Napoleon (2023)
Film Napoleon (2023), disutradarai oleh Ridley Scott dan dibintangi Joaquin Phoenix sebagai Napoleon Bonaparte serta Vanessa Kirby sebagai Joséphine de Beauharnais, adalah sebuah epik sejarah yang ambisius. Film ini menggambarkan perjalanan hidup Napoleon Bonaparte, dari masa-masa awal Revolusi Prancis hingga akhir hayatnya, dengan fokus utama pada kebangkitannya ke kekuasaan serta hubungan rumit dan penuh gairah dengan istrinya, Joséphine.
Sinopsis :
Film dibuka di tahun 1793, di tengah kekacauan Revolusi Prancis. Seorang perwira muda bernama Napoleon Bonaparte menyaksikan eksekusi ratu Marie Antoinette dengan guillotine, sebuah momen yang menandai kekerasan era tersebut. Tak lama kemudian, Napoleon menunjukkan bakat militernya yang luar biasa saat memimpin Pengepungan Toulon (Siege of Toulon), di mana ia berhasil mengusir pasukan Inggris dengan strategi artileri cerdas, membuatnya naik pangkat dengan cepat menjadi brigadir jenderal.
Di tengah kekacauan politik pasca-Reign of Terror, Napoleon bertemu dengan Joséphine, seorang janda aristokrat yang cantik dan karismatik. Hubungan mereka berkembang sangat cepat—penuh gairah, posesif, dan volatil. Napoleon jatuh cinta mendalam padanya, meski Joséphine awalnya lebih pragmatis. Mereka menikah, dan hubungan ini menjadi benang merah utama film: Napoleon yang ambisius secara militer dan politik sering kali digambarkan sebagai pria yang insecure dalam urusan pribadi, terutama karena Joséphine kesulitan memberikan keturunan (infertilitas yang menjadi sumber konflik besar).
Sepanjang film, kita menyaksikan Napoleon menaklukkan berbagai pertempuran epik: Kampanye Italia, invasi Mesir (dengan adegan pertempuran besar dan momen kontroversial), penobatannya sebagai Kaisar Prancis di hadapan Paus (di mana ia merebut mahkota dan memakainya sendiri), serta perang-perang besar melawan koalisi Eropa. Salah satu highlight adalah adegan pertempuran Austerlitz yang megah, di mana Napoleon menggunakan strategi jenius untuk mengalahkan pasukan gabungan Austria dan Rusia, serta Pertempuran Waterloo yang menjadi titik balik kehancurannya.
Namun, film juga menyoroti sisi gelapnya: ambisi tak terbatas yang menyebabkan jutaan kematian, obsesinya terhadap Joséphine (termasuk perselingkuhan yang menyakitkan), perceraian mereka karena kebutuhan pewaris tahta, pernikahan politik dengan Marie Louise dari Austria (yang melahirkan putranya), invasi bencana ke Rusia (dengan musim dingin brutal yang memusnahkan Grande Armée), pengasingan pertama ke Elba, pelarian dramatis dan “Hundred Days”, hingga kekalahan akhir di Waterloo. Film ditutup dengan pengasingan kedua Napoleon ke pulau Saint Helena, di mana ia meninggal pada 1821.
Secara keseluruhan, ini adalah potret Napoleon sebagai seorang jenius militer yang visioner tapi juga insecure, manipulatif, dan haus kekuasaan, dengan hubungan toksik namun penuh cinta terhadap Joséphine sebagai inti emosional cerita. Ridley Scott menyajikan adegan pertempuran skala besar yang spektakuler (dengan efek praktis dan CGI yang mengesankan), tapi juga menampilkan Napoleon dengan cara yang lebih manusiawi dan kadang-kadang karikatural dibandingkan biografi tradisional.
Kecocokan dengan tontonan anak:
Film ini sama sekali tidak cocok untuk anak-anak atau bahkan remaja di bawah usia 16–17 tahun. Rating resmi MPAA adalah R (Restricted), artinya di Amerika Serikat anak di bawah 17 tahun harus ditemani orang tua, dan di banyak negara lain setara dengan 17+ atau dewasa.
Alasan utama:
- Kekerasan sangat keras dan grafis: Adegan pertempuran besar-besaran dengan banyak kematian (orang ditembak, ditikam, diledakkan oleh meriam, darah menyembur, mayat berserakan). Ada juga adegan eksekusi guillotine (kepala terpenggal ditunjukkan), kuda terluka/kematian berdarah, dan gambar-gambar grisly lainnya.
- Konten seksual: Beberapa adegan seks eksplisit (meski tidak terlalu panjang), nudity parsial, diskusi perselingkuhan, infertilitas, dan hubungan intim yang digambarkan secara dewasa.
- Bahasa kasar: Ada kata-kata umpatan (termasuk F-word) dan dialog dewasa.
- Tema berat: Politik, perang, kematian massal, hubungan toksik, perceraian, dan ambisi destruktif—semua ini lebih cocok untuk penonton dewasa yang bisa memahami konteks sejarah.
Untuk anak kecil atau bahkan remaja awal, film ini bisa sangat mengganggu karena kekerasan realistisnya dan elemen dewasa lainnya. Jika ingin mengenalkan sejarah Napoleon ke anak, lebih baik pilih dokumenter anak, film animasi, atau buku cerita sejarah yang disederhanakan. Versi director’s cut (lebih panjang di Apple TV+) juga tetap mempertahankan elemen yang sama, bahkan mungkin lebih detail.
Singkatnya: Film ini epik dan visually menakjubkan untuk penggemar sejarah atau film perang dewasa, tapi bukan tontonan keluarga atau untuk anak sama sekali.
Questions & Answers
Please log in to ask a question.
No questions yet. Be the first to ask!
Film Napoleon ini bercerita tentang perjalanan hidup Napoleon Bonaparte dari seorang prajurit rendahan hingga menjadi Kaisar Prancis yang ambisius. Sayangnya, film ini sama sekali tidak cocok untuk anak-anak, bahkan untuk remaja di bawah 17 tahun sekalipun. Mengapa? Karena film ini dipenuhi adegan perang yang brutal dan berdarah-darah, dengan mayat bergelimpangan dan ledakan yang keras. Bukan cuma itu, ada juga adegan seksual yang eksplisit dan dialog yang cukup vulgar. Dari sisi pesan positif, memang ada pelajaran tentang ambisi dan kepemimpinan, tapi semuanya tenggelam oleh kekerasan yang berlebihan. Orang tua harus waspada banget sama adegan perang yang bisa bikin trauma anak, belum lagi adegan ranjang yang sama sekali nggak pantas. Film ini juga menampilkan penggunaan alkohol dan tembakau, serta tidak ada keberagaman yang berarti karena fokusnya hanya pada tokoh kulit putih Eropa. Kesimpulannya, film ini nggak saya rekomendasikan untuk ditonton anak-anak. Usia minimal yang pas itu 18 tahun ke atas, dan itupun dengan pendampingan orang tua karena banyak adegan yang berat secara visual dan emosional.
Belum ada review. Jadilah yang pertama!




