Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank
blank

Agak Laen: Menyala Pantiku!

 

Agak Laen: Menyala Pantiku! adalah film komedi Indonesia bergenre comedy, crime, dan mystery yang disutradarai oleh Muhadkly Acho, dengan naskah yang juga ditulis olehnya. Diproduksi oleh Imajinari Pictures di bawah Ernest Prakasa dan Dipa Andhika, film ini tayang perdana di bioskop seluruh Indonesia pada 27 November 2025. Durasi film mencapai 1 jam 59 menit, dan ini bukan sekuel langsung, prekuel, spin-off, maupun remake dari film pertama Agak Laen (2024) yang sukses meraih 9,1 juta penonton. Sebaliknya, ini adalah cerita mandiri dengan karakter utama yang sama, terinspirasi dari gaya grup lawak legendaris Warkop DKI—menggunakan nama asli para aktor untuk peran mereka, sambil membawa nuansa segar yang menggabungkan humor slapstick, investigasi kriminal, misteri, serta elemen drama emosional. Film ini dirancang sebagai bagian dari waralaba potensial, di mana keempat protagonis bisa bertualang di latar dan genre berbeda di setiap installment.

Ringkasan Plot Utama

Cerita berpusat pada empat sahabat karib yang bekerja sebagai detektif amatir ala “culun” atau nyentrik: Bene Dion Rajagukguk (sebagai Bene), Boris Bokir (sebagai Boris), Indra Jegel (sebagai Jegel), dan Oki Rengga (sebagai Oki). Mereka adalah tim investigasi yang dikenal karena rekam jejaknya yang buruk—selalu gagal menjalankan misi dengan cara yang absurd dan kacau, sering kali berujung pada kekonyolan yang tak terduga. Nasib karier mereka berada di ujung tanduk setelah serangkaian kegagalan beruntun, hingga akhirnya atasan memberikan kesempatan terakhir: sebuah misi krusial untuk membuktikan kemampuan mereka atau selamanya didegradasi.

Misi tersebut adalah menyusup ke sebuah panti jompo misterius bernama Panti Asuhan Menyala (atau sering disebut sebagai panti jompo yang telah berdiri selama 15 tahun), yang menjadi pusat intrik utama film. Petunjuk intelijen menunjukkan bahwa buronan utama—seorang tersangka dalam kasus pembunuhan anak walikota—bersembunyi di antara para penghuni lansia di sana. Untuk menyamar, keempat detektif ini berpura-pura menjadi caregiver atau perawat panti jompo, lengkap dengan seragam dan tugas sehari-hari yang melelahkan. Mereka harus merawat para orang tua lanjut usia, mengurus aktivitas rutin seperti makan siang bersama, terapi fisik, hingga menggelar acara hiburan sederhana untuk menghibur penghuni—semua sambil diam-diam mencari identitas buronan tanpa menimbulkan kecurigaan.

Namun, seperti biasa dengan gaya “Agak Laen”, penyamarannya cepat berubah menjadi bencana komedi. Panti jompo yang awalnya tampak seperti tempat yang tenang dan penuh kehangatan justru menyimpan rahasia gelap: misteri-misteri tersembunyi di balik dinding-dindingnya, intrik antar-penghuni yang penuh plot twist, dan dinamika sosial yang absurd. Keempat detektif sering kali salah sasaran—mengira penghuni lansia polos sebagai tersangka berbahaya, atau justru terlibat dalam situasi slapstick seperti kejar-kejaran di koridor panti, salah obat yang menyebabkan kekacauan massal, atau adegan di mana mereka harus berpura-pura ikut dansa ala lansia sambil menyelinap mencari petunjuk. Humor fisik dan dialog cepat ala Warkop DKI menjadi andalan, dengan momen-momen “terbahak-bahak” seperti yang dijanjikan sutradara, termasuk adegan puncak yang digarap hingga larut malam dan dijamin bikin penonton ngakak.

