarkan rekaman suara anak-anaknya untuk memicu air mata, menunjukkan kedalaman akting.
-
Relevansi Sosial: Film ini menjadi cerminan fenomena sosial modern, seperti cancel culture dan dampak jejak digital, yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Budi Pekerti adalah sebuah karya sinematik yang kuat, menggabungkan narasi emosional dengan kritik sosial yang tajam. Melalui kisah Bu Prani dan keluarganya, film ini mengajak penonton untuk berpikir ulang sebelum menghakimi seseorang berdasarkan potongan informasi di media sosial. Dengan latar budaya Yogyakarta yang autentik dan penampilan akting yang memukau, Budi Pekerti tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi cermin untuk merefleksikan nilai-nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan dalam era digital.
Questions & Answers
Please log in to ask a question.
No questions yet. Be the first to ask!
Film 'Budi Pekerti' ceritanya tentang seorang guru bernama Buya yang menghadapi masalah besar gara-gara video singkatnya viral di media sosial. Banyak orang yang menyerang dia tanpa tahu konteksnya. Film ini bagus banget buat anak usia remaja ke atas, sekitar 14 tahun ke atas, karena temanya soal etika di dunia maya dan akibat dari perundungan digital. Pesan positifnya jelas: pentingnya berpikir sebelum bicara atau membagikan sesuatu, dan jangan gampang menghakimi orang lain. Anak bisa belajar tentang empati dan tanggung jawab di media sosial. Tapi orang tua perlu waspada sama adegan-adegan konflik yang cukup intens, ada beberapa ucapan kasar yang keluar saat emosi, dan sedikit referensi kekerasan verbal. Tidak ada rokok, narkoba, atau adegan seksual di sini. Keberagaman ditampilkan dengan baik, ada karakter dari latar belakang yang berbeda. Kesimpulannya, saya rekomendasikan film ini untuk ditonton bersama orang tua dan anak remaja, karena bisa jadi bahan diskusi yang seru tentang bagaimana bersikap di era digital.
Bagus banget!! tapi bagusnya ditonton remaja sih
Ceritanya real, relate bgt sama jaman sekarang. Bagus banget buat pembelajaran apalagi buat remaja. Cuma jangan sekali-kali ditonton sama anak di bawah 13 tahun sih takutnya ada trauma sendiri karena…
Bagus banget!! tapi bagusnya ditonton remaja sih
Ceritanya real, relate bgt sama jaman sekarang. Bagus banget buat pembelajaran apalagi buat remaja. Cuma jangan sekali-kali ditonton sama anak di bawah 13 tahun sih takutnya ada trauma sendiri karena ada ngomongin isu mental health.




