Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank
blank

Bumi Manusia

Sinopsis Film “Bumi Manusia” (2019)
Film Bumi Manusia (disutradarai Hanung Bramantyo, tayang 2019) merupakan adaptasi dari novel klasik karya Pramoedya Ananta Toer yang menjadi bagian pertama dari Tetralogi Buru. Berlatar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 di masa kolonial Hindia Belanda (sekarang Indonesia), film ini berdurasi sekitar 3 jam dan mengisahkan perjuangan identitas, cinta terlarang, serta kebangkitan kesadaran nasional di tengah sistem diskriminasi rasial yang keras.Tokoh utama adalah Minke (diperankan Iqbaal Ramadhan), seorang pemuda pribumi (Jawa) yang sangat cerdas dan berbakat menulis. Ia merupakan salah satu pribumi langka yang mendapat kesempatan bersekolah di Hogere Burgerschool (HBS), sekolah elit khusus keturunan Eropa dan kalangan terpilih. Minke sering menulis artikel tajam di koran Belanda dengan nama samaran, yang membuat namanya dikenal luas meski statusnya sebagai “bumiputra” membuatnya sering direndahkan oleh teman-teman sekolahnya yang mayoritas Indo dan Belanda.Suatu hari, Minke diajak temannya Robert Suurhof berkunjung ke rumah keluarga kaya di Wonokromo, Boerderij Buitenzorg, milik seorang tuan tanah Belanda bernama Herman Mellema. Di sana ia bertemu dengan Annelies (Mawar de Jongh), putri cantik Herman Mellema dari hubungannya dengan seorang nyai (gundik) pribumi bernama Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti). Annelies adalah gadis Indo (campuran Belanda-pribumi) yang dibesarkan dengan budaya Eropa, namun hidup dalam stigma sosial karena status ibunya sebagai nyai.Pertemuan pertama itu langsung memicu ketertarikan kuat antara Minke dan Annelies. Cinta mereka berkembang cepat menjadi hubungan romansa yang dalam, meski dihadang berbagai rintangan: perbedaan status sosial, ras, hukum kolonial yang bias, serta konflik keluarga. Nyai Ontosoroh, yang digambarkan sebagai wanita pribumi tangguh, cerdas, dan mandiri (meski hidup sebagai nyai), menjadi figur ibu yang melindungi Annelies dan akhirnya mendukung hubungan mereka.Cerita semakin rumit ketika Herman Mellema meninggal dunia secara tragis. Menurut hukum kolonial Belanda saat itu, Annelies—sebagai anak sah keturunan Eropa—harus berada di bawah perwalian orang Belanda, bukan ibunya yang pribumi. Hal ini memicu pertarungan hukum besar yang melibatkan pengadilan kolonial, di mana hak asuh Annelies direbut dari Nyai Ontosoroh dan Minke. Annelies akhirnya dipaksa menikah dengan pria Belanda lain dan dibawa ke Belanda, meninggalkan Minke dalam keputusasaan mendalam.Sepanjang film, Minke mengalami kegamangan batin: di satu sisi ia terpesona dengan kemajuan ilmu pengetahuan, sastra, dan peradaban Eropa yang ia pelajari di sekolah; di sisi lain, ia semakin sadar akan ketidakadilan sistem kolonial yang menindas bangsanya. Pengalaman cinta dan kehilangan ini menjadi titik balik yang membangkitkan kesadaran nasionalisnya, mendorongnya untuk mulai melawan diskriminasi melalui tulisan dan pemikiran.Film ini juga menyorot kekuatan Nyai Ontosoroh sebagai simbol perempuan pribumi yang berjuang melawan patriarki dan kolonialisme, serta menggambarkan realitas sosial Hindia Belanda: perbedaan kelas, rasisme institusional, eksploitasi nyai, dan awal mula kebangkitan pemikiran modern di kalangan pribumi.
Kecocokan dengan Tontonan Anak
Film Bumi Manusia tidak cocok untuk anak-anak dan bahkan remaja di bawah usia tertentu. Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia mengklasifikasikannya sebagai 17+ (17 tahun ke atas) saat tayang tahun 2019. Beberapa alasan utama:

  • Ada adegan kekerasan (termasuk kekerasan dalam rumah tangga dan konflik fisik).
  • Mengandung tema seksualitas dewasa, termasuk implikasi hubungan intim antara Minke dan Annelies (meski tidak eksplisit grafis, tetap ada nuansa dan adegan sugestif).
  • Ada elemen pemerkosaan (dalam konteks cerita novel/film, terkait salah satu karakter).
  • Bahasa dan dialog cukup berat, dengan muatan sejarah, politik kolonial, serta konflik hukum yang kompleks—sulit dipahami anak kecil.
  • Durasi panjang (181 menit) dan tempo lambat dengan banyak dialog filosofis juga kurang menarik bagi anak.

Film ini lebih cocok untuk remaja akhir (17–18 tahun ke atas) atau dewasa yang sudah bisa memahami konteks sejarah Indonesia, isu kolonialisme, diskriminasi rasial, serta tema cinta tragis dan perjuangan identitas. Bagi anak di bawah 15 tahun, ceritanya terlalu berat, membingungkan, dan mengandung elemen yang tidak sesuai usia. Jika ingin mengenalkan sejarah Indonesia kepada anak/remaja, lebih baik mulai dari buku ringkasan atau film sejarah yang lebih ringan terlebih dahulu.

This content is restricted!

Bantu kami mengulas konten yang pernah Mama tonton. Login di sini.

Community Rating

blank
blank
blank
blank
blank