Di tengah kekacauan itu, film ini tak lupa menyisipkan lapisan emosional yang lebih dalam. Boris, sebagai pusat drama kali ini, dihadapkan pada konflik pribadi antara tuntutan pekerjaan dan keluarganya—sebuah tema yang lebih matang dibanding film sebelumnya, di mana Oki menjadi fokus mantan napi. Keempat detektif tak hanya menemukan buronan, tapi juga “kehangatan” dari interaksi dengan para lansia: cerita-cerita hidup mereka yang menyentuh, pelajaran tentang penuaan, kesetiaan persahabatan, dan nilai keluarga. Ada momen-momen hangat di mana mereka terlibat dalam kegiatan panti yang tulus, seperti bernyanyi bersama atau mendengarkan kisah masa lalu, yang kontras dengan elemen kriminal misterius. Akhirnya, misi ini bukan hanya tentang menangkap penjahat, tapi juga tentang “menyala” kembali semangat mereka sebagai tim—sebuah metafora dari judul film yang berarti “sedikit berbeda: celanaku menyala!” (dengan “pantiku” sebagai permainan kata slang untuk celana dalam yang “bercahaya” atau penuh energi).

Karakter Utama dan Pendukung

  • Bene Dion Rajagukguk sebagai Bene: Pemimpin tim yang ceroboh tapi karismatik, sering jadi sumber ide gila.
  • Boris Bokir sebagai Boris: Karakter sentral dengan dilema keluarga, membawa nuansa emosional di balik komedi.
  • Indra Jegel sebagai Jegel: Si jenaka yang selalu punya punchline absurd, tapi sering bikin situasi makin runyam.
  • Oki Rengga sebagai Oki: Anggota tim yang paling “nyeleneh”, ahli dalam aksi fisik tapi kurang teliti.

Pemeran pendukung yang memperkaya cerita termasuk:

  • Tissa Biani sebagai Marlina (mungkin perawat atau penghuni kunci).
  • Andi Awwe Wijaya, Boah Sartika, Priska Baru Segu, Gita Bhebita.
  • Jajang C. Noer sebagai Jihan (penghuni lansia misterius).
  • Ringgo Imam Tawfiq sebagai Mang Dedi (penagih utang yang berubah jadi figur ayah, dengan adegan emosional yang menyentuh).
  • Jarwo Kwat, Ariyo Wahab, dan lainnya sebagai penghuni panti atau saksi kunci.

Tema dan Gaya Narasi

Film ini menggabungkan komedi situasi liar dengan elemen thriller ringan—beda dari film pertama yang lebih horor komedi di rumah hantu pasar malam. Setting panti jompo dipilih untuk menantang stereotip “menyeramkan”, diubah menjadi arena kekacauan lucu yang penuh empati. Soundtrack termasuk lagu tema “Agak Laen” yang dinyanyikan oleh keempat pemeran utama. Produksi difilmkan sebagian di Sukabumi, menampilkan nuansa kota yang autentik.

Kecocokan dengan Anak-Anak

Film ini kurang cocok untuk ditonton anak-anak di bawah usia 13 tahun, sesuai dengan rating usia resmi 13+ dari Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia dan platform seperti Cinema XXI. Alasan utamanya adalah tema sentral yang melibatkan kasus pembunuhan (murder case) terhadap anak walikota, yang meskipun dibungkus komedi ringan, tetap menyentuh isu kekerasan, kematian, dan investigasi kriminal—bisa menimbulkan ketakutan atau kebingungan bagi anak kecil. Elemen misteri dan intrik di panti jompo juga termasuk plot twist gelap, seperti rahasia tersembunyi para penghuni lansia, yang lebih sesuai untuk remaja atau dewasa muda.

Meski humornya bersih (slapstick ala komika, tanpa konten seksual eksplisit atau gore berlebih), dialog cepat dan situasi absurd mungkin terlalu kompleks atau kurang relatable untuk anak usia dini. Namun, untuk remaja 13 tahun ke atas, film ini sangat menghibur sebagai hiburan keluarga ringan, dengan pesan positif tentang persahabatan, empati terhadap lansia, dan keseimbangan kerja-keluarga. Jika orang tua ingin menonton bersama anak, disarankan diskusi pasca-tayang untuk menjelaskan tema berat. Secara keseluruhan, ini lebih ideal untuk penonton remaja yang suka komedi Indonesia ala Warkop DKI modern.

 

This content is restricted!

Bantu kami mengulas konten yang pernah Mama tonton. Login di sini.

Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank